25 September 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Modal Sejarah yang Hilang (Amanah Pejuang Angkatan ‘45 Aceh)

...

  • PORTALSATU
  • 04 January 2017 13:15 WIB

Presiden Soekarno salut dengan perjuangan rakyat Aceh mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan memberikan gelar "daerah modal" langsung dari bibirnya untuk Aceh sewaktu berpidato di Blang Padang, 16 Juni 1948.

*oleh Mhd. Saifullah

Aceh merupakan provinsi yang pernah dijuluki sebagai “daerah modal” bangsa Indonesia. Julukan itu diberikan setelah melihat kegigihan rakyat Aceh berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia (1945-1949) dalam menghadapi gangguan Belanda yang ingin kembali menjajah. Hal ini membuat Presiden Soekarno salut dan memberikan gelar tersebut langsung dari bibir untuk Aceh sewaktu berpidato di Blang Padang, 16 Juni 1948.

Saya sengaja mengatakan Aceh pernah dijuluki sebagai daerah modal. Hal ini karena tidak adanya bukti-bukti berupa monumen yang menandakan bahwa daerah ini adalah modal bangsa Indonesia. Yang ada hanya monumen mengenai sumbangan rakyat Aceh kepada rakyat Indonesia, salah satunya Monumen Pesawat Dakota RI-001 di Blang Padang. Padahal modal yang sesungguhnya diberikan oleh rakyat Aceh bukanlah hanya sumbangan berupa barang semata, tetapi darah dan nyawa. Itulah modal utama yang diberikan para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia selama 1945-1949.

Mengapa pertempuran di front Medan Area lebih dikenal dari Aceh? Bukankah pasukan yang dikirim ke Medan Area adalah para pejuang dari Aceh? Hal ini dikarenakan adanya monumen yang menjadi bukti perjuangan dalam pertempuran tersebut. Di sepanjang jalan dari Langkat sampai ke Medan kita bisa melihat begitu banyaknya monumen yang berdiri dan menghiasi setiap persimpangan.

Bulan Juli kemarin, saya mengunjungi seorang Purnawirawan Militer Angkatan ‘45 bernama Teuku Alibasya Talsya, dan sedikit berdiskusi mengenai peran rakyat Aceh pada masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia (1945-1949). Beliau banyak bercerita mengenai beberapa pengalamannya di masa itu. Sewaktu bercerita, raut wajah beliau sesekali terlihat sangat sedih dan terkadang gembira.

Raut wajah sedih tampak pada saat beliau menceritakan bagaimana keadaan mereka sewaktu Belanda melakukan serangan melalui udara dan kegigihan mereka saat berperang. Sedangkan raut wajah gembira ditunjukan sewaktu menceritakan kemenangan yang diraih saat melawan propaganda Belanda di dunia internasional melalui radio yang mereka gunakan hingga menjadikan Indonesia merdeka seutuhnya. Ini karena peristiwa yang dialami beliau pada saat itu sungguh tidak dapat dibayangkan oleh kita saat ini yang telah menikmati kemerdekaan.

Pada diskusi tersebut beliau mengatakan, “Aceh merupakan daerah modal, apabila pada saat itu Ibu Kota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) tidak dipindahkan ke Aceh, maka Indonesia sudah dianggap tidak ada. Karena selain Aceh, seluruh daerah Indonesia lainnya sudah dikuasai oleh Belanda”.

Pemberian julukan Aceh sebagai daerah modal langsung dikatakan oleh Presiden Soekarno pada pidatonya di Blang Padang tanggal 16 Juni 1948,“Wahai anak-anak ku rakyat Aceh, hari ini bapakmu berkata tulus dari dalam hati. Tanpa Aceh, Indonesia tidak akan pernah ada. Aceh adalah daerah modal. Hanya Aceh yang masih tersisa dan dimiliki Bangsa Indonesia untuk saat ini”, ungkap beliau sambil meniru gaya pidato Soekarno.

Permintaan untuk didirikannya monumen yang menandakan Aceh daerah modal pernah disampaikan T.A. Talsya dan Angkatan ‘45 lainnya kepada Pemerintah Daerah Aceh saat menghadiri jamuan makan dalam memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia. Akan tetapi, sampai saat ini monumen yang diharapkan tidak juga berdiri. Bila mengadakan jamuan, pemerintah mampu memenuhinya dengan menu yang sangat luar biasa dan menghabiskan biaya yang besar. Sedangkan untuk membangun sebuah monumen bersejarah saja saat ini tidak bisa dan malahan berdalih seribu alasan.

Para Purnawirawan Militer Angkatan ‘45 akhirnya lelah dengan janji mendirikan monumen yang diucapkan oleh pemerintah daerah ketika bertemu. Angkatan ‘45 juga enggan bila harus mengunjungi dan mengemis kepada gubernur hanya untuk meminta didirikannya monumen tersebut. “Tujuan kami meminta untuk didirikannya monumen Aceh sebagai daerah modal kepada pemerintah bukan agar supaya kami dikenang. Tetapi agar kelak menjadi bukti sejarah untuk generasi Aceh selanjutnya dan tidak hilang begitu saja ditelan masa”, satu ungkapan kekecewaan dari Pak T.A. Talsya.

Sejarah suatu bangsa tidak akan diakui oleh bangsa lain apabila tidak ada bukti terjadinya suatu peristiwa oleh bangsa itu sendiri. Peran Aceh dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia (1945-1949) merupakan suatu peristiwa besar dari sejarah Indonesia, khususnya Aceh. Modal yang berasal dari darah dan nyawa para pejuang seharusnya juga diketahui oleh generasi Aceh selanjutnya.

Percuma saja pemerintah selalu mengumbarkan kehebatan Aceh dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia bila itu hanya sebatas lisan. Sejarah Aceh sebagai daerah modal akan hilang karena lisan tidak akan bertahan lama dan semakin musnah seiring masa. Kelak, apa yang bisa dibuktikan kepada generasi Aceh selanjutnya bila tidak ada bukti yang tersisa ataupun sesuatu yang menandakan kehebatan bangsa kita?

Bila tulisan Soekarno tentang cita-cita rakyat Aceh bisa menjadi sebuah monumen di Kopelma Darussalam, sudah sepatutnya pengakuan langsung Aceh sebagai daerah modal yang diucapkan Soekarno juga dibangun sebuah monumen sebagi buktinya.

Tulisan ini saya buat hanya untuk melanjutkan cita-cita dari para Purnawirawan Militer Angkatan ‘45. Setidaknya Pemerintah Aceh dan rakyat Aceh juga mengetahuinya. Ingatlah pengorbanan dan perjuangan yang telah mereka lakukan sehingga kita dapat merasakannya saat ini. Hanya monumen yang diminta mereka berdiri, bukan yang lain, agar sejarah perjuangan rakyat Aceh tidak hilang ditelan bumi.[]

*Mhd. Saifullah adalah Mahasiswa S1 Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Unsyiah.

Editor: SAFRIANDI A. ROSMANUDDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.