10 August 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia

Opini
Pemerintah dan Benalu Investasi

...

  • MUDIN PASE
  • 21 May 2020 10:40 WIB

ilustrasi @google
ilustrasi @google

Alkisah beberapa tahun lalu jelang lebaran perusahaan kami banyak dapat kartu ucapan selamat Idulfitri. Salah satunya dari anggota DPRD setempat. Seperti biasa dalam amplop kartu ucapan ada amplop kosong. Intinya mereka minta sumbangan untukĀ  santunan.

Esoknya mereka kembali untuk mengambil amplop kosong itu. Dengan harapan telah kita isi. Kepada staf saya katakan suruh temui saya. Esoknya timnya ini kembali lagi dan temui saya.

Saya kembalikan dengan isi Rp100 ribu langsung timnya marah. Dianggap menghina bosnya. Saya pun menceramahi mereka." Sampaikan pada bapak itu, saya kemari bawa uang, itupun pinjaman bank, buka usaha di sini dan memperkerjakan puluhan warga sini. Artinya saya kasih makan warga yang seharus juga tugas dia selaku dewan. Hargai saya jangan malah memberatkan."

Sambil ngomel mereka pergi. Usai lebaran saya mulai dikerjai. Dengan alasan polusi laporan warga. Dipanggil dengan surat resmi komisi lingkungan DPRD. Saya tidak mau datang. Akhirnya dikirimi surat mereka akan datang ke pabrik. Saya minta staf sediakan aja aqua gelas. Tapi mereka tak datang.

Begitu juga saya hadapi yang ngaku wartawan, LSM, organisasi buruh dan lain lain. Sampai mereka bosan menemui saya. "Bapak ini jago kali ceramah" begitu kira kira gerutu mereka.

Jadi inilah contoh sikap banyak pihak ke investor/pebisnis. Dianggap banyak uang. Maka dipalak, dipersulit supaya keluar uang. Sejatinya pengusaha/investor itu layak perlakukan sepantasnya. Dipermudah urusannya. Tak perlu dihargai tapi jangan ditekan, sebab mereka membuka lapangan kerja, membayar pajak, meningkatkan nilai tambah serta multiplayer efek lainnya.

Di manapun di dunia, investasi syarat majunya ekonomi. Makanya kalau di beberapa negera investor seperti raja. Di ASEAN, misalnya Vietnam, Kamboja atau Laos. Kabarnya ketika ingin investasi, company profil kita mereka telusuri. Jika kredibel dan bonafid, maka mereka akan mendatangi kita. Kita cukup tunggu dan lengkapi persyaratan. Semua beres diurus pemerintah, dan tanpa pungutan. Kita juga akan dapat banyak kemudahan. Misalnya konsensi lahan, infrastrutur dasar dan keringanan pajak.

Jadi silahkan nilai sendiri. Untuk kasus Trans Continent. Kalau menurut narasi pendukung pemerintah, mereka banyak nuntut. Di manapun mau invest jangan pikir mereka banyak nuntut. Tapi berikan mereka senyaman mungkin. Jika tidak gak usah sok gembar gembor bangun kawasan industri. Tak penting mereka datang karena diundang atau menawarkan diri.

Saya amat kecewa dengan penjelasan T Ahmad Dadek. Sepertinya beliau benar benar mewakili pola pikir rusak. Jadi mereka baru senang dengan investor, seperti rencana perusahaan China invest di semen Laweueng, karena si pejabat bisa jalan jalan, bisa bersenang senang dibiayai negara. Tak ubahnya seperti benalu yang aji mumpung. Jadi, kalau pemikiran masih seperti itu, gak usahlah gembar gembor investasi. [**]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.