11 July 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Menjadi Aceh Sepeninggal Hasan Tiro

...

  • portalsatu.com
  • 05 June 2020 06:07 WIB

Tiroisme [Foto: IST]
Tiroisme [Foto: IST]

Aceh kini tidak lebih baik dari Aceh tempo dulu. Pada beberapa aspek seperti pembangunan cenderung berubah signifikan. Namun berbeda pada aspek-aspek lain seperti SDM, ekonomi, sosial dan politik serta beberapa aspek lain yang hingga kini berjalan sangat lamban.

Oleh Muhammad Zaldi*

Sudah 10 tahun Hasan Tiro pergi. Banyak kenangan yang ia tinggalkan. Sejak mendeklarasikan Aceh Merdeka pada 4 Desember 1976 di puncak Gunung Halimon, Hasan Tiro sudah menunjukan jati dirinya sebagai seorang Aceh. 

Sakit yang serius, adalah kematian yang mendadak tulis Nezar Patria dalam buku Hasan Tiro The Unfinished Story of Aceh. Hasan Tiro tidak pernah mau terlihat sakit, tak seorangpun pengikutnya di Aceh tahu bagaimana kondisinya setelah terkena stroke. Beliau hidup tersembunyi di apartemen yang sunyi di Norsborg.

Jauh sebelum memulai perjuangannya, Hasan Tiro sempat berada pada situasi eksistensial. Suatu pilihan sulit, antara yang kini mapan dan yang tak pasti di masa depan. Dalam kegamangan itu, pada suatu hari Hasan Tiro terpaku pada satu rak di toko buku di Fifth Avenue, New York. Matanya tak lepas mengeja karya filsuf eksistensialis Jerman, Friedrich Nietzsche. Ia terbenam dalam aporisme Thus Spoke Zarathustra. Jiwanya terpanggil, terus-menerus mencengkeram pikirannya. Seperti Aceh yang terus menerus memanggilnya.

Kini Hasan Tiro sudah tiada, ia meninggalkan pemikiran dan hasil perjuangan seperti yang kita rasakan sekarang. Apa yang masyarakat Aceh rasakan hari ini adalah mutlak hasil dari perjuangan kelompok yang dipimpin oleh Hasan Tiro. 

Terlepas dari berbagai pandangan bahwa perdamaian hanya milik segelintir kelompok, tapi hal itu tidak menjadi dasar pembenaran. Jika masyarakat Aceh berpikir demikian, maka ini adalah wujud ada campur tangan pihak luar untuk memperkeruh suasana dan membuat perdebatan pada kita sesama Aceh.

15 Agustus 2005 bukanlah akhir dari perjuangan, itu hanya fase jeda dan transisi untuk merubah arah dari perang senjata ke perang politik. Sungguh jika itu hal akan menjadi satu langkah yang konkrit jika memang mampu direalisasikan butir-butir MoU Helsinki seutuhnya. 

Pastinya langkah dalam mewujudkan terealisasinya butir-butir itu tidak akan berjalan mulus dan penuh hambatan, karena sejatinya setiap yang menghambat terealisasinya butir-butir MoU ini adalah orang-orang yang tidak senang atau dalam kata lain "musuh" bagi kemaslahatan rakyat Aceh.

Bagaimana kondisi Aceh kini pasca 10 tahun Hasan Tiro pergi? Aceh kini tidak lebih baik dari Aceh tempo dulu. Pada beberapa aspek seperti pembangunan cenderung berubah signifikan. Karena sejatinya kita manusia mudah melihat dan menilai pada yang tampak. Namun berbeda pada aspek-aspek lain seperti SDM, ekonomi, sosial dan politik serta beberapa aspek lain yang hingga kini berjalan sangat lamban. 

Padahal MoU Helsinki sudah mengatur tentang beberapa aspek itu. Konon beberapa bulan lalu sudah terbentuk sebuah tim yang di ketuai oleh Moeldoko untuk menyelesaikan pelbagai butir MoU Helsinki. Namun prosesnya stagnan.

Sebenarnya, apakah rakyat Aceh bisa sejahtera? atau tak boleh sejahtera? Tentu dua pertanyaan ini bukan hanya terlahir dalam pemikiran penulis, dan pastinya dalam pikiran para pembaca sudah lebih dulu berpikir demikian. Jika ditanyai bisa sejahtera atau tidak, maka jawabannya sangat bisa dan pasti bisa. Mengapa? Sebab sedari belum terbentuknya negara ini, Aceh sudah lebih dulu ada dengan statusnya sebagai sebuah bangsa terpandang yang disegani oleh dunia. 

Lantas, atas dasar apa Aceh tidak bisa sejahtera? Sedangkan di negeri ini, berharap bahagia datang dari pemerintah itu rasanya riskan. Tinggal bagaimana kepekaan dan action dari pemerintah saja.

Lalu, jika ditanya apakah rakyat Aceh tak boleh sejahtera? Dengan berat hati penulis menjawab iya, Aceh tak boleh sejahtera. Banyak kepentingan pihak lain yang tidak akan berjalan sebagaimana mestinya bila bangsa Aceh sejahtera. Padahal secara letak geografis, daerah Aceh sangat strategis. Secara sumber daya alam (SDA) Aceh sudah tidak diragukan lagi, sumber daya manusia selalu saja dijadikan problem.

Bagaimana ingin maju, jika SDM-nya tidak terlatih dengan diberikan pemahaman di bidang terkait. Mengapa setelah konflik berkepanjangan kita tidak fokus pada peningkatan sumber daya manusia, yang hasilnya akan bersifat jangka panjang. Hingga nanti pada bidang-bidang seperti teknologi, perminyakan, batu bara, sosial, politik, nantinya akan diisi oleh semua SDM lokal dengan memanfaarkan SDA yang ada. 

Tapi lupakanlah, itu hanya ilusi dan harapan. Hal ini didasari pada kekaguman kita  dengan sosok Hasan Tiro yang rela meninggalkan hal paling esensial pada manusia yakni harta dan keluarga. Perjuangan Hasan Tiro hingga kini terus ada, ia telah membuka ribuan mata kaum muda bangsa Aceh.

Generasi muda Aceh, kini lebih turi droe dan tusoe droe dan mengetahui standar manusia merdeka berkat pemikiran dan perjuangan Hasan Tiro. Semoga apa yang beliau telah perjuangkan akan terus di perjuangkan oleh para pengikutnya tempo dulu dan generasi di masa depan. 

Hingga pada masa kembali kejayaan Aceh nantinya akan dipimpin oleh pemimpin yang memahami bagaimana seharusnya menjadi seorang Aceh seperti Hasan Tiro yang kelak akan menjadi "New Hasan". Akankah? Alfatihah.[**]

*Founder Political Institute, Mahasiswa Ilmu Politik FISIP UIN Ar-Raniry.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.