20 June 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia

Menyambut Puasa di Aceh
Ketika Tambo dan Jingki Masih Berfungsi

...

  • portalsatu.com
  • 05 May 2019 14:30 WIB

Ilustrasi - Tambo. Foto rejacole
Ilustrasi - Tambo. Foto rejacole

Oleh: T.A. Sakti       

       Jauh sebelum bulan puasa tiba, masyarakat Aceh telah mengemas diri menyongsong bulan mulia ini. Semua kerja di percepat, biar nanti lebih banyak waktu dapat digunakan buat beribadat di bulan suci. Pak tani yang belum selesai menanam di sawah, mempercepat mengolah tanah. 
       Jarang sekali Pak tani  mulai turun kesawah yang jatuhnya pada bulan puasa. Kalau tidak lebih awal, pasti sehabis bulan puasa mulai menggarap sawah. Bagi Pak tani yang gesit(banyak perhitungan), tiga atau empat bulan menjelang puasa, menyangkul kebun menanam mentimun, rasanya berbuka puasa belum memenuhi syarat jika tak ada air mentimun. Bagi yang di rantau biasanya pulang.di hari baik dan bulan baik ini ( puasa ), mereka merasa lebih sreg(afdol) berada di tengah-tengah keluarga sendiri.Jadilah anak dagang di rantau orang; mudik ke desa, hingga mobilitas manusia yang hilir-mudik sangat meningkat.
       Bagi kaum ibu tidak kurang pula repotnya. Mereka lebih banyak berurusan dengan penyediaan konsumsi beras dan tepung yang mencukupi untuk tempo sebulan. Untung sekarang, akibat proses modernisasi mesin giling padi telah banyak masuk merata ke desa di Aceh, hingga untuk pengadaan persediaan beras yang banyak itu tidak menghabiskan tenaga dan waktu lagi. Kalau zaman dulu, bukan main riuh-rendahnya suara “ Jingki”  penumbuk padi. Tingkah suaranya bagaikan gema nyanyian katak di musim hujan. Tambahan pula, biasanya dalam sebuah desa paling banyak Jingki hanya dua – tiga buah saja, hingga hampir sebulan penuh sebelum puasa, Jingki bertingkah mengupas padi terdengar bersahut-sahutan  ke seantero desa.

       Di samping mempersiapkan beras, kaum ibu juga menumbuk tepung( top teupong) untuk juadah buka puasa. Yang paling banyak ditumbuk adalah tepung  ketan, karena kue-kue khas Aceh seperti timphan, timphan balon, boh meucot(onde-onde), kueh sumprit, haluwa dan lain-lain lebih banyak menggunakan tepung  ketan (teupong leukat). Kalau Anda kebetulan naik bis dari Banda Aceh menuju kota Medan( Sumut) menjelang bulan puasa.”jemuran tepung” merupakan suatu pemandangan  indah yang  anda dapat nikmati. Putih-memutih bagaikan salju di sepanjang jalan-raya. Apalagi kalau anda memasuki sedikit ke pedalaman di desa, pemandangan yang sama dapat anda saksikan: di atas atap rumah, di atas sebatang galah; di lapangan bola, di kebun kosong; dipenuhi dengan jemuran tepung puasa. Di saat-saat yang demikian, yang paling bergembira ialah anak-anak, karena mereka dapat menikmati “geuleupak”, yang dibuat dari tepung campur kelapa yang setelah ditumbuk pada Jingki. 
Geuleupak biasanya dibuat dari sisa-sisa tepung yang kasar. Sangat populer di Aceh hingga sekarang sebuah pameo yang berbunyi: “Ureueng pajoh geuleupak gob top”( orang yang hanya bisa makan geuleupak yang ditumbuk orang), sebagai sindiran sinis bagi orang yang tidak berguna bagi masyarakat dan keluarganya(sampah masyarakat). Perlu juga anda ketahui, bahwa sudah jadi tradisi kaum ibu di Aceh sejak dahulu, baik menumbuk padi maupun ‘tepung khusus” menjelang puasa, biasanya dikerjakan secara gotong royong antara kaum ibu sedesa tambah anak-anak.


Suara Bedug Bertalu-talu
     Bagi kaum bapak (kepala keluarga) banyak beban yang ditanggung menjelang Ramadhan, karena penguluaran uang memang lebih banyak dari bulan-bulan biasa, terutama bagi mereka(keluarga) yang baru saja menjodohkan putranya (Lintobaro). Lebih-lebih pada Hari Meugang(Uroe Makmeugang).
Yang disebut Hari Makmeugang dalam tradisi-tradisi yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat Aceh, bahwa pada Hari Makmeugang itu di setiap desa/kota diadakan penyembelihan binatang ternak. Untuk Makmeugang puasa biasanya kerbau, sedangkan untuk Makmeugang Idulfitri dan Idul Adha disembelih lembu, sebab makan daging lembu di bulan puasa dapat mengakibatkan sakit gigi atau gatal gusi(pendapat sebagian warga Pidie). Modal untuk membeli binatang sembelihan adalah secara patungan  antara rakyat desa, yang dikoordinir oleh Kepala Kampung(Geusyik). Sementara bagi masyarakat di kota kebanyakan membeli sendiri di pasar daging.
       Kalau kita hitung-hitung, dalam Provinsi  Aceh terdapat ribuan desa, tentu dapat anda bayangkan, beberapa ribu ekor kerbau/lembu yang disembelih di Aceh setiap kali hari Makmeugang, yang  tiga kali dalam setahun. Dalam versi uraian di atas menunjukkan masyarakat Aceh “makan enak” sebelum mereka berpuasa. Mereka berpesta besar dengan makan daging Makmeugang (sie Makmeugang) bersama anggota keluarga, bahkan turut yatim piatu serta fakir miskin jiran tetangga turut diundang makan bersama. Menyo hana takhanduri keu aneuk yatim bengeh areuwah Endatu(kalau tidak diundang anak yatim, bisa marah arwah leluhur), kata mereka. Dalam hal ”makan enak”  dalam bulan puasa, terkenal pribahasa Aceh yang menyatakan: Siblah buleun hareukat, sibuleun pajoh toh (sebelas bulan mencari nafkah hidup, memang untuk sebulan memakannya), namun berkat kesadaran setelah zaman kemerdekaan, praktek rakus akibat dari Hadih Maja Firman Datok(Pepatah) yang keliru ini semakin ditinggalkan masyarakat.
        Setelah matahari dari hari Makmeugang terbenam di ufuk barat, malam Ramadhan pun tiba. Sambil mencicipi sop daging kerbau, mereka menantikan pengumuman resmi, kapan kepastian mulai puasa. Ada yang meyetel radio atau pun mengikuti siaran TVRI. Tetapi kebanyakan masyarakat desa, merasa lebih afdhal mendengar bunyi bedug(Tambo) dari Meunasah di desa mereka. Mereka bukan alergi dengan siaran TV, tapi memang siaran dari stasiun pusat Jakarta sering kurang jelas di desa sana. Kecuali stasiun Relley, stasiun TV Daerah di Aceh(1981) memang belum ada.kapan terwujud;Wallahu A’lam.
        Bila ketetapan awal puasa telah pasti, maka orang pun mulai memukul bedug(peh Tambo), sebagai pengumuman bahwa puasa dimulai besok hari. Dari setiap Mesjid dan setiap Meunasah (Langgar di Aceh) suara bedug bertalu-talu. Bedug di Aceh disebut Tambo, dibuat dari kayu besar yang dilubangi bagian tengahnya sepanjang  lebih kurang 2 meter. 
Para ahli menabuh bedug (peh Tambo) menggunakan kesempatan malam pertama puasa dengan menabuh tambo sepuas-puasnya. Kesempatan terbuka lebar malam itu. Mereka dapat menabuh dalam berbagai nada dan irama, hingga kedengarannya merdu sekali. Baik irama padang pasir,dangdut,Melayu asli dan tidak ketinggalan pula irama dari lagu-lagu Aceh dengan sempurna dapat mereka lagukan.
         Pengumuman mulai puasa telah berlalu, rakyat desa baik tua maupun muda berkumpul di Meunasah. Mereka mulai Tadarus Al Qur’an. Kalau terasa haus, mereka minum Ie bu (bubur beras encer) yang telah disediakan di seurambi Meunasah. Tadarus Al Qur’an berlangsung hingga waktu sahur. 
Sekitar jam   2   dinihari Tambo mulai  ditabuh kembali. Ini merupakan kode bagi kaum ibu supaya bangun untuk mempersiapkan makanan sahur. Memang dari irama/jenis bunyi  Tambo sendiri, orang dapat mengenal, bahwa suara bedug itu membangunkan para ibu rumah tangga pada tahap awal. Jadi mereka tidak perlu takut kepepet waktu. “Beudoh-beudoh taguen bu laju hai Ma jih”(ayo bangun-bangun wahai Ibu si polan); begitu seolah-olah bunyinya.  Kira-kira 15 menit, suara bedug pun berhenti. Dan kaum muslimin di Meunasah meneruskan Tadarusnya.
       Tapi kalau bulan puasa telah melewati 20 hari, Tambo ditabuh lebih lama. Hal ini mengingat, bahwa kaum ibu khususnya telah sangat lemas  selama  puasa, hingga mereka tidur nyenyak sekali. Untuk itu Tambo harus didera lebih lama, biar ibu-ibu rumah tangga tersentak dari gangguan mimpi. Kalau tidak sabar membangunkan mereka, ada harapan kaum bapak yang di Meunasah pun bakal puasa tanpa sahur (puasa soh). Sekitar jam 3.30 Wib, sekali lagi giliran  menabuh Tambo. Kali ini memberi aba-aba  kepada kaum ibu supaya siap-siap untuk makan sahur dan kaum bapak akan segera turun dari Meunasah pulang kerumah masing-masing. Pada saat kemudian, dirumah pun telah siap segalanya. 
        Bagi yang sedang mengemong Linto Baro (pengantin baru), segalanya telah di atas meja makan disediakan oleh Dara Baro(pengantin perempuan)  di rumoh inong (ingat:bentuk rumah Aceh),sedang bagi yang tua-tua cukup lumayan makan di rumah dapur (tiphiek) saja. Jadi santapan Linto Baro  serba tersusun rapi; sejak dari kuah lemak campur kulit kerbau bakar/goreng , acar ketimun pedas, cicah daging, daging rebus, daging rendang, ikan pepes dan sebagainya, tinggal melahapnya saja. Boleh dikatakan hampir semua jenis masakan Aceh rasanya pedas.
      Lebih kurang jam 5.00 Wib “dum, dum...bum...bum”bunyi bedug terakhir. Ini menandakan waktu imsak (menahan) dimulai. Suara Tambo yang terakhir ini juga sekaligus untuk memanggil ummat berjamaah Shubuh.
       Waktu buka puasa pun ditandai dengan tabuhan bedug. Juga sudah menjadi tradisi yang mendarah daging dalam masyarakat Aceh, bahwa semua  orng pria buka puasa di Meunasah. Konsumsi makanan dikenakan bergiliran dari rumah ke rumah. Juadah yang di antarkan ke Meunasah paling kurang 3-4 jenis kue, seperti timphan, agar-agar, boh meuron-ron/boh rom-rom, timphan balon, bada (pisang goreng) dsb. Yang akan diminum selain kopi, juga ie bu kanji atau ie bu biasa, yang memang tiap sore dimasak di setiap Meunasah di  sebagian daerah Aceh. 
        Hadirin yang telah hadir di Meunasah, yang terdiri dari berbagai umur termasuk anak-anak, duduk bersila di  tikar lantai Meunasah sambil menunggu waktu buka puasa tiba. Salah seorang diantara mereka mendekati Tambo (bedug). Setelah jarum jam cocok dengan jadwal Imsakiyah Ramadhan, maka bedug pun berdentum-dentum di setiap desa. Dengan demikan orang yang buka puasa di Meunasah, dapat bersamaan waktunya dengan ibu rumah tangga yang berbuka di rumah setelah mendengar suara Tambo tadi.. 
       Selesai buka puasa diteruskan dengan shalat maghrib berjamaah, baru setelah itu mereka pulang ke rumah masing-masing. Setengah jam  berikutnya, lagi-lagi Tambo berdentang-dentang mengajak muslimin /muslimat untuk shalat Tarawih. Dapat ditambahkan bahwa  Tambo  juga ditabuh, bila ada kematian, rapat desa, mau gotong- royong, dimana  untuk setiap kepentingan itu punya ciri khas tersendiri ketika menabuhnya. 
DEMIKIANLAH sedikit nostalgia “semangat rakyat Aceh menyambut bulan Ramadhan – buleuen Puwasa tempo doeloe!”. Ganu-gana yang kita kisahkan ini masih tersisa sekitar awal tahun 80-an yang lalu. Sekarang, tinggal kenangan bagi yang pernah mengalaminya. Alhamdulillah, kita masih dapat hidup di hampir pertengahan tahun 2019. Semoga kita sama-sama dapat bertaubat, apalagi sejak hari Senin, 1 Ramadhan 1440 H ini kita memasuki bulan TAUBAT. Selamat menyambut bulan Ramadhan dan melaksanakan ibadah puasa bagi kita sekalian!!!.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.