19 July 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Menyoal Tes Baca Alquran, Jangan Sampai Menista

...

  • PORTALSATU
  • 04 January 2019 22:00 WIB

Andi Srak. Foto: istimewa
Andi Srak. Foto: istimewa

Oleh: Andi Srak*

Hampir seminggu ini kita disuguhi pemberitaan pro-kontra terhadap usulan Ikatan Dai Aceh untuk melakukan uji/tes baca Alquran bagi kedua pasangan Capres dan Cawapres pada Pemilu 2019 ini.

Apa yang dimaksud oleh Ketua Ikatan Dai Aceh, Tgk. Marsyuddin Ishaq, S.HI., didampingi sekretarisnya, Tgk. Fatahillah M.Ag., dalam konferensi pers di 3 in 1 Cafe, Banda Aceh pada Sabtu (29/12/2018), sudah cukup jelas dan terang benderang, apalagi bagi kita masyarakat Aceh.  

Di Aceh, syarat mampu membaca Alquran bagi bakal calon, baik legislatif maupun eksekutif, tidak lagi berada diranah perdebatan antara setuju atau tidak, apalagi menggunakan kata ‘penting' atau 'tidak?' 

Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2008 dan Qanun Aceh Nomor 12 Tahun 2016 yang mengatur tentang syarat mampu baca Alquran tersebut, tidak lahir begitu saja di Aceh. Sebagai bagian yang tidak terlepas dari aspirasi penerapan Syariat Islam, Aceh harus memulainya dengan konflik berdarah, perundingan damai yang alot, dan perjuangan keras mematahkan logika-logika yang menyesat-nistakan, semisal “Tidak penting syarat mampu baca quran bagi Muslim yang mencalonkan diri jadi pemimpin.”

Oleh karena itu, kita patut merasa sedih bila ada tokoh di Aceh yang mencoba membalikkan bangunan logika dan argumentasi pentingnya tes baca Alquran bagi calon pemimpin. Tidak hanya telah melakukan gol bunuh diri terhadap Aceh, namun orang seperti itu juga sedang berusaha menghilangkan jejak historis lahirnya syarat kemampuan baca Alquran di Aceh. 

Geli bila menyimak setidaknya dua alasan yang kontra terhadap usulan ini. Pertama, yang membandingkan  dengan calon Ketua PSSI yang tidak dites kemampuan tendangannya, namun yang dilihat hanya visi-misinya. Huf, bagaimana kalau ditanya balik, “Apakah calon pengantin harus dites bersetubuh di KUA?” Pun tidak, kalau di Aceh, calon pengantin diberi pembekalan terkait pengetahuan agama, termasuk hafalan bacaan salat dan lafal doa mandi junub.

Kenapa? Karena sepak bola itu urusan duniawi semata, sedangkan calon pengantin yang hendak berumahtangga sama dengan calon presiden dan wakil presiden yang akan berurusan dengan dunia kepemimpinan, dan itu menyangkut urusan dunia dan ukhrawi.

Kedua, yang mengangkat tokoh misionaris kolonial Belanda, Snock, dan Abu Lahab. Bisa baca Alquran, tapi tidak beriman dan tidak membela ‘kepentingan Islam’. Ini makin aneh. Logika ini seharusnya terbalik, “Kalau yang tahu baca quran, bisa tidak beriman, bagaimana yang bahkan untuk membaca saja tidak tahu?” 

Kami di CISAH (Center for Information of Samudra Pasai Heritage; Pusat Informasi Warisan Budaya Samudra Pasai) juga memiliki cita-cita yang sama, kita merindukan lahirnya pemimpin-pemimpin di negeri ini yang tidak hanya mampu baca Alquran, bahkan kalau mungkin juga dapat membaca inskripsi di nisan-nisan sejarah milik para Sultan Islam terdahulu. Pada inskripsi itu rata-rata memuat informasi tentang sosok, ayat Alquran, hadis, pesan tentang kepemimpinan yang adil nan bijaksana, dan bahkan syair-syair Arab. Sayang, terbengkalainya situs adalah karena kurangnya pemahaman dan kesadaran dari pimpinan tingkat atas hingga ke masyarakat lapisan bawah. Gawatnya, bagi masyarakat yang tidak kenal bahwa kaligrafi kuno itu adalah ayat Alquran, bahkan tega menambat lembu di nisan tersebut. 

Apakah sultan-sultan Aceh yang mampu baca Alquran itu tidak toleran atau tidak paham kemajemukan? Untungnya kita memiliki catatan perjalanan Ibnu Batutah, naskah persuratan dengan Sultan Turki, Lonceng hadiah dari Tiongkok, bukti perdagangan di kota pelabuhan Salem, Amerika dan lainnya.

Begini, “Karena salat itu wajib, maka mampu baca Alfatihah dan bacaan pada rukun juga wajib, bila belum mampu, maka wajib belajar atau mencari bimbingan,” adalah logika fiqih yang temurun mulai anak kecil pun maklum. Kalau mampu membaca Alquran menjadi wajib karena wajibnya salat, maka menyatakan syarat mampu baca Alquran tidak penting bagi pemimpin umat Islam adalah penistaan agama yang melukai hati umat Islam.

Kalau begitu cara berpikirnya, gini aja, jangan akui diri Muslim jika menghindar dari kitab sucinya.

Kami berharap Ikatan Dai Aceh dapat terus mengawal proses usulan ini hingga sukses melaksanakan tes baca Alquran bagi pasangan calon presiden yang notabenenya Muslim untuk memimpin negeri yang mayoritas Muslim,  Indonesia yang kita cintai ini. Semoga pasangan calon dan kita semua rakyatnya dapat sukses tidak hanya di dunia, namun juga di akhirat kelak.[]

*Andi Srak, Kabid Pengembangan Kelembagaan dan Kaderisasi LSM CISAH.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.