08 December 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Menari ala Anies Baswedan

...

  • portalsatu.com
  • 14 November 2019 12:30 WIB

Anies Baswedan. @CNN
Anies Baswedan. @CNN

Penulis melihat Anies berhasil memadukan antara akademik, administratif dan humanisme. Jauh sebelum ia menjadi pejabat publik, menteri maupun gubernur, penulis mengenalnya hanya sebagai sosok akademisi murni, yang paling khas darinya adalah gaya tuturnya yang runut, logis dan kontekstual serta senyumya yang selalu terbit saat bicara.

Baru baru ini ia "diberitakan" mendapat panggung dari Nasdem saat kongkres di Jakarta, dan Nasdem dianggap membuat branding positif dengan pilihan itu. Walau sejatinya sangat wajar bila gubernur bicara pada forum yang diadakan di wilayah tugasnya. Jadi itu hal yang wajar menurut Anies. Tentang pilpres 2024 itu terlalu jauh, katanya, sebab ia hanya fokus pada amanah membangun Jakarta. Ini adalah sisi "tarian" Pak Anies yang terhangat pada minggu lalu, sisi sikap politis dalam skala berbangsa. 


Padahal sebelumnya ia dihebohkan dengan e-budgeting yang tidak smart menurutnya,(warisan gubernur sebelumnya),  dan itu hanya menjadi panggung bagi yang sibuk berkasak-kusuk. Dalam hal ini ILC juga pernah mengangkat tema Bullying untuk Anies. Dan responnya, kami hanya fokus pada gagasan, narasi dan kerja untuk Jakarta.

Pada karikatur Tempo tentang dirinya yang seakan susah bergerak, ia merespon di Twitter dengan lugas, "bukan Tem** bila tidak menghasilkan karikatur menjewer".

Disamping sikapnya yang lugas dan elegan, ada " tarian" khususnya yang mungkin tidak familiar di benak orang, yaitu bagaimana ia dan jajarannnya membangun Jakarta. Menurutnya warga mesti dilibatkan dengan prinsip kolaborasi (dan ini menjadi ciri kota maju).  Ia contohkan slogan ala Sukarno " Bantoe Kamie", dalam program berantas buta huruf saat itu. 

Pemerintah dapat berperan dalam wewenang dan anggaran, sedangkan gagasan dan aplikasi bisa disinergikan. Bahkan menurutnya, jajaran birokrasi memang miskin kreativitas, maka mesti bersinergi dengan khalayak. Misal, dalam memastikan data kecukupan sanitasi warga, ia dan timnya melibatkan  grup chtating ibuk-ibuk guna memperoleh data langsung dan cepat.

Perihal kosongnya kursi wakil, memang diakui menyedot fokusnya, karena ia tak bisa memangkas waktu untuk seremonial,misalnya. Karena bila yang hadir selain wakil, maka nilainya berbeda di mata warga.

Demikianlah sekelumit pespektif tentang "tarian" ala Anies Baswedan dalam berselancar di era keterbukaan media, walau masih terkesan banyak media yang "menutup" tariannya. Tapi menurut Anies, apa yang dicatat media hanya sementara, tapi hal baik yang bisa ia berikan untuk Jakarta akan ditulis dalam narasi sejarah Jakarta esok. Nah![]


Taufik Sentana
Peminat kajian sosial dan budaya pop.
Menetap di Aceh Barat.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.