13 July 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia

Opini
Irwandi-Nova: Kisah Cinta Semusim

...

  • MUDIN PASE
  • 14 February 2020 10:30 WIB

Arsip. Irwandi Yusuf dan Nova. Iriansyah. Foto dok portalsatu
Arsip. Irwandi Yusuf dan Nova. Iriansyah. Foto dok portalsatu

Usai sudah proses hukum Irwandi Yusuf. Jika pun menempuh peninjauan kembali (PK) maka butuh novum. Ini lebih sulit dari proses sebelumnya. Dan sebentar lagi Nova Iriansyah menjadi Gubernur Aceh.

Ada yang menarik dari perjalanan pasangan pemenang Pilkada 2017 ini. Mereka kawin sangat dekat dengan kontes pilkada. Awalnya Irwandi bahkan ingin maju melalui independen.

Demokratlah menjadi tulang punggung pasangan ini. Di antara koalisi itu, Demokrat pemilik kursi terbanyak. Mereka pun memenangkan pilkada. Banyak orang menganggap Irwandilah faktor utama terpilihnya pasangan ini. Namun, jangan lupa bahwa andil terbesar untuk menjadi kandidat pasangan ini adalah milik Demokrat. Jadi, elektoral milik Irwandi. Modal legal punya Nova (Demokrat). 

Dalam perjalanan kekuasaan mereka selama setahun. Sebelum Irwandi terjaring KPK. Kesan yang muncul ke publik, Nova terpinggirkan. Bahkan pada mutasi pejabat Irwandi minim meminta pendapat Nova. Sepertinya perjalanan pasangan ini Irwandi one man show.

Setelah OTT Irwandi, Nova menjadi Plt. Gubernur. Badai kemudian menerpa koalisi ini. Hanya beberapa saat menjadi Plt. Gubernur, Nova tampak mulai menggusur orang-orang Irwandi. Terutama di jabatan ad hoc seperti penasihat khusus dan lain-lain. Nova mulai meninggalkan gerbong. Dia juga terkesan mengabaikan para relawan dan timses pasangan ini. Hanya beberapa yang sukses bermanuver. Dan selamat. Selebihnya tokoh-tokoh utama timses pasangan ini dibelakangi.

Hari-hari sekarang, cerita Nova meninggalkan perahu tidak lagi samar. Boleh jadi ini adalah pola politik termurah. Membangun koalisi baru dengan parpol yang berseberangan di pilkada lalu. Tentu tidak tabu dalam politik. Di tingkat nasional juga terjadi. Bedanya, Jokowi merangkul lawan tanpa meninggalkan kawan.

Bagi Nova, koalisi baru jelas lebih ringan dari beban. Jika terus bersama Irwandi, dia bakal banyak utang. Utang budi dan materi pada tim yang membantu pemenangan dahulu. Dengan kawan baru tentu bebannya tidaklah terlalu besar. Konsensi-konsensi politik jelas lebih murah. Tidak ada beban masa lalu. Para teman barupun tidak akan menuntut terlalu besar. Sudah terakomodir dalam kekuasaan. Sudah sebuah mukjizat. Namanya politikus atau partai politik, ya, orientasinya kekuasaan. Wajar saja. Tidak ada patron yang mereka langgar dengan berkoalisi.

Etika politik tentu berbeda dengan etika moral. Dalam politik tidak ada kawan dan lawan abadi. Hanya kepentingan politiklah yang abadi. Dan ini real terlihat pada langkah Nova kini. Kawan koalisi lama pun kini cari kawan baru. Mereka juga pernah berbeda. Di legislatif Aceh mereka menang. Dan dua kubu ini akan bermanuver sesuai keinginan masing-masing.

Agak mengherankan memang langkah Nova. Secara etis tak patutlah dia membuang koalisi pengusungnya. Walau sah-sah saja mencari kawan baru. Adakah langkah Nova dengan perhitungan cermat? Pasalnya, sebagai politikus yang matang dia tentu sudah menghitung langkahnya. 

Kemyataannya publik terkesan negatif. Ini terlihat pada tanggapan publik di medsos. Ketika Irwandi berkuasa. Medsos terbelah, antara anti dan pro hampir berimbang. Namun kini pertentangan ini nyaris tidak ada. Pemilik medsos berafiliasi membela Nova kebanyakan bersifat kepentingan. Artinya, mereka punya status dalam kekuasaan. Atau jelas karena afiliasi parpol mereka. Hampir tidak terlihat pembelaan sporadis kalangan mengembang. Ini jelas tidak baik bagi Nova dan publik Aceh. Rendahnya trust pada pemerintah akan berimplikasi luas.

Gunjang ganjing politik Aceh. Terutama pascadamai memang bukan tontonan baru. Pilkada 2006, Irwandi menyempal dan menang. Pilkada 2012, setelah dilantik, Abu Doto dan Mualem pecah kongsi. Hal sama kini terjadi. Adakah ini karma politik Aceh? Dan Irwandi kini ditinggal kawan seiring. Sepertinya dia pernah melakukan di masa lalu.

Jika begini alurnya. Publik tidak usah berharap banyak. Siapapun penguasanya rakyat sekadar objek. Bagi mereka, rakyat cuma bahan jualan. Tidak lebih.[]

* Penulis adalah jurnalis portalsatu.com.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.