27 June 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Pemberdayaan Ummat Berbasis Masjid

...

  • portalsatu.com
  • 22 March 2019 07:30 WIB

Oleh Taufik Sentana

Ikatan Dai Indonesia. Kab. Aceh Barat

Pada periode Madinah Nabi Muhammad SAW pernah menyaksikan permainan ketangkasan tombak di masjid Nabawi. Permainan tersebut dibawakan oleh beberapa orang dari Afrika. Termasuk juga disaksikan oleh kaum wanita, karena Aisyah RA yang menjadi sumber dalam Hadis tentang kegiatan di atas.

Dari sisi lain, dalam tradisi saat itu dan para sahabat setelah Beliau, adalah terbentuknya halaqah (lingkaran majlis ilmu dan zikir) selepas menunaikan shalat fardhu. Hingga pada akhirnya masjid menjadi sentra penguatan ummat, tidak hanya secara simbolik tapi melekat dalam keseharian.

Berdasarkan gambaran kecil di atas, dalam kondisi keummatan yang mendesak untuk dikonsolidasikan (karena perkara ukhuwah dan ikhtilaf, misalnya), maka sangat perlu membangun kembali pandangan aplikatif tentang peran masjid.

Kiranya beberapa poin dan langkah kecil yang penulis hadirkan di bawah ini dapat diapresiasi dengan baik.

1. Memperkuat struktur kemasjidan dan merevisi fungsi "Remaja Masjid" agar lebih relevan dan efektif serta dapat menjangkau kebutuhan jamaah, terutama di sekitaran masjid.

2. Menyelenggarakan program yang variatif dan tidak seremonial belaka. Kita perlu masjid dengan Taman Baca,Taman Bermain, Klinik, koperasi, layanan antar jemput, bazar, pasar murah dst.

3. Menghidupkan kembali tradisi belajar berbasis masjid. Yaitu dengan kegiatan ta'lim yang merangkum kehidupan jamaah, tidak hanya membahas fiqih dan tauhid, tapi juga materi anak muda, rumah tangga, ekonomi Islam, kajian sains dalam isyarat Alquran, markaz tahfiz dsb. 

4. Memaksimalkan Forum Jumat sebagai pembangun kesadaran kolektif dan mewujudkan solidaritas sosial dengan program bantuan untuk yatim,  akses modal, bantuan dan pemyerahan infaq  serta menyiarkan program program masjid. Sambil tak lupa menginput masjid mana yang belum maksimal pengelolaannya.

5. Mengelola dana masjid secara terbuka, efektif dan produktif. Artinya pihak masjid hendaknya mengklasifikasi jenis pendanaannya,  agar bisa dialokasikan ke sektor non fisik, misal, 40% dana untuk fisik, selebihnya untuk program berbasis masjid sebagaimana beberapa item di atas, termasuk dana operasional. Bila ada satu masjid besar dengan pembangunan yang memadai, mendapatkan hasil infaq mingguan sebesar 4 juta, dan ini bisa terkelola dengan baik, maka dampak sosial-ekonomi dan dakwahnya akan lebih kental.

6. Membangun sinergitas antar komponen, baik pemerintah, tokoh masyarakat, pengusaha, pemuda dan unsur lainnya dalam rangka mewujudkan "Visi" masjid untuk melayani ummat dengan bingkai Rahmatan Lilalamin.

Semoga catatan kecil ini bermanfaat dalam rangka menambatkan hati kita ke masjid, hingga kita layak mendapat payung pelindung di mahsyar kelak.[]

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.