26 October 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Kedai Kopi dan Konsep Bahagianya Orang Aceh

...

  • portalsatu.com
  • 20 September 2020 13:30 WIB

Oleh: Taufik Sentana*

Kita ambil latar Aceh karena Aceh sebagai salah satu sentra pengahasil kopi yang paling dikenal. Konon, bubuk kopi khas Aceh sudah sampai ke berbagai penjuru dunia.

Dari segi budaya modern,utama setelah Tsunami (karena banyaknya bersinggungan dengan dunia), kopi dan warung kopi di Aceh semakin menjadi simbol budaya pop, bahkan para gadis/perempuan Aceh pun tak lagi sungkan nongkrong di kedai kopi tertentu untuk beragam keperluan.

Tentu gambaran ini akan jauh berbeda dengan saat darurat sipil dan militer dalam beberapa dekade di belakang. Dan faktor sejarah ini juga memengaruhi sikap sosial masyarakat agar lebih merasa terbuka dan aman.

Dari segi konsep bahagia, kita bisa petik dari kisah tentang seorang Kiyai di Jawa yang sering ngasih uang Rp 50.000 atau Rp 100.000 kepada santri dengan maksud agar si santri bisa sekadar happy dan bahagia dengan minum kopi dan duduk bareng teman temannya. 
"Tapi haram ya, tuk bayar hutang", kata Kiyainya. Karena tuk bayar hutang mungkin tidak cukup. Uang itu khusus untuk bisa gembira sambil ngopi agar tetap semangat dalam belajar dan optimis menyikapi takdir Allah.

Bila kembali ke Aceh, mungkin konsep bahagia dan indikasi kebahagiaan masyarakatnya bisa ditinjau dari sudut warung kopi yang terus menjamur. (sekarang lagi trend warung kopi mobile yang berjejer di beberapa ruas jalan).

Sehingga kebahagian ataupun upaya merasakan kebahagian itu mungkin bisa saja dimulai dari kehidupan di warung kopi. Namun tentu belum bisa kita tengarai, apakah ini kebahagian hakiki atau majazi, karena itu berpulang dari sikap dan niat si individu dalam mengadopsi budaya minum kopi: Apakah hanya sekadar latah, atau semacam dorongan hasrat dan semangat atau upaya konsolidasi dan silaturahim dengan beragam wujudnya.

Dalam kultur Aceh yang sarat nuansa Islami dan religi, minum kopi akan sia sia dan menjadi kesenangan kosong bila  dari budaya kopi ini, kita tidak sampai pada pengertian spirituil. Suatu pengertian tentang betapa besarnya nikmat dan pemberian Allah dalam bentuk rasa aman, limpahan air, buah kopi yang tumbuh subur dst.

Bila unsur di bawah tadi kosong, maka kosonglah konsep bahagia sejati yang kita maksud.

Dalam beberap potongan ayat, Allah SWT menyinggung: 
Kamukah yang menjadikan air itu? Kami bisa saja menjadikan air hujan itu asin. Lihatlah pepohanan saat ia berbuah. Engkaukah yang menumbuhkan pohon pohon itu atau Kami yang Melakukannya?.


Begitulah relevansi bahagia sejati, walau terbit dari budaya warung kopi, ia akan semakin khas karena sikap diri yang terkait dengan rasa syukur dan kesadaran tauhid,  untuk bertaqarrub kepadaNya dalam segala bentuk kebaikan dan ketaatan.[]

*Penikmat kopi. Peminat kajian sosial budaya.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.