29 September 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Saat Perempuan Menjadi Mulia

...

  • portalsatu.com
  • 21 April 2020 22:30 WIB

@shutterstock
@shutterstock

Oleh Taufik Sentana*

Tantangan modern dalam membicarakan perempuan adalah tentang cara pandang kita yang tereduksi oleh kemajuan Barat (termasuk Eropa). Setelah kehancuran imperium Islam, estapet kemajuan (yang disebut maju)  lebih didominasi oleh paham paham yang bersumber dari "konsep" pikiran  manusia.

Konsep yang paling menonjol dalam topik ini, katakanlah "kebebasan". Seakan, kebebasan yang dimaksud Barat  tentang perempuan akan mengangkat derejat mereka. Maka tak usah kita menganalisa dalil dalil, cukup kita perhatikan saja bagaimana perempuan sekarang menilai dirinya. Instrumennya bisa kita lihat dari ramainya iklan iklan dan program televisi (media massa)  yang cenderung  mengeksploitasi "makna" kebebasan itu berdasarkan hanya pada prinsip "berekspresi", atau pada bidang lain disebut kesetaraan gender serta new feminisme.

Kita tidak menafikan, adanya beberapa kasus tentang "kekerasan" pada perempuan dalam keluarga atau sektor kerja. Tapi itu tidak bisa diklaim sebagai kesalahan ajaran Islam. Melainkan karena faktor pemahaman individu tentang keislamannya dan faktor sosiologis dimana Islam itu diterapkan.

Sejatinya, sebagai agama yang sejalan dengan fitrah dan kodrat perempuan, Islam tidaklah pula menjadi yang menakutkan dalam "kemajuan Barat".  Sebab semua yang ditawarkan Islam bagi kehidupan perempuan justeru memuliakannya, menjaga zahir dan batinnya serta memperbagus tatanan sosial masyarakatnya.

Dalam skala keluarga nilai harkat perempuan telah dijaga oleh Islam, misalnya dengan memisahkan anak laki dan perempuan dalam usia sepuluh tahun. Memberikan batasan aurat secara fisik dan aurat secara kondisi dengan meminta izin masuk kamar pada waktu tertentu. Dan hal lain berkaitan dengan pola interaksi si perempuan serta pokok hukum syariat yang umum ataupun khusus. 

Adapun tentang kesetaraan, Islam telah menetapkan "kesetaraan" itu sejalan dengan ketaqwaan dan kesesuaian antara hak dan kewajiban. 

Bila "terkondisikan" oleh kita bahwa kaum lelaki lebih "tinggi" dominasinya, justeru disebabkan karena kaum lelaki itu akan dimintai tanggung jawab yang lebih secara moral dan hukum. Sedangkan secara praktis, tidak ada anjuran (termasuk kewajiban) dalam Islam yang merendahkan perempuan. 

Anggapan merendahkan itu justeru datang kemudian, dan Barat sendiripun sedang mengalami " kegamangan" sendiri akibat " pembebasan" mereka terhadap perempuan.[]

*Peminat kajian sosial-budaya
Ikatan Dai Indonesia. Kab. Aceh Barat.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.