06 December 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia

Opini
'Ngon Kamoe Aceh (Komodifikasi Islam)'

...

  • MUDIN PASE
  • 11 July 2019 21:30 WIB

Ilustrasi peta Aceh. Foto istimewa/net
Ilustrasi peta Aceh. Foto istimewa/net

Sebuah video viral beredar beberapa hari ini. Celoteh Denny Siregar. Walau sedikit tendensius video itu cukup menampar saya. Penggambaran yang vulgar terhadap isu poligami.

Isu poligami hanya salah satu isu yang cukup viral secara nasional. Sebelumnya isu cukup "berkualitas" yaitu Isu referendum. Ada pula kisah anarkis pembubaran pengajian. Selanjutnya ada cap yang tertukar di Pidie. Fatwa haram games PUBG. Dan pembubaran konser Band Base Jam. Kemarin muncul pula pelarangan keluar malam kaum wanita.

Belum lagi isu viral--meski tidak viral secara nasional, seperti "hantu proyek" di ULP Aceh. Dan demo terhadap EMM yang dibarengi pernyataan Plt. Gubernur soal investor.

Selain isu referendum dan stempel yang tertukar, semua isu itu terkait dengan Syariat Islam. Ada apa ini? Inikah wajah syariat? Pola pola anarkis menyelesaikan persoalan. Apakah tidak ada jalan lain?

Pertanyaan lanjutan. Buat mereka mengaku pejuang agama, apakah tidak ada persoalan lain yang lebih fokus mereka perbaiki? Yang sebenarnya amat membutuh perhatian para pejuang Islam. 

Misalnya, terkait isu poligami. Kaum agamawan malah terseret arus itu. Padahal, anggota DPRA diduga sedang "menghambur hamburkan" anggaran. Mereka sedang melakukan "tur" ke luar negeri. Sebagian di antara mereka adalah anggota dewan yang gagal terpilih lagi.

Apakah ini bukan sebuah kemungkaran? Menghabiskan uang rakyat buat "melancong". Sama sekali tidak ada manfaatnya buat Aceh. Tapi kok tidak kita dengar ulama mengkritik atau bahkan mengutuk.

Begitu juga terhadap kinerja pemerintah Aceh. SiLPA yang besar. Pelayanan publik tampak amburadul. "Mafia proyek merajalela". Isu KKN sangat mengemuka. Mengapa pada diam. Bukan hanya kalangan ulama, bahkan elite Aceh lainnya tampak tidak selera bermain di isu ini.

Sedangkan isu seperti referendum, cap yang tertukar, pembubaran pengajian, ditanggapi banyak pihak. Bahkan di lini massa bertebaran berbagai versi status.

Begitu juga pemerintah kota Banda Aceh. Jika membandingkan dengan pemerintah periode lalu, maka pemerintah di bawah Aminullah Usman terkesan "phak luyak". Tapi tidak kita dengar ada kritik dari kaum pejuang syariat Islam. Tanya mengapa?

Padahal buruknya kinerja pemrintah Aceh, dan pemerintah di bawahnya adalah malapetaka besar bagi manusia dan agama. Mereka gagal menjalankan amanah. KKN misalnya, jelas lebih merusak dibanding wahabi, konser band Base Jame atau games PUBG dan larangan wanita keluar malam.

Saya bukan anti upaya penegakan syariat Islam. Tapi Allah tidak memilah milah kemungkaran. Semua yang mungkar tetaplah mungkar. Wajib dicegah atau dihentikan. Dan buruknya kinerja pemerintah, dugaan perilaku KKN elite pemerintah adalah kemungkaran amat besar. Sebab efeknya langsung dirasakan dalam waktu segera.

Nah, perilaku yang tidak pukul rata ini, menimbulkan banyak pertanyaan. Mengapa para ulama dan pejuang syariat Islam tidak masuk ke ranah ini untuk angkat bicara, mengkritik. Misalnya, mengutuk perilaku KKN. Bahkan kalau perlu ada fatwa tentang gagalnya pemerintah.

Saya yakin kalau ini terjadi pejabat pada takut KKN. Sebab kaum agama dan institusi akan menolak sumbangan dari sumber tak halal itu. Akan menolak anggaran pokir yang diduga wajib setor.

Maka jangan salahkan jika ada pihak yang menduga, kericuhan kericuhan ini didesain. Dibuat dengan sengaja. Dan by order oleh politikus. 

Saya sendiri terkadang melihat perilaku ini. Sebagai mana perilaku elite gereja dengan penguasa di abad pertengahan di Eropa. Perselingkuhan yang menjadikan agama sebagai komoditas. Yang hanya dijual untuk kepentingan raja raja . Mereka memanipulasi massa alias umat dengan berbagai konspirasi.

Semoga tamsilan saya salah. Dan saya yakin kaum agamawan dan elite Aceh tidak senaif itu. Barangkali mereka lupa. Bahwa keberhasilan pemerintah akan membahagiakan rakyat . Rakyat yang umumnya Islam. Artinya bila pemerintah sukses, syiar Islam akan meninggi. Aceh akan mencatat sukses story penerapan syariat Islam.

Selama ini tumpahan uang gagal mendatang kesejahteraan rakyat. Dua Gubernur telah tervonis korupsi. Bukankah kemiskinan akan memdatangkan kekufuran. Tanggung jawab umat ada sepenuhnya di tangan umara dan ulama. Maka mari kita tekan pemerintah dengan agama agar lebih baik melayani dan tulus.[]

*Penulis adalah putra Aceh yang berprofesi sebagai jurnalis. Opini ini pandangan pribadi penulis.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.