10 July 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Ketahanan Keluarga di Masa Pandemi

...

  • portalsatu.com
  • 29 June 2020 12:32 WIB

@coupleto.com
@coupleto.com

Oleh: Taufik Sentana*

Telah banyak ulasan tentang urgensi keluarga, baik secara sosiologis, ekonomis dan religis. Keluarga disebut pula sebagai benteng terakhir bagi kelangsungan nilai nilai baik di masyarakat. Ini hanya didapat bilamana setiap keluarga memahami peran tanggung jawabnya masing-masing dan memiliki acuan-pijakan dalam mencapai tujuannya. 

Bagi masyarakat muslim, tentu acuan umumnya adalah pola pendidikan yang ditawarkan Islam, secara individu dan kolektif, sejak lahir hingga wafat, dalam keadaan susah ataupun senang, dunia dan akhirat.

Terkhusus di masa pandemi sekarang ini, yang ditengarai oleh para ahli akan membias pada kehidupan masyarakat hingga dua tahun ke depan. Terutama secara ekonomis dan psikologis, tentu akan memberikan alur perspektif yang baru dalam menyiasati keadaan sekarang, apalagi bila disandingkan dengan pesatnya laju informatika-digital yang bisa menghubungkan apa saja dan mengakses apapun dengan mudah.

Bila kita kaitkan dengan upaya ketahanan keluarga berdasarkan pengantar di atas, maka ada beberapa titik poin yang bisa kita perhatikan.

Pertama, menata dan menatap ulang visi keluarga. Memang ini tampak formil, seakan hanya berlaku bagi kalangan keluarga dengan kelas intelektual tertentu. Padahal ini dapat dimulai dengan santai dan diperlukan oleh setiap keluarga. Bahasa sederhananya, memperbaiki bersama perihal "niat" membangun keluarga, baik.sebagai ayah atau kakek dan disesuaikan dengan kondisi keluarga sekarang dan harapan terbaik untuk hari esok, dunia dan di akhirat.

Kedua, menyoal problem solving. Yaitu menakar kembali ukuran baik-buruk dalam keluarga dan kebiasaan kebiasaannya. Menitik beratkan pada hal hal apa yang mendesak diperbaiki dari segi anggota keluarga, aktivitas dan pola interaksinya.

Ketiga, mengembangkan ritual keluarga yang produktif. Baik itu ritus keagamaan, seperti berdoa bersama, majelis Alquran. Atau kebiasaan yang mencakup saling cerita, kerjasama dan program lainnya yang mendorong jalinan ikatan keluarga.

Keempat, terobosan ekonomis. Hal ini betkaitan dengan upaya menyikapi kebutuhan yang semakin tinggi. Bisa dimulai dari berhemat, atau dimulai dari mengembangkan satu nilai ekonomis tertentu, untuk menambah penghasilan ataupun mengurangi pengeluaran. Seperti belajar menjahit, memasak dan membuat kue. Bagi yang laki, bisa berkebun, beternak atau bidang lain yang bisa dijangkau dan (sekarang ) sesuai protokol kesehatan.

Dalam poin ini, penting pula membiasakan dan mengembagkan sikap mandiri secara ekonomi bagi anggota keluarga yang sedang masa belajar. Artinya, agar mereka tidak hanya bertumpu pada cita profesi dan pada satu kompetensi saja. Setidaknya menguasai tiga atau lima kompetensi yang berbeda.

Kelima, ikatan dan kesadaran spiritual. Yaitu upaya setiap keluarga muslim untuk selalu terikat dengan kewajiban agama, sikap taat dan amalan amalan yang mendorong seseorang untuk merasa dekat dengan Tuhannya (Allah SWT), agar si individu selalu dapat bimbingan dalam perkara personal dan kolektifnya sehingga memberi manfaat bagi lingkungan dan dunianya.

Demikianlah beberapa petikan singkat tentang upaya membangun ketahanan keluarga di tengah semrawutnya sistem sosial dan banyaknya pergeseran nilai di sekitar kita.

Selamat Hari Keluarga.[]

*Praktisi Pendidikan Islam.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.