12 July 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia

Opini
Rakyat Singkil, 'Orang Kelaparan di Dapur Umum'

...

  • MUDIN PASE
  • 18 February 2020 21:45 WIB

ilustrasi. Foto: ANTARA
ilustrasi. Foto: ANTARA

Minggu lalu saya ke Singkil. Berangkat dari Medan pagi-pagi. Malamnya kembali ke Medan. Fasilitas jalan cukup baik. Apalagi memasuki Subulussalam dan Singkil. Hampir sepanjang jalan dipenuhi kebun sawit.

Menariknya, data BPS terakhir, Aceh Singkil adalah kabupaten termiskin di Aceh. Warga miskinnya lebih 20 persen. Tentu ini kontrakdiktif dengan luasnya tanaman sawit di sana. Secara nasional saat ini komoditas sawit melahirkan banyak orang kaya. Pertanyaannya, mengapa di kawasan perkebunan itu banyak orang miskin?

Saya sempat berbincang dengan tokoh masyarakat Singkil. Juga dengan beberapa kepala desa di sana. Menurut mereka, sawit rakyat sangat rendah produktivitasnya. Rata-rata 5 ton tandan buah segar (TBS)/hektare/tahun. Padahal, di perkebunan besar produktivitas bisa di atas 10 ton TBS/ hektare/tahun.

Rendahnya produktivitas ini disebabkan beberapa hal. Misalnya, usia pohon sudah di atas 20 tahun. Perawatan dan pemupukan tidak memadai.

Petani takut melakukan replanting sebab takut kehilangan penghasilan. Pasalnya, masa tunggu dari tanam sampai berbuah kembali membutuhkan waktu lebih tiga tahun. Malah sepanjang jalan sebagian petani menanam sawit baru di bawah pohon lama. Jelas ini menyalahi. Akan tetapi, petani memang tidak punya pilihan.

Dan inilah salah satu faktor utama kemiskinan di sana. Begitu juga sektor perikanan kelautan. Nyaris mati, tidak ada tambak atau usaha perikanan. Hanya beberapa yang menjadi nelayan tradisional.

Maka seharusnya pemerintah hadir di sini. Saya membayangkan pemerintah membantu petani melalui program penanaman kembali kebun mereka. Bisa saja bekerja sama dengan kebun besar di sana. Sedangkan biayanya melalui anggaran negara.

Saya berandai andai-andai. Biaya penanaman kembali sekitar Rp25 juta perhektare. Semisal dalam setahun dana desa mengalokasikan 10 hektare (ha). Adalah lebih 100 desa di Singkil. APBK menganggarkan 1000 ha/tahun. APBA alokasi Singkil 1000/ha. Ditambah program pemerintah pusat sekira 500 ha saja. Dalam lima tahun barang kali seluruh sawit tua milik petani telah diremajakan.

Pemerintah bisa bekerja sama dengan perusahaan perkebunan besar di sana. Menjadi induk dari perkebunan plasma. Atau konsultan peremajaan kebun rakyat. Menjadikan lahan petani sebagai kebun plasma. Atau membentuk wadah koperasi yang diurus dengan profesional. Artinya bantuan itu kembali dicicil petani saat masa panen.

Untuk biaya kehidupan selama kebun belum berbuah, mereka menjadi buruh harian di kebun replanting. Intinya jika pemerintah setempat mau, dan peduli sangat mungkin rakyat Singkil menjadi paling kaya se-Aceh.

Menurut tokoh Singkil dan para kepala desa, selama ini pemerintah setempat tidak peduli dengan petani sawit. Bahkan, bantuan pemerintah pusat untuk replanting terkesan KKN. Sehingga bantuan itupun tidak membekas. Sedangkan pembangunan umumnya diarahkan ke fisik. Sejumlah bangunan terlihat terbengkalai. Bahkan, kabarnya ada sekolah yang dibangun puluhan miliar tak pernah dimanfaatkan.

Begitu juga budidaya perikanan. Nyaris tak tersentuh. Sehingga nelayan dan warga sekitar pantai tetap miskin. Padahal, budidaya kepiting, misalnya, sangat cocok di daerah ini. Harga komoditas ini juga tinggi dan selalu terserap pasar.

Maka miskinnya rakyat Singkil lebih karena negara tidak hadir. Padahal, para politikus di sana umumnya petani atau tauke sawit. Aneh bukan, jika mereka membiarkan petani sawit ‘mati’ dalam kemiskinan.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.