16 November 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Hijrah Menuju Masyarakat Madani

...

  • PORTALSATU
  • 11 September 2018 21:00 WIB

ilustrasi. Foto via republika
ilustrasi. Foto via republika

Oleh Taufik Sentana*

Adalah sunatullah yang menjadikan waktu-waktu bergulir menjadi pertanda bagi peralihan energi, fokus dan ingatan kita. Ketiga hal itu bisa berskala personal, sosial dan historis serta seiring dengan dorongan iman dan sikap penyembahan.

Cobalah kita rilis ke beberapa bulan lalu, sebelum Ramadhan, kita melalui Rajab dan Sya'ban, yang memiliki keistimewaan tersendiri. Bila Rajab-Sya'ban bulan Allah dan Rasul-Nya, maka Ramadhan adalah bulan umat Muhammad SAW. Selepas itu ada Syawal yang menjadi puncak simbol kefitrian, yang secara harfiah "syawal" bermakna peningkatan.

Lalu ada Zulqa'dah, semacam jeda ruhiyah dan fisikal, untuk menimbang dan menguatkan diri menuju kunjungan (berhaji) ke Baitullah. Di bulan haji, fokus kita seakan ditujukan untuk semangat "Satu Sembahan dan Satu Persaudaraan". Yang tidak berhaji, ia bisa mengamallkan ritus berkurban di kampung halaman sebagai pembangkit semangat sosial.

Hingga tibalah Muharram yang disepakati sebagai tonggak penanggalan dalam agama Islam, sebagai pembeda dari agama lainnya. Dari sistem penanggalan ini, tampak bagi kita bahwa Islam tidak datang untuk mengultuskan sosok Rasul Muhammad, tetapi lebih mengarah pada peran Beliau sebagai Nabi dan usahanya dalam menyatukan dan membangun umat (dalam hal peran sosial-politiknya, Muhammad SAW mendapatkan perhatian khusus oleh peneliti barat, selain peran ekonomi dan religi).

Tekanan yang berbuah rahmat

Dalam fase sebelum hijrah Nabi ke Madinah, banyak sekali tekanan psikis dan fisik yang dialami Nabi Muhammad dan pengikut awalnya. Dari penghinaan, ancaman, penyiksaan dan bahkan makar untuk membunuhnya. Masih teringat di benak kita penggalan kisah, saat tubuhnya dilumuri tahi onta saat sujud di dekat Ka'bah, bagaimana ia dilempari batu, bagaimana bilal disiksa. Bagaimana Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya diasingkan (diboikot) hingga tiga tahun lamanya, yang akhirnya terusir, dan alangkah sedih meninggalkan kota Mekkah yang ia cintai beserta semua harapan terbaiknya untuk umat. Sementara itu sudah ada juga sebagian sahabat yang mesti hijrah lebih awal ke Habsyah, Etiopia, meninggalkan keluarga dan Nabi mereka untuk kepentingan dakwah dan keselamatan diri.

Semua tekanan itu terbayarkan saat 8 tahun setelah Nabi Hijrah ke Madinah, ia kembali ke Mekkah dengan maksud membebaskan kotanya dari kesyirikan, ketidakadilan dan penyimpangan sosial. Dengan 10.000 tentara yang Nabi bawa, saat semua warga Mekkah dan pembesar-pembesarnya ketakutan akan pembalasan yang akan diterima, Nabi kita hanya mengucapkan "antumuth-thalaqa, kalian semua dibebaskan", tanpa ada setetes darahpun tumpah, hingga bertambahlah simpati mereka terhadap Islam. Itulah wajah "rahmah" yang dibawa sang Nabi setelah rangkaian tekanan berat di Mekkah dan capaian kepemimpinannya di Madinah.

Pilar madani

Dalam waktu yang singkat Nabi Muhammad SAW berhasil membawa peradaban umat akhir zaman, yang sudah di tepi kehancurannya menuju masyarakat berkeadaban di bawah panji Risalah Kenabian. Semua konsensus kemanusiaan tentang hak, keadilan, kesejahteraan dan kebudayaan tinggi telah dilampaui oleh jejak sang Nabi kita yang jiwanya selalu memenuhi generasi sahabat.

Dari tangan mereka terhubunglah semua capaian yang dicapai oleh masyarakat modern kini. Apa yang dikenal dengan masyarakat sipil, tidaklah lebih utama daripada prinsip madani yang dibangun Nabi Muhammad dalam periode Madinahnya. Prinsip madani yang menginspirasi Alfarabi dengan "Madinah Fadhilah" (kota utama) dalam menyintesis prinsip negara era Yunani. Dan menjadikan prinsip madani sebagai bentuk tatanan masyarakat yang ideal sebagaimana diterapkan Nabi Muhammad SAW.

Bila masyarakat sipil (civil society) mengedepankan peran aktif anggota masyarakat, terbuka dan egaliter, maka masyarakat madani menjadikan keyakinan ilahiyah sebagai penggerak interaksi antaranggota dan energi dalam usaha-usaha pembangunan masyarakat yang berorientasi mencapai keadaban dan peradaban yang "selamat" di alam akhir (pakar barat menyebutnya hyper universe).

Jadi, tak cukup hanya menjadi warga negara yang baik tanpa orientasi ilahi yang melandasinya. Inilah yang menjadi pilar utama dalam struktur masyarakat madani.

Sedangkan pilar lainnya antara lain: Pertama, ikatan sosial dan solidaritas. Ini identik dengan usulan Ibnu Khaldun. Suatu ikatan (keyakinan agama) yang disepakati sebagai seperangkat tata sosial di bawah pengawasan pemerintah. Kelemahan dalam tatanan ini akan menyebabkan keruntuhan suatu masyarakat. Keruntuhan itu bermula ketika sistem lain diadopsi (diyakini) oleh masyarakat setempat sehingga banyak memunculkan kegamangan sosiogis, identitas yang rancu dan konflik. Menurut Ibnu Khaldun, tatanan masyarakat kuat akan selalu diikuti oleh tatanan masyarakat yang lemah.

Kedua, pilar tawazun, kesetimbangan. Yaitu sejalan dengan prinsip kesetaraan hak dan penyelarasan kewajiban. Percepatan masyarakat di bidang ekonomi dan teknologi, misalnya selalu diiringi oleh sikap spiritual dan moralitas  dalam layanan instansi pemerintah sebagai bagian dari kontrol masyarakat.

Ketiga, tafahum. Pilar ini secara formal dibangun dalam kerangka pendidikan formal di keluarga dan sekolah. Dari sikap ini akan muncul rasa empati, rasa sosial yang tinggi, saling memahami dan mengerti serta tidak terjebak dalam hasutan, dengki dan dendam. Dari sikap ini pula diharapkan berkembang masyarakat pembelajar, yang terus aktif dalam mengembangkan diri dan memperbaiki masyarakat.

Beberapa poin pilar tersebut pernah diusulkan oleh Buya Hamka dalam beberapa catatan beliau. Sedangkan masyarakat madani secara akademis, dalam catatan wikipedia digagas oleh Anwar Ibrahim (Malaysia).

Demikianlah beberapa catatan penulis tentang memaknai hijrah sebagai langkah meniru sirah kenabian Muhammad,  yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat berdasarkan nilai-nilai transendental.[]

*Taufik Sentana
Peminat kajian sosial, budaya dan pendidikan. Guru di MTs Harapan Bangsa dan Tim Mutu untuk  SMPIT Teuku Umar Meulaboh.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.