01 June 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Hikayat Investasi dan Kisah Para Pengumpul Rente di Aceh

...

  • MUDIN PASE
  • 19 May 2020 09:12 WIB

ilustrasi pemberu rente @watyuting
ilustrasi pemberu rente @watyuting

Ini hikayat Aceh memburu investasi, siapa pun rezim yang berkuasa di bumi Iskandar Muda ini punya cerita gagal. Kisah para pengumpul rente di sekitar kekuasaan menjadi salah satu penyebabnya.

Peristiwa angkat sauh Trans Continent dari Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong, Aceh Besar, bukan kasus pertama kegagalan investasi di Aceh. Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah hanya melanjutkan “tradisi" dari rezim ke rezim yang tidak pro pada dunia bisnis. Bahkan rezim sebelumnya ada yang lebih parah. Saya akan menulis satu per satu sesuai ingatan saya. Dan sebatas yang saya ingat.

Pertama rezim Mustafa Abubakar. Beliau mengajak Dublin Port Irlandia untuk mengelola Freeport Sabang, sangat serius tapi kemudian menguap begitu saja alias gagal.

Kedua rezim Irwandi-Nazar (Irna) ada eksploitasi Blok Migas Alue Siwah oleh Medco. Pemerintah Aceh/Pemkab Aceh Timur gagal mendapat Participating Interest (PI) alias saham partisipasi. Padahal itu amanah UU Migas dan UU Otonomi Aceh 2001. Saya duga ada permainan di balik ini.

Kemudian hibah turbin listrik Arun 2007. Dalam perjanjian hibah apabila sampai 7 tahun tidak dimanfaatkan akan diambil kembali oleh pusat. Ini juga gagal dimanfaatkan walau telah ada investor. Penyebanya tarik menarik kepentingan di lingkaran Irwandi sampai dia kalah di Pilkada 2012.

Ketiga rezim Zaini-Muzakkir (Zikir), ini rezim yang paling parah. Dan dengan jelas bromocorahnya keluarga dekat gubernur. Turbin listrik hibah masa rezim Irna juga gagal. Wagub bahkan sudah agrement dengan investor. Biaya pemanfaatan ditanggung investor dengan bagi saham Aceh 49, investor 51. Aceh tak keluar satu rupiah pun. Tapi dibatalkan gubernur atas gesekan orang dalam. Tahun 2015 sesuai perjanjian hibah genset ini diambil kembali dan kini diurus anak usaha PLN.

Yang paling parah eks PT Arun yang diubah Arun Perta Arun Gas (PAG). Pusat sudah memutuskan saham partisiapasi Aceh adalah 30 persen, nilainya sekitar Rp 1 triliun, sudah ada investor Grup Ibrahim Risyad, pembagian sama seperti turbin, tapi juga gagal karena dihasut keluarga. Sampai kini tak jelas. Dan PAG sudah bervaluasi berlipat lipat. Aceh tetap raheung bak reudok.

Setelah itu ada Blok Migas Pase. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menghibah untuk Aceh. Awalnya gubernur tidak setuju dikelola Triangle Pase. Ini perusahaan tidak kredibel asal Australia. Tapi akhirmya mereka masuk via keluarga. Usai disetujui mereka kelola. Ternyata tidak mereka kelola, tapi mereka jual kembali konsensi itu ke swasta nasional. Aceh tak dapat apapun dari proses alih konsensi itu.

Keempat rezim Irwandi-Nova. Ada Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun dengan segala promosi yang luar biasa. KEK Arun ada PT Patna jadi tempat Irwandi bagi bagi jabatan buat keluarga dan kroninya. Sampai kini tahunya menghabiskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) untuk gaji dan operasional. Awalnya dikatakan menampung puluhan ribu tenaga kerja, tapi sampai kini alas hak lahan masih belum dikuasai.

Kelima rezim tunggal Nova. Pada tahun 2018 konsensi Exxon Mobil Oil Indonesia (EMOI) berakhir. Seharusnya untuk perpanjangan konsensi ada saham partisipasi Aceh. Nova malah buat sensasi mengambil Blok Migas di Pase ini. Sampai dua kali perpanjangan konsensi untuk Pertamina Hulu Energi. Jangankan ambil blok, saham seperak pun tak jelas.

Nova juga agreement sampai ke China untuk membangun pabrik semen Laweung. Padahal izin dan kepemilikan pabrik itu milik Semen Indonesia Group. Entah bagaimana dia mau bawa investor lain. Itupun sampai kini tak ada kabar. Selanjutnya, KIA Ladong yang begitu dibanggakan Nova, hari ini kita sudah tahu ceritanya bagaimana.

Kesimpulan saya cuma satu saja. Seluruh pemimpin yang saya tulis di atas. Cuma tahu habiskan uang rakyat, tak pandai cari uang, hanya pandai mengumpul rente yang haram dan haram.[**]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.