25 September 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Hutan untuk Listrik

...

  • PORTALSATU
  • 28 August 2017 23:50 WIB

Ilustrasi pembangkit listrik tenaga mikrohidro
Ilustrasi pembangkit listrik tenaga mikrohidro

Oleh Azhar*

Hutan Indonesia memiliki beragam fungsi. Selama ini, seperti yang lazim kita kenal, hutan berfungsi sebagai pelindung, menyimpan air dan membentuk iklim mikro dan penyerap karbon. Bagi masyarakat yang menetap di sekitarnya, hutan belum begitu penting. Selama ini, manfaat terbesarnya hanya dinikmati oleh segelintir pihak saja, sebut saja pengusaha sawit, pengelola hutan tanaman, sektor pertambangan dan sektor industri lainnya.

Kekayaan alam melimpah ini belum mampu memberikan manfaat besar bagi masyarakat yang bergantung hidup dari hasil hutan. Kebanyakan mereka yang tinggal di sekitar hutan tergolong penduduk miskin di wilayah terpencil (remote area). Saat ini, mereka mendiami kawasan hutan yang tersebar di 2.805 desa di seluruh Indonesia (Dr Hady Daryanto. 2011).

Kemiskinan di wilayah ini juga erat dengan ketiadaan listrik. Rasio elektrifikasi Indonesia mencapai 66 persen pada 2009. Apabila dikaitkan dengan angka kemiskinan di Indonesia, maka rasio elektrifikasi dapat dikatakan berbanding terbalik dengan angka kemiskinan, artinya, saat rasio elektrifikasi meningkat, angka kemiskinan menurun (Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, ESDM, 2009)

Energi Listrik untuk Desa

Saat ini terdapat 10.211 desa gelap gulita saat malam hari. Desa-desa tersebut sampai hari ini belum mendapatkan pasokan listrik dari PT Perusahaan Listrik Negara sebagai pemegang monopoli listrik di Indonesia. Jumlah itu kurang lebih 13 persen dari total seluruh desa di Indonesia yang mencapai 72 ribu lebih desa atau kelurahan hingga akhir 2012. Terdapat lebih dari 10 ribu desa yang sampai saat ini belum teraliri listrik. Dari 10.211 desa yang belum mendapat tersebut, sebanyak 401 desa berada di Jawa-Bali. Ada dua faktor penyebab desa belum teraliri listrik , pertama karena lokasi desa terpencar-pencar hingga ke pelosok dan kedua adalah faktor minimnya dana PLN untuk menambah infrastruktur (PLN. 2013).

Salah satu hasil manfaat hutan yang berdampak langsung adalah sungai. Dengan memanfaatkan arus deras dan melalui sentuhan khusus, arus tersebut dan menimbulkan daya energi untuk listrik. Mungkin ini dapat menjadi jawaban terhadap pentingnya fungsi secara langsung dalam skala kecil disebut dengan pembangkit listrik tenaga mikro hydro atau PLTMH.

Jika di 10.211 desa itu dikembangkan listrik model ini, maka seluruh desa di Indonesia akan terang dan tentu akan memajukan ekonomi pedesaan. Listrik akan mendorong pemerataan ekonomi serta peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia. Dia juga menjadi pendorong berkembangnya dunia pendidikan di pedesaan. Masyarakat dan anak-anak dapat belajar di malam harinya serta mendapatkan informasi yang layak.

Sisi Lain Mikro Hydro

Pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) adalah pembangkit listrik berskala kecil-kurang dari  200  kW--yang  memanfaatkan tenaga (aliran) air sebagai sumber penghasil energi. PLTMH termasuk sumber energi terbarukan dan layak disebut clean energy  (energi bersih) karena ramah lingkungan. Dari sisi teknis, konstruksi PLTMH lebih sederhana, mudah dioperasikan, serta mudah perawatan dan penyediaan suku cadang. Ongkos pengelolaan PLTMH juga lebih murah.

Di sisi sosial, PLTMH mudah diterima masyarakat luas. PLTMH biasa di daerah-daerah terpencil yang belum mendapatkan listrik dari sumber konvensional. Tenaga air yang digunakan dapat berupa aliran air pada sistem irigasi, sungai yang dibendung atau air terjun (Anya P. Damastuti. 1997)

Walau Indonesia memiliki potensi besar cadangan energi baru dan terbarukan tetapi pemanfaatan dan realisasi “mimpi surplus energi” masih belum maksimal. Berdasarkan data Kementerian ESDM, kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga air baik skala besar/kecil baru mencapai 4.200 MW atau sekitar 5,5 persen dari total potensi yang ada. Sementara untuk skala mini/mikro, diperkirakan mencapai 215 MW atau sekitar 37,5 persen dari total potensi. Sasaran dan upaya yang perlu dilaksanakan menuju pencapaian kontribusi mikro hidro dalam penyediaan energi nasional pada 2025.

Mikrohidro merupakan satu mekanisme dari pengembangan Skema Jasa Lingkungan Air (PES). Mikrohidro tidak hanya dilihat dari sisi pembangunan energi, tetapi juga bisa dilihat dari sisi skema PES tersebut dan bagaimana mikrohidro dapat memberikan nilai tambah bagi kegiatan konservasi. Pengembangan mikrohidro dapat mengurangi nilai emisi Co2 yang dapat dihindarkan dari daya yang ditimbulkan.

Program pelistrikan pedesaan melalui pengembangan PLTMH dapat menjadi jawaban krisis listrik di Indonesia. Keuntungan lain dari pengembangan PLTMH adalah keberlangsungan hutan dengan kegiatan konservasi. Masyarakat yang menggunakan PLTMH diharapkan dapat memahami manfaat keberadaan hutan sebagai daerah tangkapan air (catchment area). Dengan demikian, masyarakat juga tergerak untuk menjaga kelestarian hutan dan berbagai usaha konservasi lain tanpa merusak keanekaragaman hayati di sekitar hutan.

PLTMH adalah sarana untuk mengembangkan kemampuan masyarakat dalam memperbaiki kualitas sosial budaya desa. Hal lain dari PLTMH, bukan hanya sebuah pembangkit energi listrik, di mana pembangunan PLTMH lebih bersifat gotong royong di desa dan mengedepankan nilai sosial budaya Indonesia. PLTMH merupakan jawaban atas pemanfaatan hutan dan kebutuhan listrik, kegiatan ini akan berdampak langsung bagi kemajuan masyarakat di pedalaman Indonesia. Dengan kata lain, pengembangan mikrohidro merupakan pemerataan pembangunan di pedesaan dan merupakan suatu alat manajemen pengelolaan hutan yang tepat sasaran.[]

*) Penulis adalah pemerhati lingkungan. Menetap di Banda Aceh

Editor: IHAN NURDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.