30 March 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Pendidikan yang Tertukar

...

  • portalsatu.com
  • 14 February 2020 16:00 WIB

Kasmiyanti, S.Pd.
Kasmiyanti, S.Pd.

Oleh: Kasmiyanti

Pro dan kontra terhadap setiap bentuk penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan oleh suatu instansi menjadi suatu keunikan tersendiri dalam setiap daerah. Namun kesemuanya memiliki tujuan yang sama yaitu meningkatkan mutu pendidikan bagi keberlangsungan hidup anak bangsa.

Pendidikan yang tertukar mungkin menjadi warna tersendiri dalam menyoroti berbagai persoalan pendidikan di negara ini. Pendidikan yang seyogyanya sesuai dengan khasanah dan budaya dalam suatu daerah, namun dipasakan oleh perubahan zaman untuk mengikuti tren pendidikan daerah lain.

Dampak dan akibat akan timbul akibat dari pergeseran paradigma dan model penyelenggaraan pendidikan yang kita ikuti. Model pendidikan yang sudah jauh dari khasanah suatu daerah dan sangat sulit untuk diterima oleh sebagian masyarakat di daerah tersebut. 

Penulis akan merunut satu persatu akibat dari pergeseran model pendidikan yang notabene harus dimulai dari pendidikan dalam keluarga kita masing-masing. Beberapa pekan lalu publik Aceh dihebohkan oleh berbagai perilaku menyimpang yang dilakukan oleh kalangan remaja, hal bukanlah yang pertama didapati di Aceh. Jauh hari sebelumnya juga pernah didapati bahwa ada remaja yang sudah terlibat dan masuk dalam dunia prostitusi atau freesex. 

Harus diakui, adanya problema ini apalagi melihat budaya masyarakat Aceh yang Islami, telah menciptakan suatu kegaduhan atau keresahan tersendiri bagi masyarakat Aceh. Betapa tidak, masyarakat Aceh dulu tidak pernah mengenal perilaku remajanya yang menyimpang seperti yang marak terjadi dewasa ini. Dalam logika sosial, setiap perbuatan manusia yang sudah menimbulkan keresahan orang banyak disebut sebagai masalah sosial.

Kepolisian Republik Indonesia (2014) merilis dari 11 kasus yang menonjol, pencurian dengan kekerasan tercatat mengalami peningkatan sebesar 17 persen dibanding 2015. Sementara itu, kasus kenakalan remaja mengalami peningkatan cukup signifikan, yaitu sebesar 36,66 persen.

Sebaliknya, tindak kejahatan pemerkosaan termasuk yang menurun cukup banyak, yakni 22,53 persen. Ke-11 (jenis) kasus menonjol itu sendiri di antaranya adalah pencurian dengan kekerasan (curas), pencurian dengan pemberatan (curat), penganiayaan berat, pembunuhan, pencurian kendaraan bermotor, kebakaran, judi, pemerasan, perkosaan, narkotika, serta kenakalan remaja. 

Berbagai tokoh pakar dalam bidang tersebut, baik pakar hukum, psikolog, pakar agama dan lain sebagainya selalu mengupas masalah yang tak pernah habis-habisnya ini. Kenakalan remaja, seperti sebuah lingkaran hitam yang tak pernah putus, sambung menyambung dari waktu ke waktu, dari masa ke masa, dari tahun ke tahun dan bahkan dari hari ke hari semakin rumit. Masalah kenalan remaja merupakan masalah yang kompleks terjadi di berbagai kota di Indonesia khususnya di Aceh. 

Sejalan dengan arus globalisasi dan teknologi yang semakin berkembang, arus informasi yang semakin mudah diakses serta gaya hidup modernisasi, disamping memudahkan dalam mengetahui berbagai informasi di berbagai media, di sisi lain juga membawa suatu dampak negatif yang cukup meluas di berbagai lapisan masyarakat.

Lantas timbul pertanyaan, apa yang membuat atau mengarahkan para remaja ini masuk ke dalam perilaku menyimpang?

Sosiologi menawarkan ragam pendekatan atau perspektif dalam melihat perilaku menyimpang yang telah menjadi masalah sosial ini. Salah satunya adalah melalui pendekatan fungsionalisme struktural. Fungsionalisme struktural merupakan sebuah pendekatan yang dikemukakan oleh Robert K. Merton, yang menjelaskan bagaimana sebuah struktur yang terdiri dari berbagai elemen-elemennya itu berfungsi (Damsar, 2013). Dalam asumsinya, setiap elemen (bagian) memiliki fungsi dan saling berkaitan dengan elemen yang lainnya. Rusaknya atau melemahnya fungsi sebuah elemen akan berpengaruh pada elemen lainnya.

Tak bisa dipugkiri maraknya remaja yang terjerumus dalam perilaku menyimpang adalah dikarenakan melemahnya fungsi keluarga. Di antara banyaknya fungsi keluarga yang diharapkan adalah fungsi pendidikan. Artinya dalam masyarakat di manapun, keluarga harus mampu untuk memberikan nilai-nilai edukasi bagi anggota keluarganya. Keluarga harus mampu menjadi agen dalam mensosialisasikan setiap nila-nilai yang ada dan berkembang pada lingkungan masyarakat setempat. 

Perubahan Pola Pendidikan
Pergeseran nilai-nilai budaya dalam masyarakat terjadi seiring pengaruh dari globalisasi dan pengaruh budaya lain. Perkembangan cyber space, internet, informasi elektronik dan digital, ditemui dalam kenyataan sering terlepas dari sistim nilai dan budaya. Perkembangan ini sangat cepat terkesan oleh generasi muda yang cenderung cepat dipengaruhi oleh elemen-elemen baru yang merangsang.

Suka atau tidak bila tidak disikapi dengan kearifan dan kesadaran pembentengan umat, pasti akan menampilkan benturan-benturan psikologis dan sosiologis. Pada Era globalisasi telah terjadi perubahan perubahan cepat. Dunia menjadi transparan, terasa sempit, hubungan menjadi sangat mudah dan dekat, jarak waktu seakan tidak terasa dan seakan pula tanpa batas. Perubahan yang mendunia ini akan menyebabkan pergeseran nilai-nilai budaya tersebut. Perubahan tersebut meliputi perubahan yang arus globalisasi

Salah satu efek dari modernisasi adalah pergeseran nilai. Hal ini bisa dilihat dari perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Ketika ada unsur baru yang menarik di hati, maka masyarakat pun dengan perlahan tapi pasti akan mengikut pada nilai tersebut. Jika melihat perihal masyarakat kita, pergeseran nilai budaya memang wajar terjadi. Setidaknya ini terjadi karena efek dari modernisasi dan globalisasi.

Terkadang juga nilai budaya yang telah lama dipegang menjadi sedemikian mudah untuk dilepaskan. Itu  dikarena terlalu kerasnya tarikan modernitas. Modernitas seharusnya dimaknai sebagai pertemuan dari berbagai unsur dalam bumi. Ada kebaikan ada keburukan, ada tinggi ada rendah, ada atas ada bawah. Kita perlu selektif dalam mengadopsi unsur budaya yang masuk. Jangan sampai pranata sosial yang telah lama dibangun kemudian runtuh hanya persoalan kemilau modernitas.

Pada masa kepemerintahan Sultan Iskandar Muda misalnya. Bukan hanya dalam hal ekonomi dan agama saja yang terurus, melainkan juga pendidikan yang terpandang. Dulu, banyak orang yang datang dari luar Aceh hanya untuk menuntut ilmu di tanah bertuah ini. Malaysia misalnya. Kebanyakan dari masyarakat Malaysia memilih Aceh sebagai ladang untuk menggarap ilmu pengatahuan sebanyak-banyaknya. Terutama ilmu pengetahuan agama Islam.

Aceh Tempo dulu selalu menempatkan orang tua pada peran dan tangung jawab yang amat besar untuk melahirkan generasi yang akhlakul qarimah. Namun, hari ini, tanpa kita sadari pergeseran budaya terlah terjadi, peran dan tanggung jawab itu sudah mulai terkikis dengan berbagai alasan mulai dari kesibukan sampai dengan masalah ekonomi.

Setiap orang tua harus perpacu dengan waktu demi memenuhi kebutahan keluarga, belum lagi alasan yang tidak rasional yang menggap pendidikan umum bagian dari sebuah keberhasilan juga dipengaruhi pekembangan budaya-budaya asing yang meracuni budaya,adat istiadat dan kearifan lokal.

Belum lagi kita latah mengikut pola pendidikan ala kebarat-baratan. Kita rela menukar model pendidikan kita biar dianggap mengikuti zaman dan tidak kuno. Tanpa kita sadari masyarakat di daerah Aceh khususnya belum siap menerima semua itu. 

Contohkan saja dalam keluarga kita tidak pernah lagi menyuruh anak-anak kita untuk menutup aurat, kita lebih senang melihat anak-anak ktia memakai pakaian seksi atau pakai baju jas tertentu yang jelas tidak sesuai dengan budaya kita. Membiarkan anak-anak bergabung dengan gang tertentu dan juga istilah weekend yang diajarkan pada anak-anak.

Masih banyak yang lainnya budaya barat yang kita ambil dalam mendidik anak kita di rumah. Penulis tidak anti perkembangan zaman, namun masyakarat kita memiliki pola tersendiri dalam mendidik anak. Pola tersebut telah berhasil dilakukan oleh pendahulu kita sebelumnya.

Sudah saatnya kita selaku orang tua untuk kembali membuka lembaran sejarah tempo dulu bagaimana orang tua kita terdahulu mendidik para generasi yang selalu bertumpu pada pengenalan akan aqidah, berbagai konsep pendidikan yang diterapkan tidak terlepas dari pengenalan jati diri sebagai makhluk Allah yang senantiasa menjauhkan larangan sang khalik.

Jauh dari era sekarang ini, landasan pendidikan selama ini hanya bertumpu pada pendidikan formal semata, kalau kita berkaca pada era sebelumnya keseimbangan pendidikan sangat dipertahatikan khususnya dalam penguatan akidah melalui pendidikan keluarga.

Kalau dikaji pada 20 tahun yang lalu, anak-anak di perkampungan dengan di berikan konsep pendidikan keluarga menjadi generasi yang kuat akidah dan memiliki moral yang susuai dengan tuntunan syari’at namun apa yang kita rasakan saat ini?

Dengan ketergantungan pada pendidikan formal dan mengikuti era tehnologi yang serba canggih namun sangat lemah terhadap keimanan yang tertanam pada generasi saat ini, sehingga berbagai sikap moral yang tak lagi tercemin sebagai makhluk yang bermartabat tidak lagi bagian yang harus dujunjung tinggi, hal-hal yang dianggap tabu menjadi hal yang biasa yang setiap saat dipertontonkan pada kita semua.

Salah siapakah ini..? Generasikah yang salah..? Atau pengambil kebijakan..? Yang jelas orang tua. Sangat disayangkan apabila pintu hati kita sebagai orang tua belum terpanggil untuk menjawab tantangan zaman yang semakin lama moralitas generasi Aceh ke depan semakin hacur dan jiwa akhlakul qarimah tidak lagi tertanam dalam jiwa generasi kedepan.

Harapan besar dari tulisan ini adalah dapat memberi sedikit pencerahan atas pertanyaan besar besar selama ini “Pendidikan yang Tertukar” yang mengakibatkan degradasi moral.

Wallahu ‘Alam Bissawab.[]

Kasmiyanti, S.Pd, Guru SDN 7 Baktiya Barat dan Anggota IGI Aceh Utara.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.