27 April 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Pemulia Jamee

...

  • portalsatu.com
  • 12 April 2018 08:30 WIB

Hidangan untuk besan ala Aceh Besar. @helloacehku.com
Hidangan untuk besan ala Aceh Besar. @helloacehku.com

ACEH adalah salah satu propinsi yang terletak di penghujung Indonesia. Aceh merupakan daerah dengan budaya, dan adat-istiadat yang masih kental dan tentu berbeda dari provinsi atau daerah lainnya. Aceh juga satu-satunya propinsi yang memberlakukan sistem pemerintahan syariah di Indonesia. Oleh karena itu kebiasaan, budaya, dan adat-istiadatnya pun tidak jauh dari aturan Islam.

Salah satu kebiasaan atau budaya unik orang Aceh dari segi sosial adalah “pemulia jamee”. Kebiasaan ini sudah dilakukan turun-temurun. Aplikasi budaya ini tidak hanya dilakukan untuk orang-orang tertentu saja, tetapi diterapkan untuk semua orang dari berbagai kalangan, tanpa pandang bulu.

Pemulia jamee secara bahasa memiliki makna memuliakan tamu. Menariknya dalam hal menjamu tamu, masyarakat Aceh tidak tanggung-tanggung. Tamu diperlakukan layaknya raja, dan disuguhi berbagai macam hidangan. Bahkan dalam upaya menyenangkan tamu, masyarakat Aceh sendiri senang menyuguhi makanan mewah dan enak, meskipun terkadang mereka tidak memiliki uang yang banyak. Hal ini membuat orang dari luar Aceh angkat topi, dan menaruh hormat kepada oang Aceh.

Menilai dari sudut pandang orang Aceh sendiri, menurut mereka memuliakan atau menjamu tamu dengan baik adalah sebuah kewajiban yang telah diperintahkan dalam agama Islam. Membuat tamu bahagia, dan merasa nyaman memiliki nilai tersendiri bagi orang Aceh. Perasaan bangga dan puas akan dirasakan jika berhasil menjamu tamunya dengan sangat baik.

Lalu, bagaimana penjelasan kebiasaan unik “pemulia jamee” jika dilihat dari sudut pandang ilmu psikologi soaial? Menurut ahli psikolog sosial, pola-pola kebudayaan di mana seseorang hidup, mempunyai pengaruh yang fundamental terhadap kepribadiannya dan tingkah laku sosialnya. (Santoso, 2010). Dari sini kita bisa melihat bahwa “pemulia jamee” sudah menjadi kepribadiannya orang Aceh yang telah diwariskan selama berabad-abad silam.

Lalu bagaimana menjelaskan terkait kesukarelaan dalam memberi perhatian sepenuhnya kepada tamu tanpa pamrih bahkan ketika untuk diri sendiri saja tidak cukup? Mengapa perilaku seperti yang dipaparkan tadi bisa terjadi? Bagaimana psikologi sosial melihat fenomena tersebut?

Orang Aceh memiliki kesadaran yang tinggi bahwa dirinya merupakan makhluk sosial. Seperti yang dikemukakan oleh Kuypers salah satu ahli psikologi sosial, bahwa haikiat manusia salah satunya adalah makhluk yang dituntut untuk saling mengadakan hubungan dengan individu lain dalam kehidupannya, sejak individu membentuk pribadinya, mulai dari usia 5/6 tahun hingga meninggal.

Menurut ahli psikologi sosial lainnya Mac Iver dan Charles Page Individu memiliki perasaan kemasyarakatan dan menyebabkan setiap individu bersedia bertingkah laku untuk kepentingan individu lain disebut Community sentiment. Dari penjelasan tersebut, bisa kita simpulkan orang aceh memiliki kesadaran Community sentiment yang cukup tinggi. Selain hal itu, bisa jadi tingkat alturisme masyarakat Aceh juga tinggi.

Alturisme itu sendiri adalah perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri, secara sukarela dan tanpa beban. Perilaku ini merupakan kebajikan yang ada dalam banyak budaya dan dianggap penting oleh beberapa agama.

Tidak perlu diherankan lagi, seperti paparan tadi, Aceh merupakan mayoritas muslim, dan dalam agama Islam perilaku memuliakan tamu, menolong atau melayani saudara sesama muslim merupakan sebuah kewajiban, dan hal ini akhirnya juga mempengaruhi budaya orang Aceh.

Itulah penjelasan singkat terkait perilaku “pemulia jame” masyarakat Aceh dari kacamata psikologi sosial.

Penulis: Amalia Safitri, Mahasiswa aktif prodi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala.

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.