20 June 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Saat Akhlak Menjadi 'Mangsa' Arus Era Globalisasi, Siapa Peduli?

...

  • Helmi Abu Bakar El-Langkawi
  • 13 October 2017 11:08 WIB

GLOBALISASI sebagai sebuah proses bergerak amat cepat dan meresap kesegala aspek kehidupan kita baik aspek ekonomi, politik, sosial budaya maupun pendidikan. Gejala khas dari proses globalisasi ini adalah kemajuan- kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi komunikasi-informasi dan teknologi transportasi. Kemajuan-kemajuan teknologi rupanya mempengaruhi begitu kuat struktur –struktur ekonomi, politik, sosial budaya dan pendidikan  sehingga globalisasi menjadi realita yang tidak terelakkan dan menantang. 

Namun, globalisasi sebagai suatu proses bersifat ambivalen satu sisi membuka peluang besar untuk perkembangan manusia dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, akan tetapi sisi lain peradaban modern yang semakin dikuasai oleh budaya ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini tampak semakin lepas dari kendali dan pertimbangan etis.

Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa kemajuan manusia di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi akibat globalisasi tidak selalu sebanding dengan peningkatan di bidang akhlak. Dalam satu sisi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memang membuat manusia lebih mudah menyelesaikan persoalan hidup, namun disisi lain berdampak negatif ketika ilmu pengetahuan dan teknologi tidak lagi berfungsi sebagai pembebas manusia, melainkan justru membelenggu dan menguasai manusia.

Arus Globalisasi ternyata berhasil mendobrak dinding tatanan akhlak tradisional berupa adat istiadat dan kebiasaan luhur nenek moyang manusia. Wujud nilai-nilai akhlak berupa penghormatan sesama manusia, tanggung jawab, kejujuran, kerukunan dan kesetiakawanan lambat laun digeser oleh otonomi manusia yang mendewakan kebebasan. Malah, ada yang memandang dirinya sebagai kebebasan, sehingga pihak lain tidak berhak mengaturnya. Kebebasan ini sering mengkondisikan “homo homini lupus”, manusia yang tidak mengenal batas-batas hak dan wewenang dalam kehidupan sosial.

Pergeseran peran norma akhlak khususnya terjadi pada masa revolusi perancis yang menjadi simbol kebebasan segala zaman. Dalam humanisme baru ini manusia modern makin meninggalkan nilai-nilai baku. Manusia menjadikan dirinya sebagai aturan dan cenderung melepaskan diri dari keterikatan normatif yang dianggap ketinggalan zaman. Manusia mengalami diri sebagai otonomi yang berkuasa penuh atas dirinya sendiri. Ini tercermin dari sikap manusia yang tidak hanya ingin mengolah alam semesta namun lebih ingin menguasai demi kepentingan pribadi.

Pandangan hidup yang mengagungkan kebebasan personal umumnya akan mendorong manusia untuk mendahulukan kepentingan pribadi. Yang diutamakan adalah kebebasan pribadi, dan hak-hak orang lain dilupakan. Sikap ini seringkali menjerumuskan manusia ke dalam perbenturan dengan pihak lain dalam kehidupan sosial. Penyanjung kebebasan seolah-olah tinggal diluar entitas sosial dan tidak berdampingan dengan sesama. Akibatnya, nilai-nilai akhlak seringkali diabaikan dalam pandangan hidup ini. 

Arus globalisasi memang akan terus merambah kesetiap penjuru dan sendi-sendi kehidupan. Oleh karena itu yang menjadi persoalan bukanlah bagaimana menghentikan laju globalisasi, tetapi bagaimana menumbuhkan kesadaran dan komitmen manusia kepada nilai-nilai akhlak, sehingga dampak negatif dari globalisasi dapat dikendalikan. Sebab ketidakpedulian terhadap nilai-nilai akan mengakibatkan arah dan tujuan perkembangan peradaban manusia menjadi tidak jelas. Akibat selanjutnya manusia akan terpuruk dalam kehampaan makna hidup, alienasi yang mencekam, betapapun ia dilingkupi oleh kekayaan materiil yang melimpah.

Noeng Muhadjir menegaskan bahwa masyarakat manusia dapat survive karena adanya komitmen pada nilai-nilai akhlak. Bila semua orang tidak pernah menaati janjinya, tidak acuh pada tanggung jawabnya, mempermainkan patokan-patokan akhlakitas, dapat dibayangkan hancurnya masyarakat manusia. Di sinilah arti penting pendidikan akhlak.

Dengan pendidikan, subyek didik dapat dibantu memahami esensi dan arti penting nilai-nilai akhlak dan mampu mengembangkan segala potensinya mewujudkan nilai-nilai akhlak itu dalam perilaku nyata, baik nilai-nilai ilahi maupun insani. Lantas siapakah yang peduli saat akhlak generasi bangsa telah di "mangsa"oleh arus globalisasi?[]

Referensi penulis:

1.       Aria Dewanta, Upaya Merumuskan Etika Ekologi Global (Basis No. 01-02 Tahun  Ke-52, Januari-Februari 2003) hal. 20

2.       Sudiarja, SJ. “Pendahuluan” Dalam Budi Susanto, Et Al. , Nilai-Nilai Etis Dan Kekuasaan Utopis : Panorama Praksis Etika Indonesia Modern (Yogyakarta : Kanisius, 1992) hal.6

3.       Endang Daruni Asdi, Imperatif Kategoris Dalam Filsafat Akhlak Immanuel Kant Dalam Jurnal Filsafat Edisi 23 Nopember 1995 ( Yogyakarta:Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada)  

4.       William Chang, Pendidikan Nilai-Nilai Akhlak, Kompas Senin 3 Mei 1999

5.       Noeng Muhadjir, Ilmu Pendidikan Dan Perubahan Sosial Suatu Teori Pendidikan, (Yogyakarta: Raka Sarasin, 1993) hal. 12

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.