19 August 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


‘Itqun Minan Naar di Sepertiga Malam Terakhir Ramadhan

...

  • PORTALSATU
  • 06 June 2018 22:30 WIB

Dr. Fauzi, M.Kom.I. @dok. pribadi
Dr. Fauzi, M.Kom.I. @dok. pribadi

Oleh: Dr. Fauzi, M.Kom.I*

Perjuangan dalam mengendalikan diri melalui puasa di bulan Ramadhan telah memasuki 10 malam terakhir. Artinya rahmat dan pengampunan Allah telah diraih oleh hamba yang berpuasa dengan penuh keimanan dan ihtisab sejak hari pertama hingga hari ke-20 puasa. Ibarat sebuah pertandingan, mulai hari ke-21 Ramadhan ini umat Islam telah memasuki babak final dengan imbalan paling tinggi yaitu pembebasan dari ancaman belenggu api neraka (‘itqun minan naar). Dengan kata lain, babak final ini merupakan pelatihan Ramadhan yang sangat menentukan. Jika seseorang mampu bertahan dan bahkan meningkatkan kualitas ibadahnya, maka sudah sepantasnyalah bagi orang tersebut mendapat jaminan terbebas dari ancaman api neraka. Namun untuk meraih jaminan itu tentu saja memerlukan usaha optimal.

Makna ‘itqun minan naar adalah satu prestasi atau capaian seorang hamba yang telah melalui proses merengkuh rahmat (kasih sayang) Allah Swt., pada 10 hari pertama dan menggapai maghfirah (ampunan)-Nya selama 10 hari kedua. Akan tetapi, terbebas dari belenggu api neraka tidak dapat dicapai dengan cara singkat dan tiba-tiba. Ia harus diteliti, dirajut, dan dipintal sejak awal Ramadhan. Satu konsekuensi yang logis dan balasan yang setimpal bagi siapa saja yang semula telah bersedia secara ikhlas menghidupkan Ramadhan dengan amal ibadah, baik ritual maupun sosial. Sebagaiamana Hadis Rasulullah Saw., “Rasulullah saw. sangat giat beribadah di bulan Ramadhan melebihi ibadahnya di bulan yang lain, dan pada sepuluh malam terakhirnya beliau lebih giat lagi melebihi hari lainnya. (HR. Muslim).

Untuk melihat upaya yang telah dilakukan dalam meraih jaminan ‘itqun minan naar, didasarkan pada indikasi 10 malam pertama Ramadhan. Pada fase ini Allah Swt., memberikan rahmat dan limpahan pahala dari berbagai amalan yang dilakukan selama puasa. Fase ini merupakan fase terberat dan tersulit, karena merupakan peralihan kebiasaan dimana tubuh dan pikiran melakukan adaptasi atau penyesuaian dengan penuh kesabaran dan keikhlasan untuk dapat menunaikannya. Karena itu Allah Swt., membukakan pintu rahmat yang sebesar-besarnya bagi hamba-Nya yang telah sabar dan ikhlas menunaikan puasa dengan penuh keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Terlebih lagi di bulan Ramadhan ini segala amal ibadah manusia dicatat dan dilipatgandakan oleh Allah Swt., serta mendapatkan syafaat jika seseorang beribadah dengan ikhlas dan hanya mengharapkan rida Allah Swt., sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasul Saw., “Puasa dan Alquran itu akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti. Puasa akan berkata, ‘Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat, karenanya perkenankan aku untuk memberikan syafaat kepadanya’. Dan Alquran pula berkata, ‘Saya telah melarangnya dari tidur pada malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafaat kepadanya’. Beliau bersabda, ‘Maka syafaat keduanya diperkenankan’”. (HR. Ahmad, Hakim, Thabrani).

Sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan adalah masa-masa emas untuk mendulang pahala dan ampunan Allah Swt. Dalam 10 hari terakhir bulan Ramadhan-lah ada perintah untuk lebih bersungguh-sungguh dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt. Meski Nabi Muhammad Saw., tidak menyinggung secara tegas tentang kapan persisnya malam lailatul qadar terjadi, tetapi bila diamati dan ditelisik dari kebiasaan Nabi Saw., yang meningkatkan intensitas ibadah pada 10 hari terakhir, hal ini menjadi indikator yang kuat bahwa malam seribu bulan itu terjadi pada 10 hari terakhir. Rasulullah Saw., memberikan penegasan dalam hadis, “Carilah malam lailatul qadar pada malam ganjil sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari). Peningkatan intensitas ibadah yang dilakukan oleh Rasulullah Saw., di akhir Ramadhan sebagaimana penjelasan hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Kebiasaan Rasulullah Saw jika telah datang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan adalah beliau menghidupkan waktu malam (dengan ibadah), membangunkan keluarga (istri-istrinya), bersungguh-sungguh dalam beribadah dan mengencangkan sarungnya”. (HR. Bukhari dan Muslim). Dan mestinya pada 10 hari terkahir, setiap Muslim lebih meningkatkan intensitas ibadahnya sebagaimana dicontohkan Nabi Saw. Di antaranya, meramaikan tempat-tempat ibadah dengan berbagai amalan. Ramainya tempat-tempat ibadah ini merupakan bagian dari syiar agama yang sangat dianjurkan Allah Swt., dan bagian dari tanda-tanda ketakwaan. Dijelaskan dalam Alquran, “Demikianlah (perintah Allah). Dan Barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati”. (QS. Al-Hajj: 32).

Maka dalam hal ini, pemahaman terhadap syariat dan pesan agama mutlak diperlukan dalam rangka mencapai pengamalan ajaran agama yang baik dan benar. Diperlukan manajemen ibadah Ramadhan, dengan cara (planning), merencanakan sejak awal Ramadhan, niatkan diri, tetapkan hati untuk mengejar target menggapai lailatul qadar, kemudian melaksanakannya secara konsisten sesuai dengan target, hingga akhirnya mengoreksi dan menilai mana target yang tercapai dan tidak tercapai, sehingga paling tidak ada usaha ke arah target kembali suci (fitrah) daripada kita melalui Ramadhan tak ubahnya seperti bulan biasa. 

Karena itu, bulan Ramadhan ini seharusnya dijadikan sebagai momentum untuk melakukan perubahan. Karena inti dari ajaran agama ini adalah perubahan. Dari yang tidak baik menjadi baik, dari yang salah menjadi benar, dari marah menjadi sabar, dari dusta menjadi jujur, dari dengki menjadi sayang, dari malas menjadi rajin, dan seterusnya. Perubahan ini dapat terjadi jika ada kesadaran untuk melakukan perubahan yang lahir dari hasil introspeksi diri (muhasabah).

Dengan demikian, adanya janji Allah berupa terbebas dari siksa api neraka (‘itqun minan naar) bagi hamba-Nya yang telah menunjukkan kesungguhan hati dan perbuatan dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan ini. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi, “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan ampunan Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya di masa lalu”. (HR. Bukhari).

Dan ini adalah momentum yang sangat penting dan betul-betul sangat rugi bila dilewatkan begitu saja. Karena, tidak ada satupun yang tahu apakah Allah Swt., masih akan memberikan kesempatan untuk bisa bertemu dengan bulan Ramadhan di tahun-tahun yang akan datang. Semoga kita termasuk  dalam golongan hamba-Nya yang dapat menggapai prestasi Idul Fitri (kembali kepada kesucian).[] 

*Dr. Fauzi, M.Kom.I., Dosen STIKes Muhammadiyah Lhokseumawe. Email: fauzikalia2017@gmail.com

Editor: portalsatu.com


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.