16 July 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Isra' dan Mi'raj Takkan Terjangkau oleh Teknologi Cahaya

...

  • portalsatu.com
  • 25 March 2019 13:30 WIB

Taufik Sentana

Dari Ikatan Dai Indonesia Kab. Aceh Barat

Ada sekitar 16 sahabat nabi Muhammad (SAW) yang meriwayatkan kejadian Isra' dan Mi'raj. Diantaranya adalah, Umar, Ibnu Umar, Ibnu Masud dan Anas bin Malik (Allah Meridhai Mereka). Secara sederhana, kata Isra' dan Mi'raj bermakana " Allah Memperjalankan Nabi Muhammad dan Menaikkannya ke Sidratil Muntaha". Perlajanan itu dimulai dari Makkah ke Palestina, selepas Isya lalu menuju ke ujung langit yang paling tinggi (menembus tujuh lapisan langit) dan kembali menjelang subuh. Begitu cepat, begitu dahsat dan begitu banyak ibrah atau hikmah dari perlajalanan tersebut.

Disebutkan bahwa Buraq merupakan kendaraan khusus yang digunakan Nabi saat Isra' dan Mi'rajnya. "Didatangkan kepadaku Buraq –yakni seekor tunggangan berwarna putih, tinggi, lebih tinggi dari keledai dan lebih pendek dari bighal, ia meletakkan langkahnya sejauh pandangannya,” sabda Nabi Muhammad SAW dalam riwayat Imam Muslim dari Anas bin Malik. 

Kalimat  "langkahnya sejauh mata memandang" sebagai kecepatan (awal ) dari Buraq tadi, yaitu dimana pandangan terhenti disitulah ia berada. Maka wajar sebagian ulama menyebutkan Buraq seakar dari kata kilat (al-barqu) atau cahaya yang melesat.

Walaupun demikian, kita tidak sedang menghitung seberapa cepat dan bagaimana kondisi Nabi kita saat mengendari Buraq tersebut. Namun poinnya adalah bahwa kejadian Isra'-Mi'raj merupakan bagian dari mu'jizat yang diberikan Allah kepada NabiNya Muhammad SAW. Artinya mu'jizat tersebut mutlak diimani dan umumnya dihadirkan sebagai bukti atas kenabian sekaligus ujian keimanan bagi umatnya.

Dalam maksud ini maka kejadian luar biasa (supranatural) yang dialami Nabi Muhammad SAW merupakan indikasi keimanan atas kenabian Beliau. Sebagaimana kewajiban ibadah shalat yang diterima dalam kejadian ini menjadi pembeda atas kaum yang mengingkari
Kerasulan Muhammad SAW. Lalu shalatpun menjadi medium "mi'raj" bagi yang mukmin.

Kemudian bila kita rilis ke belakang, sebelum Isra' dan Mi'raj, Nabi kita Muhammad SAW, selama tiga tahun (hingga 10 kenabian) berada dalam masa kesedihan. Terutama karena diboikot (embargo) oleh pembesar dan kaum makkah, dilarang bertransaksi dsb, yang dalam masa ini wafat pula Khadijah dan Abu Thalib. Maka tentulah sangat memberatkan Nabi. Sehingga dengan Isra' Mi'raj ini Allah Ingin Menunjukkan kebesaran-Nya dan menghibur Nabi dengan memberikan perspektif (harapan) yang lebih luas dan bermakna tentang kehidupan dunia serta  rahasia di baliknya.

 Sungguh, kejadian Isra' Mi'raj ini tidak akan pernah dapat dikalkulasi secara teknologi, walaupun kita sudah dapat menghitung kecepatan cahaya, menggunakan laser, dan memanfaatkan sinar matahari sebagai energi. Sebab, kejadian tersebut diberi sandi/dikunci sebagai  mu'jizat !, kita hanya bisa mengambil ibrah dan hikmahnya: ibrah dan hikmah inipun Pemberian Allah jua. Wallahu A'lam.[]

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.