25 September 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Pentingnya Manajemen Pengelolaan Dayah

...

  • Helmi Abu Bakar El-Langkawi
  • 12 September 2017 22:00 WIB

Murid (santri) dayah di Aceh. @santridayah
Murid (santri) dayah di Aceh. @santridayah

PENYELENGGARAAN yang bermutu dan semakin merata akan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Efesiensi pendidikan menutut pengelolaan yang semakin terdesentralisasikan. Aparatur pendidikan di daerah harus semakin mampu mengelola dan melaksanakan teknis kependidikan secara otonom. Hal ini di perlukan untuk membangun masyarakat di daerah masing­-masing kearah kemandirian untuk mencapai kehidupan yang semakin merata dan sejahtera.

Sebagaimana diketahui, pendidikan yang bermutu hanya dapat diwujudkan jika dikelola oleh pengelola dan pelaksana teknis pendidikan yang profesional. Profesionalisasi aparatur pendidikan bisa terwujud jika sistem pengelola dan pelaksana teknis pendidikan juga professional. Profesionalisasi hanya dapat diwujudkan jika aparatur pendidikan pada berbagai tingkatan manajemen memiliki kemampuan memahami masalahnya sendiri serta membuat keputusan untuk mengambil tindakan sendiri dalam rangka memecahkan persoalan tersebut.

Namun dari segi ini dapat dilihat, bahwa manajemen pendidikan yang professional dapat diwujudkan melalui peningkatan otonomisasi dalam membuat keputusan serta rencana aksi untuk memecahkan masalah yang terjadi di lingkungannya masing-masing. Disadari bahwa untuk mengurangi kerumitan pelaksanaan pendidikan di Indonesia merupakan tugas yang mahaberat, semakin lama semakin bersifat kompleks, mengandung unsur ketidakpastian, dan selalu berada pada situasi yang cepat berubah.

Sesuatu yang kompleks, yang tidak pasti, dan cepat berubah tadi perlu dikerjakan berdasarkan tim di tingkat lapangan secara kontekstual. Oleh karena itu, otonomi pendidikan yang diberikan tidak cukup pada tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota, namun idealnya harus sampai pada tingkat dayah/ unit kerja. Pimpinan dayah, guru, tenaga administrasi dan tenaga pelaksana diberi tanggung jawab besar untuk melaksanakan otonomi tersebut.

Dengan berjalanya konsep otonomi pendidikan demikian, hakikat pendidikan dikembalikan pada dayah, dalam hal ini pimpinan dayah dan guru, agar mereka dengan penuh kebebasan, kesadaran pribadi, suara hati dan imajinasi kreatif harus mengoptimalkan pelaksanaan dan pembelajaran, pelatihan, pembimbingan dan pengevaluasian agar peserta didik bisa berkembang secara optimal.

Keberhasilan dayah dalam menyelenggarakan pendidikannya sangat ditentukan oleh manajemen pendidikan yang dijalankan di dayah yang bersangkutan. Manajemen  pendidikan merupakan bentuk kerja sama personel pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut. Tujuan umum yang akan dicapai dalam kerja sama ini adalah pembentukan kepribadian siswa sesuai dengan pendidikan nasiaonal dan tingkat perkembangannya pada usia pendidikan. Tujuan ini dapat dijabarkan ke dalam tujuan antara, yaitu tujuan kurikulel, tujuan intruksional umum dan tujuan intruksional khusus.

Manajemen pendidikan merupakan suatu proses yang merupakan daur (siklus) penyelenggaraan pendidikan dimulai dari perencanaan, diikuti oleh pengorganisasian, pengarahan, pelaksanaan, pemantauan, dan penilaian tentang usaha dayah untuk mencapai tujuannya. Oleh karena itu, manajemen pendidikan juga merupakan usaha untuk melakukan pengelolaan sistem pendidikan.

Manajemen Organisasi Pendidikan

Secara umum organisasi dapat diartikan sebagai bentuk kerja sama antara kelompok orang yang bergabung dalam suatu wadah tertentu guna mencapai tujuan bersama seperti yang telah ditetapkan bersama. Meskipun cukup banyak konsep dan pengertian tentang organisasi yang diberikan oleh para ahli di bidangnya, secara sederhana organisasi paling tidak mempunyai tiga unsur, yaitu ada orang-orang, ada kerja sama, dan ada tujuan bersama. Tiga unsur organisasi itu tidak berdiri sendiri, tetapi saling terkait atau saling berhubungan sehingga merupakan suatu kesatuan yang utuh.

Dayah sebagai lembaga pendidikan sudah semestinya mempunyai organisasi yang baik agar tujuan pendidikan dapat tercapai sepenuhnya. Organisasi dayah yang baik menghendaki agar tugas-tugas dan tanggung jawab dalam penyelenggaraan dayah untuk mencapai tujuannya dibagi secara merata dengan baik sesuai dengan kemampuaan, fungsi dan wewenang yang telah ditentukan.

Melalui struktur organisasi yang ada tersebut orang akan mengetahui apa tugas dan wewenang pimpinan dayah, apa tugas guru, apa tugas karyawan (pegawai administrasi), dan lain-lain demikian juga terlihat apakah di suatu dayah dibentuk suatu unit tertentu seperti bagian UKS, bagian perpustakaan, bagian kepramukaan, laboratorium, computer, dan sebagainya sehingga keadaan ini akan mempelancarkan jalannya roda pendidikan di dayah.

Melalui organisasi yang yang baik dapat dihindari tindakan pimpinan dayah yang menujukkan kekuasaan yang berlebihan, suasana kerja dapat lebih berjiwa demokratis karena timbulya partisipasi aktif dan semua pihak yang bertanggung jawab. Dari sini akan lahir berbagai macam kreatifitas, gagasan-gagasan yang penuh improvisasi dan inovatif, sehingga dayah akan bisa berkembang lebih baik dan maju. Kenyataan-kenyataan seperti itulah yang sekarang diharapkan seiring dengan pemberlakuan otonomi pendidikan yang menitikberatkan manajemen berbasis dayah.

Ditinjau dari ukuran dan jenisnya, organisasi pendidikan baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat, umumnya merupakan organisasi yang besar seperti organisasi koporasi, organisasi pendidikan merupakan organisasi yang unit dan berbeda dibandingkan organisasi yang lain. Ciri khas organisasi pendidikan antara lain:Masukan dasarnya (raw inputs) ikut aktif menentukan pencapaian tujuan organisasi, lebih sebagai organisasi nonprofil, prosesnya bersifat ir­-reversible, lebih bersifat laborinternsive,berkesinambungan  dan cendrung sukar berubah.

 Disebabkan raw inputnya merupakan barang aktif, maka perlu kehati-hatian sewaktu menginterprestasikan peran manajemen terhadap kerberhasilan pendidikan karena bukanya tidak mungkin pada satuan pendidikan tertentu kontribusi utama keberhasilan pendidikan lebih terletak pada masukan dasarnya. Konteksnya dengan desentralisasi bisa saja kebutuhan pola manajemen pendidikan menjadi berbeda karena kualitas masukan dasar yang berbeda.

Hal ini bisa memberikan dampak pada perwujudan hubungan organisasi pendidikan antara pusat daerah yang mungkin tidak dapat diseragamkan. Berbeda dengan organisasi lain, organisasi pendidikan selalu didominasi oleh pejabat fungsional sehingga persoalan hubungan hierarki versus hubungan fungsional menjadi menonjol, terutama sekali pada organisasi pendidikan jenjang menengah ke atas.[]

Referensi:

  1. Hasbullah, Otonomi Pendidikan, (Jakarta: Persada, 2006), h. 23.
  2. Tabrani  Rusyan, Manajemen Pembinaan Calon Pimpinan Sekalah Daerah Otonomi Daerah, (Jakarta: Nusantara, 2001), h. 13.
  3. H.A.R.Tilaar, Manajemen Pendidikan Nasional, (Bandung: Rosda Karya,1994), h. 10.

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.