26 September 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia

Refleksi 16 tahun WTC 2001-2017
Misteri di Balik Tragedi WTC 11 September 2001

...

  • Helmi Abu Bakar El-Langkawi
  • 11 September 2017 11:20 WIB

World Trade Center. @amanzafar.com
World Trade Center. @amanzafar.com

TANPA terasa serangan menara WTC (World Trade Center) atau kerap dikenal dengan Tragedi WTC kini telah berumur 16 tahun (11 September 2001-11 September 2017). Lantas siapa sebenarnya dalang di balik peristiwa besar tersebut? Jika selama ini opini dunia seolah digiring oleh pemerintahan Bush untuk meyakini Tragedi WTC didalangi oleh Osama, maka ada sisi lain yang tentu pantas untuk disimak. Ini setidaknya pendapat banyak kalangan, mengapa misteri Tragedi 11 September perlu kembali diperbincangkan setelah 16 tahun berlalu? Ada empat hal penting yang mendasarinya.

Pertama, Prof Dr Morgan Reymonds (guru besar pada Texas University, USA) menyatakan ”Belum ada bangunan…baja…ambruk hanya… oleh kobaran api”. Kedua, Michael Meacher (mantan Menteri Lingkungan Inggris, 1997 – 2003) berpendapat ”…perang melawan terorisme… dijadikan…tabir kebohongan guna mencapai tujuan-tujuan strategis geopolitik AS”. Ketiga, Prof Dr Steven E Jones (guru besar fisika pada Birgham Young University, USA) membeberkan hasil risetnya ”…bahan-bahan peledak telah diletakkan…di bangunan WTC”.

Keempat, Profesor Steven E. Jones dari Brigham Young University, Utah, yang melakukan penelitian dari sudut teori fisika mengatakan bahwa kehancuran dahsyat seperti yang dialami Twin Tower serta gedung WTC 7 hanya mungkin terjadi karena bom-bom yang sudah dipasang pada bangunan-bangunan tersebut. (Mattula Ada, Kompasiana.com, 2011)

Teori fisika Jones tersebut tentunya sangat bertentangan dengan hasil penelitian FEMA, NIST dan 9-11 Commision bahwa penyebab utama keruntuhan gedung-gedung tersebut adalah api akibat terjangan pesawat dengan bahan bakar penuh. Dalam kertas kerjanya berjudul “Why Indeed Did the WTC Buildings Collapse?” dan dipublikasikan harian Deseret Morning News yang terbit di Salt Lake City dalam situsnya awal November lalu, Ilmuwan dari Departerment of Physic and Astronomy, Brigham Young University itu menguraikan secara ilmiah penyebab sesungguhnya dari kehancuran tersebut.

Pihak Brigham Young University sendiri sebelumnya mengatakan bahwa isi dari kertas kerja tersebut sepenuhnya tanggung jawab penulis, bukan sebagai pandangan pihak universitas. “Saya mengimbau dilakukan suatu investigasi secara serius atas hipotesa bahwa gedung WTC 7 dan Menara Kembar WTC runtuh bukan hanya oleh benturan (pesawat) dan kebakaran, tapi juga karena bahan peledak yang sudah ditempatkan sebelumnya,” kata Jones.

Detik-detik keruntuhan Menara Kembar WTC, dan juga gedung WTC 7 didekatnya, disaksikan jutaan pasang mata baik secara langsung maupun melalui siaran “live” televisi di seluruh dunia. Sepuluh tahun telah berlalu dan berbagai peristiwa penting pun terjadi terkait dengan tragedi “September hitam” tersebut, di antaranya berupa perubahan kebijakan politik luar negeri AS dan serangan terhadap Afghanistan, Irak dan Libya.

Jones sendiri dalam kertas kerjanya tidak menyorot soal politik dan aksi terorisme, tapi ia memfokuskan pada teori fisika atas keruntuhan gedung-gedung tersebut. Ia tidak mau berspekulasi mengenai bagaimana bom itu dipasang dan siapa yang melakukannya.

Seorang pengusaha asal Amerika Serikat berencana melakukan reka-ulang peristiwa serangan teror terhadap menara kembar WTC di New York pada 11 September 2001 silam. Paul Salo akan menggalang dana hingga 1 juta pound sterling atau setara Rp 19,2 miliar melalui crowdfunding, untuk rencana anehnya itu. Saulo, yang sekarang tinggal di Thailand, akan membeli sebuah pesawat Boeing 747 tua dan gedung tak terpakai sebagai alat peraganya.

Rencananya, pesawat Boeing 747 itu akan ditabrakkan ke sisi gedung itu dengan kecepatan 500 mph. Dia menjelaskan, rencana merupakan 'proyek penting' untuk membuktikan kepada pengusung teori konspirasi tentang kekejaman teror paling mematikan itu. Salo berharap bisa menggalang dana untuk proyek itu dan menjual tiket 'VIP' untuk tontonan aneh di Thailand itu seharga US$5,000 atau Rp 66,4 juta per tiketnya.

" Jika Anda ragu-ragu tentang serangan teror 9/11, maka kami akan meledakkan gedung ini sampai berkeping-keping untuk membuktikan bahwa Anda benar atau salah," kata Salo dalam sebuah video promosi tentang rekonstruksi peristiwa serangan teror 9/11. Salo dan timnya akan membeli sebuah pesawat Boeing 747 yang sama persis dengan yang dibajak dan digunakan teroris untuk menabrak gedung WTC New York.

Pesawat itu akan diisi penuh dengan bahan bakar dan kemudian ditabrakkan ke sisi sebuah gedung kosong dengan kecepatan 500 mph.

"Jika hanya ada lubang menganga yang mengeluarkan asap hitam tebal dan tidak terjadi apa-apa, berarti sudah dipastikan bahwa peristiwa itu hanyalah rekayasa. Saya yakin pasti ada pihak yang marah, tapi kami berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi," katanya.

Salo, yang dibesarkan di California, menambahkan bahwa ia percaya rekonstruksi peristiwa itu akan mengungkapkan kerusakan fisik yang sama sehingga menyebabkan menara kembar runtuh.

Seperti diketahui, serangan teror di menara kembar WTC New York menewaskan 2.996 orang setelah dua pesawat Boeing 747 menabrak sisi gedung pada 11 September 2011. Peristiwa itu memicu teori konspirasi bahwa dua gedung tersebut tidak mungkin runtuh dengan cepat - bahkan ada yang menduga itu adalah perbuatan Pemerintah AS sendiri. Teori konspirasi berpendapat dua gedung itu tidak mungkin runtuh ke arah dalam seperti ketika menghancurkan gedung bertingkat menggunakan metode peledakan.

Film dokumenter Fahrenheit 9/11 garapan sutradara Michael Moore semakin menambah kecurigaan tentang campur tangan Pemerintah AS. Dalam film itu, Moore mengaitkan hubungan dekat antara keluarga mantan Presiden AS, George Bush, Pemerintah AS dan keluarga Bin Laden. Sebuah film dokumenter lain, Loose Change, bahkan mengklaim bahwa serangan terhadap menara kembar WTC New York direncanakan oleh Pemerintah AS.[]

Sumber: kompasiana.com dan dream.co.id

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.