24 February 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Mengawal Dana Bencana

...

  • portalsatu.com
  • 14 December 2016 15:00 WIB

Ilustrasi reruntuhan gempa. @detik.com
Ilustrasi reruntuhan gempa. @detik.com

Bantuan demi bantuan terus berdatangan dari dalam negeri dan luar negeri dengan satu tujuan: meringankan beban masyarakat korban bencana.

Oleh: Muammar

MENGAWALI tulisan ini izinkanlah penulis untuk mengucapkan innalilahi wainna ilaihi rajiun. “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya kita kembali, ya Allah berikanlah pahala atas musibahku dan gantilah dengan yang lebih baik.” Semoga semua amal ibadah masyarakat Pidie Jaya yang meninggal dunia akibat gempa Rabu, 7 Desember 2016, diterima disisi Allah SWT. Penulis juga berharap masyarakat Aceh secara khusus, dapat membuka hati dalam mengambil ikhtibar terhadap musibah ini. Amin.

Informasi yang dihimpun dari berbagai media menyebutkan, bencana alam gempa 6,5 skala richter ini telah menyebabkan 102 orang meninggal dunia dan ratusan luka-luka baik berat maupun ringan. Gempa ini juga menyebabkan 85.133 jiwa mengungsi di tiga kabupaten terdampak bencana. Sementara bangunan yang rusak mencapai 11.000 unit, termasuk bangunan sekolah dan rumah sakit umum.

Lindu yang berada di 10 Kilometer Pidie Jaya tersebut telah memporakporandakan harta benda dan bahkan merenggut nyawa warga di tiga kabupaten. Sementara gempa susulan terus menerus ‘meneror’ masyarakat yang menjadi panik, takut dan membuat sebagian diantaranya insaf (taat). Penulis menduga ada pertanda besar di balik musibah tersebut. Maha suci Allah yang mengetahui semua, sementara kita hanya berasumsi sesuai dengan disiplin ilmu.

Tentu saja beragam tulisan telah diterbitkan dan mencoba mengingatkan kita semua tentang musibah yang melanda Pidie Jaya beberapa hari lalu. Tulisan-tulisan ini ada dalam konteks renungan, cobaan hingga persoalan ulah tangan manusia. Namun, dalam konteks bencana alam, ternyata ada sisi baik untuk permasalahan kehidupan makluk hidup di atas bumi ini. Guncangan gempa juga bisa memicu tanah longsor dan terkadang dapat menghidupkan kembali aktivitas gunung vulkanik. Tanpa adanya gempa bumi atau aktivitas lempeng tektonik, nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh kehidupan di atas tanah, akan berkurang dari benua dan terkumpul di samudera. (Hugh Ross.dalam http://www.viva.co.id).

Penulis kemudian berpendapat manfaat yang dimaksud HR adalah manfaat sosial. Hal ini bisa dilihat dalam dua aspek, yang pertama aspek moral. Seperti diketahui moral merupakan pondasi awal dan menyangkut budi pekerti. Moral juga berarti ajaran baik atau ajaran buruk yang ada pada sifat manusia. Nah, merujuk kepada aspek moral ini kita dapat melihat ramainya orang berdatangan saat proses evakuasi korban gempa Pidie Jaya. Meskipun pada hari pertama masyarakat kebanyakan tidak tahu mau berbuat apa.

Aspek kedua adalah etika sosial yang senantiasa menekankan tanggung jawab sosial dan hubungan antarsesama dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Dalam kasus gempa di Pidie Jaya, aspek etika ini telah menggerakkan hati seluruh ummat manusia dan bahkan bukan hanya dari kalangan muslim saja. Ada sebagian non-muslim turut bersimpati melihat korban yang masih serba kekurangan.

Berdasarkan subjektivitas penulis, saat ini bantuan untuk korban gempa di Pidie Jaya, Pidie, dan Bireuen mengalir dari berbagai sumber. Adapula sumbangan berdatangan dari kalangan politisi secara individu, tokoh masyakarat, pengusaha dan bahkan akademisi dari berbagai perguruan tinggi. Bantuan demi bantuan terus berdatangan dari dalam negeri dan luar negeri dengan satu tujuan: meringankan beban masyarakat korban bencana.

Bantuan-bantuan ini jika tidak diperlakukan (disalurkan) dengan baik dan dialokasikan tepat sasaran, tentu ini sangat berdampak subjektif di kemudian hari kepada lembaga-lembaga penampung-penyalur ketika masa rehabilitasi bencana datang. Di sisi lain, adapula sikap sebagian masyarakat yang menganggap bantuan tersebut sebagai jenis permainan judi sosial—yang selalu dilatarbelakangi permasalahan ekonomi—sehingga mereka berfikir dapat memperoleh uang cepat tanpa bekerja melalui sebuah tragedi bencana alam. Sehingga orang-orang seperti ini akan menenggak keuntungan materi dari bantuan tersebut untuk kepentingan pribadi.

Sayangnya penyelewengan bantuan untuk para korban bencana ini kurang mendapat inisiatif dari lembaga antirasuah sekaliber Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK. Mereka sepertinya tidak mengaudit dana sumbangan tersebut disebabkan berbentuk hibah serta tidak ada laporan pertanggungjawaban, sehingga tidak masuk ranah korupsi. Namun, dari sisi lain, sumbangan-sumbangan terhadap korban bencana seperti ini rentan diselewengkan jika tidak ada yang berusaha mengaudit anggarannya. Apalagi dana ini bukan termasuk kerugian negara.

Penulis hanya berharap para pendonor sudah sangat ikhlas dengan bantuan yang diberikan kepada para korban bencana di Aceh. Penulis juga mendoakan sumbangan-sumbangan itu tepat sasaran sehingga kita bisa sama-sama mempersempit ruang untuk fitnah massal.*

*Penulis Muammar adalah Mahasiswa FKIP Sejarah Unsyiah dan Ketua Umum HMI Komisariat FKIP Unsyiah Periode 2015-2016. Saat ini juga menjabat Kabid Hukum dan HAM Ikatan Pemuda Pelajar Aceh Timur (IPPAT) Periode 2015-2017

Editor: BOY NASHRUDDIN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2015 - 2017 All Rights Reserved.