25 November 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Rapa-i Dibandingkan dengan Rebana, Penilaian Rekor MURI Dapat Diragukan

...

  • THAYEB LOH ANGEN
  • 14 November 2017 09:20 WIB

Atraksi Rapa-i Uroh yang ditabuh 400 seniman tradisi tampil memukau dalam acara Launching Ikon Seni Budaya Kota Lhokseumawe di Lapangan Hiraq, Minggu sore, 12 November 2017. @SIRAJUL MUNIR
Atraksi Rapa-i Uroh yang ditabuh 400 seniman tradisi tampil memukau dalam acara Launching Ikon Seni Budaya Kota Lhokseumawe di Lapangan Hiraq, Minggu sore, 12 November 2017. @SIRAJUL MUNIR

KABAR mengejutkan tentang seni kebudayaan telah datang dari Lhokseumawe, sebuah kota kecil di leguna pesisir Aceh bagian Utara.

Pihak Dewan Kesenian Kota Lhokseumawe dan Komunitas Rapa-i Uroh mengajukan kepada manajemen Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk menyetujui 400 atraksi seniman Rapa-i Uroh di Lapangan Hiraq pada Minggu, 12 November 2017 masuk dalam rekor MURI.

Namun, perwakilan MURI yang datang ke acara launching Rapa-i Uroh Ikon Seni Budaya Lhokseumawe di Lapangan Hiraq, tersebut menolak rekor untuk 400 penabuh Rapa-i.

Alasannya, bahwa 400 penabuh Rapa-i Uroh tidak pecahkan rekor Indonesia, dengan dalih sudah ada pertunjukan 50 ribu penabuh rebana. Artinya, pihak MURI menyamakan Rapa-i Uroh sama dengan rebana? Anda serius?

Pendapat Manager MURI yang datang ke acara itu merupakan hal yang lucu. Pendapatnya itu apakah mewakili MURI, ataukah mewakili ketidaktahuannya tentang budaya Aceh, juga ketidaktahuannya tentang alat musik perkusi.

Rapa-i dibandingkan dengan rebana? Anda serius?

Kejadian ini, membuat kita patut mulai meragukan kemampuan manajemen MURI dalam menilai rekor, walaupun tidak perlu mempertanyakan tentang rekor-rekor yang sudah diberikan. Lhat saja, itu di acara yang sama, tas seukuran beberapa meter dapat rekor, tetapi rapa-i tidak. Apakah manajemen MURI serius?

Tahukah Anda bagaimana orang menyiapkan diri untuk memainkan rapa-i, apakah itu sebanding dengan rebana, apalagi sebuah tas? Silakan telusuri sendiri karena anda penilai sebuah rekor.

Aku tidak mahu bicara lebih banyak tentang itu, ini bukan seminar tentang perkusi dan lagi bukan sebuah buku. Yang paling menentukan harus anda tahu adalah, rapa-i itu bukan sebuah alat musik, akan tetapi adalah musik itu sendiri, sedangkan rebana adalah alat musik.

Aku mengatakan ini karena rapa-i merupakan dekat denganku. Ayahku, Tgk Sulaiman di Paloh Dayah, Lhokseumawe, merupakan ahli memainkan rapai uroh di kawasan. Dan, Kakekku Utoh Dadeh adalah ahli membuat rapa-i. Beliau pernah membuat rapa-i ulee. Satu dari Rapa-i ulee itu diwariskan kepada ayahku untuk dimainkan.

Apakah manajemen MURI tahu apa itu rapa-i ulee? Kalau tidak, silakan cari tahu sendiri.

Tentang rebana, di sekitar kampung kami, di sana, di Paloh, Lhokseumawe, ada sebuah grup nasyid. Mereka memainkan rebana. Jadi, antara rebana dan rapa-i itu jauh sekali berbeda. Rebana adalah alat musik. Sementara rapa-i adalah musik itu sendiri.

Sebagaimana diberitakan portalsatu.com, Ketua Dewan Kesenian Kota Lhokseumawe, Nazaruddin atau Peutuha Din, dan teman-teman seniman tradisi kecewa dengan keputusan pihak MURI.

“Faktanya Rapa-i Uroh dengan rebana jauh berbeda, yang sama hanya bentuknya sama-sama bundar. Ukurannya beda, suara yang dihasilkan beda, sejarahnya beda, materialnya kayunya beda dan banyak hal lain yang membedakan. Bila hanya dilihat sisi alat musik perkusi non moderen, ini sangat naif," kata Peutuha Din.

Ia berharap, keputusan MURI terhadap atraksi penabuh rapai di Lapangan Hiraq ditinjau kembali, apalagi perwakilan MURI sudah melihat langsung acaranya.

“Saya masih punya harapan, atraksi teman-teman penabuh Rapai di lapangan Hiraq masuk Museum Rekor Indonesia, karena mereka sudah melihat langsung acaranya. Kemudian ini bukan sebatas pengakuan dari MURI, namun sebagai penyemangat serta bentuk apresiasi pihak-pihak lain terhadap usaha pelestarian seni budaya tradisi di Lhokseumawe,” katanya.

Di akhir wawancara, Peutuha Din menjelaskan, ada sekitar 1800 penabuh Rapa-i Uroh yang tersebar di empat kecamatan, Blang Mangat, Muara Dua, Muara Satu dan Banda Sakti. Ada sekitar 27 grup dengan berbagai jenjang umur, bahkan seratusan anggota rapai masih tergolong anak-anak.

Sementara, Manajemen Museum Rekor Indonesia (MURI) tidak menolak pengajuan atraksi 400 Penabuh Rapa-i Uroh di Lhokseumawe pecahkan rekor, namun pihaknya masih mengkaji ajuan tersebut, karena banyak alat seni tradisi serupa yang sudah pecahkan rekor.

Hal itu disampaikan Manager MURI Andre Perwandono kepada portalsatu.com, di tempat acara.

“Pengajuannya bukan ditolak, namun masih dikaji, dan hari ini kami datang untuk melihat langsung atraksinya dan jadi bahan untuk kajian selanjutnya,” terangnya.

Andre menjelaskan, bahan-bahan yang didapatkan langsung dari lokasi atraksi tersebut akan disampaikan langsung ke pimpinan MURI, Jaya Suprana.

“Saya juga punya harapan sama dengan kawan seniman di Lhokseumawe, saya akan ada keputusan besar yang diambil MURI terkait kegiatan ini, saya akan segera kabari pihak panitia,” terangnya.[]

Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.