17 August 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Mari Selamatkan Burung Langka di Aceh

...

  • THAYEB LOH ANGEN
  • 11 August 2017 11:20 WIB

Burung Rankong di hutan Seulawah nyaris punah akibat pengrusakan hutan di kawasan itu. @Irwansyah Putra/Antara
Burung Rankong di hutan Seulawah nyaris punah akibat pengrusakan hutan di kawasan itu. @Irwansyah Putra/Antara

BURUNG langka masih terdapat di sebagian besar wilayah Aceh. Pada tahun 2011, saya pernah melihatnya, saat penduduk menangkap burung besar, yang langka, di sekitar Matangkuli, Aceh Utara. Saat itu, aku ke sana bersama S Paru dan Said Jaya.

Ternyata, burung serupa juga ditemukan lagi, di Aceh Utara, lebih barat dari yang kulihat. Menguktip berita dari pelita8.com, menyebutkan, penduduk Gampong Meunasah Kulam, kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara menemukan seekor burung langka jenis Kuau Raja, Minggu 26 Maret 2017.

Laman berita itu menyebutkan, "Burung Kuau Raja dalam bahasa ilmiahnya Argusianu, Argus merupakan salah satu burung yang terdapat di dalam suku Phasianidae.

Penemu burung tersebut yang enggan disebut namanya, menyampaikan, burung ini banyak dijumpai di daerah Sumatra Barat. Biasanya burung langka itu berukuran 200 cm, untuk burung jantan dewasa.

”Kami menemukan burung ini di sekitaran pegunungan Takengon,” ujarnya."

Burung-burung langka ada di setiap hutan pegunungan Aceh, termasuk di kepulauan, seperti Pulo Aceh, Pulau Weh, Simeulue, Pulau Banyak, dan lainnya.

Penduduk Gampong Meunasah Kulam, kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara menemukan seekor burung langka jenis Kuau Raja, Minggu 26 Maret 2017. pelita8.com

Saya pernah dikabarkan oleh Teuku Abdul Malik, bahwa ada satu (jenis kakak tua?) di Pulo Aceh, yang tidak ada di belahan benua lain. Dan, ia memperlihatkan gambar burung yang sempat direkamnya tersebut. Di daratan, dari Geurutee sampai Geureudong, tidak terhitung jumlah burung langka.

Penebangan kayu-kayu yang ada di hutan Aceh, juga perluasan ladang dan kebun pertanian, membuat binatang, termasuk burung-burung tersebut, akan terkucil, karena habitatnya menyempit, bahkan menghilang. Taman Gunung Leuser, tidak memadai untuk mereka, sebagian burung langka itu tidak tinggal di Leuser, tapi di Aceh Utara, di Pulo Aceh, di Tangse, dan lainya.

Harus ada kebijakan khusus dari pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota yang memiliki hutan habitat burung, supaya meindungi habitat dan burung-burung tersebut.

Selama ini ada kebijakan, melarang menangkap binatang langka dan dilindungi, namun tidak melarang merusak habitatnya. Ada larangan merusak hutan, tapi bukan untuk melindungi habitat satwa, tetapi untuk alasan kepentingan manusia, yang mungkin asalnya dari luar negeri, seperti oksigen. Itu peraturan yang timpang.

Secara alamiah, apabila habitat suatu jenis binatang rusak, maka binatang tersebut tidak memiliki peradaban untuk memperbaikinya, sehingga mereka akan berpindah ke habitat yang lain, sekiranya ada. Atau, kalau habitat cadangan tidak ada lagi, maka mereka akan punah, hilang dari bumi. Selamatkan burung-burung dan binatang langka lainnya di Aceh.[]

Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan, penulis Novel Aceh 2025.

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.