26 August 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Nissa Sabyan dan Padi IF8

...

  • portalsatu.com
  • 28 July 2019 08:00 WIB

Oleh Taufik Sentana

Peminat kajian sosial dan budaya pop


Tadi malam (27 Juli 2019), Grup musik religi (gambus) baru saja tampil di Stadion Jalan Pancing Medan Timur. Kegiatan tersebut diprakarsai oleh Ikatan Alumni Pesantren Darul Arafah (IKAPDA). Konser yang bertajuk "Simponi religi untuk kemandirian yatim dan dhuafa"  itu sangat diapresiasi oleh masyarakat Medan, terutama oleh kawula muda.

Khoirunnisa atau lebih dikenal dengan Nissa Sabyan (umur 20 tahun) adalah penyanyi yang tergabung dalam grup musik Sabyan Gambus sebagai vokalis. Nissa dikenal publik karena sering menyanyikan ulang (cover) lagu-lagu bernuansa islami ataupun salawat nabi. Video klipnya telah ditonton jutaan kali dan sering menjadi trending di Youtube.


Grup Musik Sabyan Gambus mulai dikenal publik karena sering membawakan lagu-lagu islami ataupun sholawat nabi, baik dengan menyanyikan ulang (cover) ataupun menyanyikan karya baru. Grup musik beranggotakan beberapa orang alumni pesantren yang berkedudukan di Ibu kota Jakarta. Hingga saat ini, jutaan orang telah berlangganan di channel Youtube-nya (Sabyan Official) yang mulai mengunggah video sejak 2017 lalu.

Sabyan Gambus dibuat awalnya untuk acara-acara pernikahan. Personelnya terdiri dari Khoirunnisa alias Nissa (vokalis), Anisa Rahman (vokalis dua), Ayus (kibor), Kamal (pemain gendang), Tebe (pemain biola) dan Sofwan (MC). Kumpulan lagu salawat yang paling populer dibawakan Nissa Sabyan Gambus, di antaranya Ya Maulana, Deen Assalam, Ya Jamalu, Law Kana Bainanal Habib, Ya Habibal Qolbi, Rahman ya Rahman, Ya Asyiqol Musthofa, Ahmad Ya Habibi, Ya Taiba, Qomarun, Assalamualaika ya Rasulullahdan lainnya.

Grup Sabyan Gambus menjadi viral karena setiap mengeluarkan video baru selalu jadi trending. Penontonnya yang mencapai puluhan juta bukan hanya dari Indonesia saja melainkan juga dari luar negeri. Tampil berbeda, grup asal Jakarta ini mengusung tema musik gambus dari Timur Tengah. Kemasan dan aransemen yang lebih kekinian, menghadirkan musik gambus yang berbeda dan unik..

Demikian adalah ulasan singkat tentang gender baru musik tanah air yang memiliki positioning tinggi di khalayak milenial. Adalah sebuah keberanian untuk melawan arus deras musik modern yang condong hedonis. Grup gambus ini berhasil memikat hati masyarakat di tengah demam lagu korea, dangdut dan pop Barat.

Keberhasilan Nissa Sabyan mungkin diukir dengan seberapa jumlah penontonnya, sedangkan benih padi IF8 diukur dengan laporan panen puluhan ton dari kaum tani setempat yang menggunakan benih tersebut. Konon, dalam satu hektar bisa mencapai 10 ton dengan tingkat gangguan hama yang rendah, batang padinya kokoh dan tidak mengundang kehadiran tikus.

Tak ada Kaitan Ilmiah

Tulisan ini tidak memiliki kaitan ilmiah dengan bemih padi IF8 yang menjadi buah bibir sepekan jni (setelah berita rancangan Qanun Poligami). Hanya saja, dari perspektif kreativitas dan budaya pop keduanya memiliki energi potensial yang sama. Bila Nissa Sabyan menjadi ikon bagi gairah musik anak muda dengan konsep gambus/religi dan berhasil eksis dalam dua tahun terakhir ini, maka IF8 yang populer dan melekat di benak publik karena Sentuhan Tangan Keuchik (kepala desa)  Tgk. Munirwan lewat praktik tani di kampungnya dan bahkan di skala nasional (juara dua inovasi desa)

Kemudian populeritas IF8 semakin meroket karena banyaknya pihak yang menyayangkan penahanan atas Tgk. Munirwan yang "membesarkan" IF8, ia ditahan karena delik pidana (dinas terkait mengaku tidak melaporkan) sehingga polisi turun tangan. Tokoh tani ini ditangkap karena telah menyebarkan benih secara ilegal (terancam 7 tahun penjara).  Petani kita ini sama dengan Nissa Sabyan dalam hal melawan arus, di tengah rendahnya semangat inovasi / kreativitas (budaya kerja rendah) dan banyaknya persaingan tak sehat antarproduk. 

Nissa Sabyan dan IF8 akan tetap memiliki pasarnya sendiri. Nissa tidak hanya datang ke pasar dan menjual, tapi  sedari awal ia "membangun" pasarnya, mengenalkan produk dalam nilai yang ia kenal dan hayati, hingga akhirnya tersegmentasi dalam arus budaya pop massa yang tersentuh perkembangan teknologi medsos. 

Sedangkan IF8 masih membutuhkan pola yang lebih prosedural karena bersinggungan langsung dengan "negara"/kekuasaan, jadi IF8 (baca sitem tani kita )memerlukan bungkus yang lebih elegan dan "ramah" dari sekadar "Tampil" di panggung seperti Nissa Sabyan. Padahal, masalah tani (padi-beras) lebih pokok dan lebih dibutuhkan oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Akhirnya, dari Nissa dan petani IF8 kita belajar bahwa produk lokal akan bisa bertahan selama kita dapat berkreasi dan meningkatkan kualitas tanpa mengesampingkan rasa modern. Di sisi lain, pemerintah hendaknya lebih mengedepankan kepentingan dan kebaikan umum dari sekadar menjaga prosedur (misal, jasa paten milik balai bank benih)  yang mungkin prosedur itu hanya menguntungkan segelintir pihak.

"Sebagian referensi tentang Nissa Sabyan  diambil secara bebas dari Wikipedia, 2019.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.