10 April 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia

OPINI
Kemana Hati Nurani Elite Aceh?

...

  • MUDIN PASE
  • 26 March 2020 11:40 WIB

Ilustrasi Covid-19. (Foto: tudublin.ie)
Ilustrasi Covid-19. (Foto: tudublin.ie)

Pendemi Covid-19 sudah amat mengkhawatirkan. Bukan hanya soal penularan. Namun, juga efek beruntun wabah ini. Yang paling rentan saat ini adalah pekerja medis. Mereka seperti menyongsong maut. Kita ilustrasikan semisal PDP yang baru meninggal. Seorang petinggi salah satu BUMN itu sempat dirawat di sebuah RS dengan standar “sakit biasa”. Jika ternyata yang bersangkutan benar positif corona, apa yang terjadi kini dengan petugas medis yang merawat beberapa hari sebelum PDP.

Namun, sampai kini sepertinya pemerintah di Aceh tampak bergerak sangat lamban sehingga terkesan tak peduli. Belum kita dengar alokasi anggaran buat menyediakan APD standar Covid-19. Apakah pemerintah tuli dan buta?

Pemerintah dalam hal ini adalah eksekutif dan legislatif. Jika untuk penanggulangan wabah masih adem, konon lagi buat menanggulangi efek corona. Semisal efek ekonomi. Sudah jelas sekali bahwa rakyat ekonomi lemah telah berimbas. Tapi belum muncul sekadar pernyataan tentang apa yang akan dilakukan. Tentang bagaimana keberpihakan anggaran. Maka ini memang pemerintah gagal. Untuk sekadar berempati. Membuka wacana bagi memperkecil efek ekonomi.

Yang kita baca atau dengar, langkah pemerintah di Aceh baru pada tataran imbauan. Pencegahan. Apa yang mereka takutkan? Kenapa mereka tidak segera bersepakat mengubah anggaran. Memerhatikan jangan sampai ekonomi benar-benar jatuh. Apakah mereka tidak sadar bahwa yang akan menjadi korban pertama adalah rakyat kecil. Kemana hati nurani mereka, elite Aceh? Mengapa begitu keras hati mereka?  Mengapa otak mereka beku? Mengapa mereka menutup diri? Kemana penasihat mereka yang bergaji besar? Kemana pejabat-pejabat yang sekolah tinggi-tinggi? Mengapa ilmu mereka tak mampu melunakkan hati mereka, agar melihat wabah ini bentuk kesempatan berbuat baik.

Visi Efek Covid 19

 

Gambar di atas jelas menunjukkan pemerintah pusat sudah memilih langkah. Untuk menanggulangi efek ekonomi dari Covid-19. Bukan hanya menanggulangi pandemi. Namun, efek yang lebih besar. Rusaknya penghasilan rakyat.

Daerah seperti Aceh, kaya anggaran, tapi belum juga mengeluarkan paket relaksasi ekonomi. Pemerintah pusat sudah membuat aturan darurat. Tapi gubernur, bupati dan wali kota belum juga merespons.

Dari mana uangnya? Potong 50 persen semua kebutuhan operasional pemerintah. Seperti ATK, SPPD, BBM dan tunjangan jabatan. Tunda semua proyek fisik dan pengadaan. Kecuali untuk menunjang penanggulangan Covid-19. Ubah menjadi proyek padat karya. Adakan operasi pasar kebutuhan pokok bekerja sama dengan Bulog.

Bantuan buat kelompok rentan. Ikuti pola nasional. Lakukan subsidi bahan pokok. Salur melalui pedagang kecil. Misalnya, gula subsidi wajib jual Rp10 ribu/kg. Jual ke mereka Rp9.000. Sehingga mereka juga bisa terus berjualan. Umumkan harga bahan pokok subsidi agar tidak dispekulasi.

Jangan ada aparat berwenang yang jadi “pagar makan tanaman”, seperti “main mata” dengan spekulan. Kali ini, ajak semua aparatur berlaku jujur.

Insya Allah, usai pandemi Covid 19, rakyat tidak apoh apah. Pemimpin jadi lebih dicintai rakyat. Politikus jadi pahlawan. Ayolah, Pak Plt. Gubernur, Pak Bupati, Pak Wali Kota. Insya Allah, Allah ridha, rakyat bahagia![]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.