16 October 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Meraih Kemenangan di Hari yang Fitri

...

  • PORTALSATU
  • 10 June 2018 16:00 WIB

Dr. Fauzi, M.Kom.I. @dok. pribadi
Dr. Fauzi, M.Kom.I. @dok. pribadi

Oleh: Dr. Fauzi, M.Kom.I*

"Sesungguhnya Allah mengganti kedua hari raya itu dengan hari raya yang lebih baik, yakni Idul Fitri dan Idul Adha". (HR. Daud dan Nasai).

Akhirnya sampailah umat Islam pada hari yang sangat menyedihkan, ketika Ramadhan yang senantiasa dirindukan perjumpaannya berakhir. Padahal mungkin puasa, shalat malam, dan membaca Alquran belum maksimal dilakukan. Bahkan mungkin pelaksanaan ibadah-ibadah lainnya belum optimal. Akan tetapi seiring dengan cepatnya waktu berlalu, ternyata tanpa terasa Ramadhan begitu cepatnya meninggalkan kita.

Setetes air mata mengalir menunjukkan perasaan sedih yang bergemuruh dalam kalbu, menumbuhkan pertanyaan akankah tahun depan masih dapat bertemu dengan bulan Ramadhan? Karena itulah dahulu para salafus-shalih meneteskan air mata ketika Ramadhan pergi meninggalkan mereka dan dari lisan mereka terucap sebuah doa, “Ya Allah, anugerahkan lagi kepada kami bulan Ramadhan, anugerahkan lagi kepada kami bulan Ramadhan, dan Bulan Ramadhan...”. Doa ini menunjukkan ungkapan kerinduan akan datangnya bulan Ramadhan.

Sementara itu, Iedul Fitri merefleksikan sebuah kemenangan atas perjuangan dalam jihad akbar mengendalikan hawa nafsu selama sebulan penuh. Setelah menunaikan ibadah Ramadhan meraih kemenangan dengan terlahir kembali kepada fitrah kemanusiaan yang suci dan mendapatkan kekuatan baru. Karena, pada dasarnya ibadah Ramadhan tersebut tidak hanya sebagai tazkiyatun nafs (penyujian jiwa), tetapi juga sebagai tarbiyatun nafs (penguatan diri).

Artinya, kemenangan tersebut dapat diraih ketika dapat meraih nilai-nilai Ramadhan. Dan pengejawantahan kemenangan itu akan terwujud ketika hablum minallah berupa penunaian ibadah dapat menjelma dalam hablum minannas. Dengan kata lain, sejatinya hakikat Iedul Fitri sebagaimana yang dikehendaki Allah Swt., yang disampaikan melalui Sunnah Rasul harus termanifestasi dalam kehidupan, tidak hanya sebatas mewarisi tradisi dan berlalu sebagai sebuah seremonial belaka.

Iedul Fitri diartikan kembali kepada kesucian, karena setelah selama bulan Ramadhan dilatih diri menyucikan jasmaniah dan ruhaniah dengan harapan dosa-dosanya diampuni oleh Allah Swt., maka akan menjadikannya  suci lahir batin. Kembali kepada fitrah atau naluri religius ini menjadi hakikat dari iedul fitri. Naluri religius dijelaskan dalam sabda Rasul Saw., “Tidaklah seorang anak dilahirkan, melainkan ia dilahirkan dalam keadaan fitrah (bersih/suci). Orantuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. (H.R. Bukhari).

Begitu juga sesuai dengan tujuan puasa, yaitu agar orang yang melakukannya menjadi orang yang takwa atau meningkatkan kualitas religiusitasnya. Fitrah secara bahasa berarti ath-thabiah yang berarti tabiat atau karakter dan juga al-khilqah yang berarti naluri atau pembawaan yang diciptakan Allah Swt., pada manusia, yaitu al Hanif atau lurus hanya menyembah Allah Swt., semata dan menolak selain-Nya. Sebagaimana firman Allah, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam), sesuai fitrah (dari) Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.  (QS. Ar Rum: 30).

Fitrah tauhid ini bahkan merupakan kewajiban pertama yang Allah fardhukan atas anak Adam dan merupakan inti ajaran seluruh Rasul, yakni kufur terhadap thaghut dan iman kepada Alah Swt. Dalam Alquran dijelaskan, “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat itu seorang rasul (mereka mengatakan kepada kaumnya): Ibadahlah kepada Allah dan jauhi thaghut…”.   (QS. An Nahl: 36).

Fitrah kehambaan menuntut setiap Muslim untuk membuktikan komitmen ibadahnya. Dia dituntut tidak hanya bersungguh-sungguh menunaikan semua ibadah fardhu, tapi juga ibadah-ibadah sunnah. Dengan pembuktian komitmen tersebut, setiap Muslim akan mampu mengantarkan dirinya kepada ketakwaan. Perintah takwa adalah perintah agama yang harus dilestarikan dalam kehidupan setiap Muslim, ia wajib memeliharanya hingga ia berhadapan dengan kematiannya. Apabila seseorang memelihara ibadahnya secara benar dan konsisten, akan terangkat derajat ketakwaannya, suatu derajat istimewa yang menjadikannya lebih mulia dari hamba-hamba yang lain. 

Pada makna yang lain, Iedul fitri diartikan dengan kembali kepada keadaan dimana umat Islam diperbolehkan lagi makan dan minum di siang hari seperti biasa. Artinya, Iedul Fitri adalah hari raya berbuka setelah sebulan penuh berpuasa, pada hari Iedul Fitri berbuka dan tidak berpuasa sebagai ungkapan syukur kepada Allah Swt. Sebagaimana penjelasan hadis, “Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda, “Iedul Fitri adalah hari dimana kalian  berbuka, dan Iedul Adha adalah hari dimana kalian berkurban”. (H.R. Ibnu Majah).

Kedua makna tersebut adalah benar dan tepat, saling melengkapi dan tidak bertentangan sama sekali. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam memasuki Iedul Fitri umat Islam diharapkan mencapai kesucian lahir batin dan meningkat kualitas religiusitasnya. Salah satu ciri manusia religius adalah memiliki kepedulian terhadap nasib kaum yang sengsara. Dijelaskan dalam Alquran, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?, maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong mereka memberi makan orang miskin”. (QS. Al-Ma’un: 1-3).

Penyebutan anak yatim dalam ayat tersebut merupakan representasi dari kaum yang sengsara. Oleh karena itu dapat dipahami bahwa umat Islam yang mampu, wajib memberikan zakat fitrah kepada kaum fakir miskin, yang pelaksanaannya paling lambat sebelum shalat Iedul Fitri. Aturan ini dimaksudkan agar pada waktu umat Islam yang mampu bergembira merayakan Iedul Fitri, maka orang-orang miskin pun dapat merasakan hal yang sama.

Agama Islam sangat menekankan harmonisasi hubungan antara si kaya dan si miskin. Ayat di atas menekankan untuk menghindari adanya kesenjangan sosial, ketika menyebutkan anak yatim dan orang miskin. Dapat dipahami bahwa Iedul Fitri merupakan puncak dari suatu metode pendidikan mental yang berlangsung selama satu bulan untuk mewujudkan profil manusia yang suci lahir batin, memiliki kualitas keberagamaan yang tinggi, dan memelihara hubungan sosial yang harmonis.

Merayakan Kemenangan

Berbicara tentang kemenangan, tentu ada yang kalah. Mengapa harus ada yang menang dan ada yang kalah? Karena faktanya, manusia diberi nafsu, dan ini mengandung pesan simbolik untuk dikalahkan. Sedangkan hati nurani (hati-akal) itulah alat untuk mengalahkan atau sebagai senjata perjuangan, sebagaimana yang diajarkan selama Ramadan.

Selain itu, mengalahkan merukan sinonim dari sebuah kemenangan, karena tidak ada kemengan tanpa mengalahkan. Dua sisi yang bertentangan ini adalah sifat keunggulan manusia dari makhluk yang lain (akhsanu takwin) dan kedua ini diciptakan agar manusia menjadi lebih sempurna (insan al-kamil) sebagaimana terkandung dalam Alquran, “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”. (QS. Asy-Syams: 8).

Itulah pentingnya tazkiyatu nafs (penyempurnaan jiwa) agar menjadi hamba yang bertakwa (berhati-nurani) dan jauh dari kefasikan (hawa nafsu kebinatangan).

Tazkiyatun nafs menjadi sangat penting sehingga manusia dapat mencapai derajat ihsan. Semua krisis yang muncul dalam  kehidupan manusia, berawal dari krisis spiritual yang terjadi pada diri manusia. Karena itu, dalam mengatasi berbagai krisis kehidupan yang menimpa ummat manusia sepanjang sejarahnya, para Nabi dan Rasul senantiasa mengawali langkah mereka dengan melakukan tazkiyatun nafs. Bahkan hal ini menjadi syarat mutlak bagi suksesnya pengentasan manusia dari berbagai krisis yang membelitnya.

Realitas sejarah menunjukkan bagaimana kemenangan yang diraih umat Islam selalu berkaitan erat dengan tazkiyatun nafs dan tarbiyatun nafs. Berdasarkan hal itulah Ibnu Qayyim mengatakan, “Kemenangan dan dukungan Allah hanya diberikan kepada orang-orang yang memiliki keimanan yang sempurna”. Maka, jelaslah bahwa keberuntungan dan kesuksesan seseorang sangat ditentukan oleh seberapa jauh ia mentazkiyah dirinya.

Dalam konteks agama, merupakan suatu kelemahan ketika makna kemenangan di hari raya iedul fitri dipahami hanya sekadar tekstualisme yang sempit dan stagnan, bahkan momentualisme yang tidak berefek atau hanya seremonial belaka. Begitu juga jika momen merayakan Iedul Fitri hanya sebatas berpesta simbol, sehingga selama ini Ramadhan dan Iedul Fitri bukan menjadi kontemplasi (renungan) dengan intens dan penuh kesungguhan. Karena iedul fitri adalah kemenangan bagi orang yang meraih ketakwaan. Ini tidaklah mudah sebab meraih ketakwaan membutuhkan perjuangan setelah sebulan penuh berpuasa. Namun, predikat sebagai pemenang menuntut kemampuan untuk mempertahankannya dengan memelihara tradisi-tradisi positif yang telah dikerjakan selama bulan Ramadhan. Kemenangan ini menjadikan manusia sebagai pribadi yang paripurna, karena mereka mampu meraih nilai-nilai Ramadhan.

Oleh karena itu, yang terpenting bagi umat Islam saat ini adalah bagaimana menghidupkan Iedul Fitri sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Dari bebarapa riwayat terdapat beberapa hal yang disunnahkan untuk dilakukan seperti shalat Ied, sebagaimana diriwayatkan dari Ummu Athiyah ra., berkata: “Kami diperintahkan untuk mendatangi tempat shalat, bahkan perawan pingitannya dan wanita yang haid diperintahkan untuk mendatangi tenpat shalat Ied. Hanya saja mereka berposisi di belakang shaf kaum muslimin. Mereka bertakbir denga kaum muslimin, dan berdoa dengan doa kaum muslimin, dengan berharap keberkahan dan kesucian hari tersebut”. (HR. Bukhari).

Hal lain yang diperintahkan Rasul adalah saling bermaaf-maafan seraya mendoakan semoga Allah Swt., menerima seluruh amal ibadahnya. Dalam sebuah hadis diriwayatkan, “Dari Khalid bin Ma’dan ra, berkata, Aku menemui Watsilah bin Al-Asqo’ pada hari Ied, lalu aku mengatakan, ‘Taqabbalallah Minna Wa Minka”. Lalu ia menjawab, ‘Iya, Taqabbalallah Minna Wa Minka,’. Kemudian Watsilah berkata, ‘Aku menemui Rasulullah Saw pada hari Ied lalu aku mengucapkan ‘Taqabbalallah Minna Wa Minka’, kemudian Rasulullah SAW menjawab, ‘Ya, Taqabbalallah Minna Wa Minka’ (HR. Baihaqi Dalam Sunan Kubra).

Memaafkan membutuhkan suatu keahlian untuk melupakan semua kesalahan orang lain dan sanggup memaafkan perbuatan manusia yang mungkin dianggap tak terampunkan, dan memandang hari esok sebagai hari yang terbebas dari jejak kesalahan masa lampau. Inilah makna memafkan yang hakiki, yang benar-benar menantang sejauh mana ketulusan hati untuk keluar melupakan kesalahan masa lalu. Karena itu saling memaafkan adalah proses menuju perdamaian dan kedamaian.

Beberapa hal yang diajarkan Rasul dalam menghidupkan Iedul Fitri terkait dengan tradisi saling memaafkan, menjadi sebuah renungan apakah momentum ritual keberagamaan ini akan diposisikan sebagai momentum atau seremoni semata atau sungguh-sungguh menjadikannya sebagai spirit baru untuk meraih hari esok yang cerah yakni dunia yang damai. Dengan spirit perdamaian dan etos memaafkan yang sungguh-sungguh diterapkan sebagai prinsip fundamental dalam paradigma setiap lini kebudayaan, maka perdamaian dunia niscaya bukan angan-angan lagi. Mungkin waktu kosmologis telah melaju meningalkan 1 Syawal, tetapi waktu spiritual selalu berporos kepadanya sehingga hati tetap ber-Idul Fitri setiap saat. Semoga.[]

* Dr. Fauzi, M.Kom.I., Dosen STIKes Muhammadiyah Lhokseumawe. Email: fauzikalia2017@gmail.com

Editor: portalsatu.com


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.