23 October 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia

Opini
Kebangkitan Aceh Dimulai dari Pariwisata dan Kebudayaan

...

  • PORTALSATU
  • 09 July 2019 15:40 WIB

Foto: dok. Disbudpar Aceh
Foto: dok. Disbudpar Aceh

Oleh Saifullah S*

Hampir puluhan tahun Aceh dicengkeram konflik. Semua lini sektoral di Aceh pun akhirnya mandek, tidak teratur bahkan diambang kejatuhan. Aceh yang lama bergolak, tak mampu bangkit untuk kembali meraih keagungan yang pernah "menaunginya" sejak masa kesultanan pertama Sultan Ali Mughayat Syah hingga yang paling gemilang saat Yang Mulia Paduka Besar Sultan Iskandar Muda.

Padahal, pada masa-masa tersebut tak bisa dipungkiri bahwa Aceh memiliki hampir sebagian besar pengaruh di Asia Tenggara bahkan internasional. Aceh sebagai salah salah daerah yang tak pernah mampu dikuasai oleh penjajahan saat itu sanggup membuktikan bahwa hingga Indonesia merdeka, Aceh masih berdaulat seperti sediakala kesultanan pertama dan Belanda pun tak mampu menaklukkannya. 

Dalam catatan panjang sejarah Aceh, kita bisa melihat pula bagaimana petinggi-petinggi Aceh dulu mengatur daerahnya dari hal kecil hingga hal besar. Bahkan mampu mengembangkan pola dan sistem pendidikan militer, yang pada waktu itu hanya dimiliki Aceh. Belum lagi dengan komitmen Aceh untuk menentang segala imperialism Eropa. 

Saat itu, barangkali hanya di Aceh pula yang memiliki sistem pemerintahan teratur, dan sistematik. Kesultanan ketika itu juga mampu merealisasikan pusat kajian ilmu hingga menjalin hubungan diplomatik dengan negara luar dengan qanun-qanun (aturan) yang ada di Aceh saat itu dan mampu merepresentasikan Aceh di masa depan. Hal itu terbukti pula dengan kerja sama bilateral Aceh dengan beberapa negara seperti Inggris, Belanda, Prancis, dan Turki.

Pascatsunami, 2005 lalu, perjanjian damai Aceh telah berkumandang ke seluruh dunia. Aceh yang pernah terlibat perang saudara puluhan tahun sejak DI/TII dan permberontakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sudah seharusnya kini bangkit dari segala lini. Sebut saja misalnya begitu beragamnya kesenian dan kebudayaan yang ada di Aceh. Kebudayaan tersebut, memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakatnya dan para pelancong yang singgah di Aceh.

Dari segi seni sastra misalnya, Aceh memiliki 80 cerita rakyat mulai dari cerita berbahasa Aceh, Aneuk Jame, Tamiang, Gayo, Alas, Haloban, dan Kluet. Keberagaman tersebutlah yang mestinya harus dijaga bersama-sama agar mampu bertahan dan tidak hilang percuma. Sebab, hanya dengan kebudayaan pula nilai-nilai tawadhu keacehan dapat merasuk ke dalam hati masyarakat dan menjadi penyokong kebangkitan.

Kebudayaan tersebut tak melulu pula hanya sastra belaka. Namun ada pula budaya makan. Seperti diketahui, masyarakat Aceh juga pencinta kuliner yang sangat fanatik. Kuliner-kulinernya yang penuh dan basah dengan bumbu tersebut berasal dari berbagai peristiwa besar yang ada di belakangnya. 

Kuliner-kulinernya yang bergerombol dengan rempah-rempah itu telah pula dikenal oleh para saudagar yang dulu berniaga ke Aceh, baik dari Inggris, Prancis, Turki hingga Belanda. 

Hal itu pula yang saat ini tengah digagas Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh dengan menggelar Festival Kuliner Aceh (Aceh Culinary Festival 2019).

Sebagai stakeholdernya pemerintah, Dispudpar Aceh paham betul bahwa kebudayaan dan pariwisata adalah aset penting Pemerintah Aceh yang telah lama tenggelam. Diyakini, kebangkitan Aceh akan dimulai lagi dari berbagai event yang dihelat oleh Disbudpar tersebut dengan tujuan agar Aceh menjadi pintu masuk bagi sektor pariwisata dan meningkatkan kunjungan masyarakat luar ke Aceh, baik itu dari dalam negeri (nasional), maupun dari luar negeri (internasional).

Jadi, tak mengherankan pula bila akhirnya peningkatan kunjungan wisatawan yang masuk ke Aceh meningkat dari 2,364,383 orang pada tahun 2017, naik ke angka 2,498, 249 orang pada tahun 2018. Adapun rinciannya adalah, wisatawan mancanegara 75,758 ribu dan wisatawan dari Indonesia 2,288,625 ribu tahun 2017. 

Adapun tahun 2018 kunjungan wisatawan mancanegara 106,281 ribu orang dan wisatawan Indonesia 2,391,968 ribu orang. Dengan hitungan tersebut, sadar atau tidak wisatawan yang telah masuk ke Aceh terus meningkat setiap tahunnya. Pada 2018 misalnya, persentasi wisatawan mancanegara naik 2,06 persen daripada tahun sebelumnya. 

Data tersebut tentu saja buka data rekaan penulis. Data ini diambil dari Disbudpar Aceh dan didukung pula oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh. 

Dalam laporannya, Kepala BPS Aceh menyebutkan kunjungan wisatawan mengalami pertumbuhan sekitar 2,06 persen pada tahun 2018. Laporan tersebut tak jauh beda dengan data yang disampaikan Disbudpar Aceh. Artinya, sektor kebudayaan dan pariwisata di Aceh dalam dua tahun belakang berkembang pesat dari tahun ke tahun.

Kedatangan wisatawan ke Aceh juga telah didukung oleh berbagai sarana dan prasarana pendukung seperti penginapan, keamanan, transportasi hingga tampilan paket wisata yang ditawarkan Disbudpar.

Tak saja sarana dan prasarana, Disbudpar juga telah memikirkan secara matang event apa yang hendak ditampilkan kepada publik. Karena itu, Disbudpar tak menunggu lama untuk menghadirkan event Aceh Culinary Festival, 5 hingga 7 Juli 2019 lalu dan mampu meraup Rp4,1 miliar dengan penjualan tertinggi tenan Rp70 juta dan terendah Rp3,5 juta. 

Yang membanggakan, uang sebesar itu didapatkan hanya dalam hitungan tiga hari pelaksanaan kegiatan dengan kunjungan mencapai 62 ribu kunjungan dari para wisatawan dalam dan luar negeri. 

Menariknya lagi, dari 10 Top Event Aceh, Aceh Culinary Festival 2019 masuk dalam 100 of Event Wonderful Indonesia 2019 Kementerian Pariwisata RI yang diluncurkan oleh Menteri Pariwisata, Arief Yahya pada Maret 2019 lalu di Jakarta.

Artinya, Aceh mampu dan sanggup menghelat kegiatan bertaraf internasional dan mendatangkan wisatawan meskipun kegiatan tersebut dilaksanakan di Banda Aceh. Dengan begitu, hadih maja “Buya Gampong Teudong-dong, Buya Tameng Meuraseuki” tak lagi berguna karena Aceh mampu mempekerjakan orang-orangnya sendiri.

Jadi, sindiran Aceh Kuliner Festival Ibarat "toh geuntot lam limbot droe" merupakan opini yg tidak tepat, tidak berdasarkan data dan angka. 

Sebagai catatan, Aceh Culinary Festival 2019 adalah pagelaran tahun ke-6. Tahun ini, acara tersebut dibuka oleh Plt. Sekretaris Daerah Aceh, Helvizar di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Jumat (5/7/2019) malam, dengan menghadirkan 1000 jenis variasi makanan dan minuman khas dari Aceh dan diikuti oleh 23 kabupaten/kota di Aceh.

Sektor perekonomian pun tumbuh. Pedagang kali lima berdesakan, jajanan tumpah ruah dan malam semakin panjang dari biasanya. Tak saja orang luar, masyarakat Aceh juga tumpah ruah saat acara dibuka. Wajah-wajah sumrigah itu bahagia bukan main. 

Jadi, nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan, boy?[]

*Saifullah S adalah warga Blang Baro, Pidie Jaya. Karya tulisnya berbentuk puisi adalah Yusin dan Tenggelamnya Keadilan (2014), Sehelai Daun yang Merindukan Ranting (2016), dan ARAKUNDOE (2018). Buku terbarunya adalah Kumpulan Cerpen, Cerita Para Saksi (segera terbit). Kini tinggal dan bekerja di Jakarta.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.