19 July 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Penawar Penyakit Sosial

...

  • PORTALSATU
  • 17 October 2018 09:30 WIB

ilustrasi tawuran pelajar. @atrikahblogspotcom
ilustrasi tawuran pelajar. @atrikahblogspotcom

"Yang kuinginkan hanyalah perbaikan semampuku" (Alquran)

Oleh Taufik Sentana*

Setiap masyarakat pada setiap zaman dan tempat menghadapi problematikanya sendiri. Masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan logika dan kebiasaan dalam menyelesaikan permasalahan yang berjangkit dalam sistemnya. Sebab, bisa saja akal dinodai oleh kepentingan tertentu, sedang kebiasaan bisa saja bertentangan dengan norma yang lebih tinggi.

Majunya perkembangan teknologi yang signifikan, juga menyisakan dampak negatif secara individu, seperti keterasingan (alineasi) dan menonjolnya sikap individualistik sehingga merusak norma sosial yang umum berlaku. Demikian pula, penyalahgunaan TIK untuk kepentingan kriminal, pergaulan bebas, perjudian, dsb.

Suatu masyarakat dengan acuan normanya tersendiri dan terukur, akan dapat dengan mudah mengenal ketimpangan yang terjadi dan "lumrah" dilakukan oleh warganya. Misalnya, Indonesia dengan nilai lokal Islam yang dianut oleh sebagian besar warga, maka penyimpangan akan ini dapat dikategorikan sebagai bentuk dari penyakit masyarakat/sosial. Kemudian, prinsip-prinsip dan rasa kemanusiaan yang normatif, juga dapat menjadi acuan dalam menakar penyimpangan dan ketidaknormalan suatu masyarakat.

Secara universal, ajaran Islam memang sejalan dengan tujuan masyarakat dunia secara umum. Dengan mengecam pembunuhan, perjudian, pergaulan/seks bebas, kezaliman, termasuk korupsi, serta minuman keras dan obat-obat terlarang. Bila ada sekelompok masyarakat yang melanggenggkan hal di atas, misalnya, itu menunjukkan betapa menjauhnya mereka dari tatanan keadaban dan rasa kemanusiaan. Menonjolnya penyakit sosial tersebut, serta minimnya penanganan secara konstan dan menyeluruh, hanya akan membawa masyarakat pada tepi kehancurannya sendiri.

Untuk menyikapi kendala sosial di atas, yang tampaknya semakin merambah ke generasi muda, khususnya , serta maraknya kriminalitas, ancaman perceraian dalam rumah tangga dan sebagainya. Sangat diperlukan usaha yang konstan dan sinergi agar perbaikan di masyarakat terwujud.

Tiga penawar sederhana

Di ruang kecil ini ada tiga catatan yang mungkin bisa menjadi penawar dan awal perbaikan.

Pertama, fokus pada tata nilai pergaulan. Hal ini dapat ditengarai dari Sabda Baginda kita, betapa besarnya pengaruh lingkungan dan teman bergaul dalam membentuk perilaku seseorang. Batasan ini dapat dimulai di rumah, sekolah dan lembaga pemerintah. Terutama batasan yang mengacu pada prinsip syariat (nilai lokal kita) yang paling masyhur dan ma'ruf. Misalnya, jam malam bagi pelajar dan perempuan. Fokus dalam hal ini juga sejalan dengan prinsip pemberitaan, media dan budaya lisan dan tulisan dalam keseharian kita yang mengedepankan keramahan kultural.

Kedua, memperkuat strukur sosial. Ikatan persaudaraan, solidatitas dan rasa keagamaan menjadi pemantik kuatnya ikatan struktur sosial. Sikap ini menghilangkan rasa cuek dan abai sehingga mendorong seseorang untuk terlibat dalam perbaikan anggota masyarakat melalui mekanisme yang lazim dikenal. Memperbanyak sosialisasi, pembinaan dan bahkan razia dapat menjadi bagian yang penting pada poin ini. Termasuk juga usaha peningkatan pelayanan publik, yang dengannya akan menambah kepercayaan masyarakat akan pemerintah.

Ketiga, menyiapkan "DNA" baru. Yaitu, dalam makna mengedepankan upaya merangkul dan memberdayakan potensi generasi muda dan mereka yang berada dalam usia produktif, untuk menjadi duplikat perbaikan masyarakat ke depan. Tanpa menyiapkan secara khusus poin ini, akan menyisakan "Kehilangan Generasi" yang menyedihkan. Saat kita memyaksikan banyak gemerasi muda yang abai dalam perbaikan sosial dan terjebak dalam romantisme global yang mengedepankan tren, gaya hidup dan sikap instan.

Semoga risalah kecil ini bermnafaan dan menjadi refleksi bersama, terutama bagi lembaga dan pejabat terkait.[]

*Taufik sentana
Dari Ikatan Dai Indonesia Kab. Aceh Barat
Peminat kajian sosial dan budaya.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.