19 April 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Kenapa Manusia Ingin Terkesan Awet Muda?

...

  • PORTALSATU
  • 02 February 2019 11:00 WIB

Ilustrasi. Foto: istimewa/net
Ilustrasi. Foto: istimewa/net

Oleh Taufik Sentana

Sudah banyak diketahui bahwa manusia merupakan makhluk terbaik yang Allah ciptakan, dari segi komposisinya ataupun tujuannya. Bahkan ada juga yang menganggap bahwa manusia diciptakan dalam rupa Tuhannya dengan batas fitrah dan sesuai kaidah syar'i. Buktinya kita dianjurkan untuk meneladani Asmaul Husna (Nama Nama Allah Yang Baik) dalam keseharian.

Kata manusia juga diyakini berakar dari kata "nasiya", yang bermakna (telah) lupa. Maka dengan dasar ini manusia akan menjadi cenderung lupa, lalai dan melampaui batas. Karena potensi lupa ini, manusia semakin butuh "peringatan dan wasiat" sesering mungkin. Sehingga Rasul-Rasul yang diutuspun sesuai dengan fase dan puak manusia pada masanya.

Dari beberapa literatur dan pengalaman keseharian kita, jamak diketahui bahwa manusia, diwakili para ilmuwan, selalu ingin menemukan formula yang dapat menghambat sel-sel penuaan hingga tubuhnya semakin kuat dan lebih awet. Kemudian, dari gaya hidup kita dan bagaimana kita memperlakukan tubuh kita, semuanya menunjukkan bahwa manusia ingin terus tampak menarik, energik dan tetap awet secara fisik. Dalam hal ini, beberapa laporan tidak membedakan jenis kelamin, keduanya sama-sama ingin tampak awet dan muda terus.

Untuk usaha itu, banyak cara yang ditempuh oleh manusia. Di antaranya dengan serangkaian diet yang berbasis ilmiah, mengelola hidup secara alamiah dan natural serta mengembangkan sikap spiritualitas-holistik. Semua itu dapat dibenarkan selama tidak menimbulkan kesyirikan dan kerusakan diri/melampaui batas.

Hanya, sebagaimana poin di atas tadi, bahwa manusia membawa potensi lupa (bahkan ingkar) dalam dirinya,  sehingga ia menyangka dan seakan meyakini bahwa akan mencapai abadi (bukan sekadar awet) di dunia. Sebagian lagi menganggap bahwa hanya waktu yang membinasakan mereka (mengingkari hari berbangkit kelak). Padahal keawetan dan keabadian tidak akan sejalan dengan sifat dunia yang fana.

Munculnya dorongan eksistensial yang cenderung menyukai akan hal yang bersifat awet, kuat, lestari dan abadi, menjadi penanda bagi kita bahwa kita berasal dari Ia Yang Meniupkan dan Menitipkan eksistensi ruh dari Diri-Nya hingga terkondisi dalam perkembangan fisik kita dengan jalan fujur (nafsu buruk) atau ketakwaan. 

Maka akal yang dianggap bagian dari eksistensi (manusia) mesti selaras dengan wahyu, sebab akal (kemampuan kognisi) sangat terbatas dalam memahami seluk beluk keabadian. Dengan demikian kita akan mendapat gambaran proses "menjadi abadi"  dengan perspektif yang tepat: Baik dengan diet herbal, formula medis atau jalan spiritual dengan menyucikan jiwa dalam ketaatan.[]

*Taufik Sentana

Sangat interes terhadap kajian Filsafat Eksistensial Manusia. Berkhidmat untuk Pendidikan Islam.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.