13 November 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Saat Simpati Diperebutkan

...

  • PORTALSATU
  • 31 October 2018 10:30 WIB

Ilustrasi. Foto via beritagar.id
Ilustrasi. Foto via beritagar.id

Oleh Taufik Sentana*

Sebagai makhluk sosial dan dinamis, simpati menjadi unsur pembangun interaksi. Idealnya simpati menerbitkan penghargaan, penghormatan dan pengakuan. Simpati dapat dikatakan sebagai sikap yang muncul karena kesan yang baik.

Dalam kultur yang mengglobal seperti sekarang, kesan baik bisa diproduksi dan bisa direkayasa. Singkatnya, simpati bisa (atau telah?) menjadi industri. Itulah kenapa banyak iklan yang menopang pendapatan perusahaan televisi, misalnya. Iklan-iklan tersebut bukan hanya untuk mengenalkan produk, tapi juga membujuk, membumbuinya dengan fantasi dan metafora yang tinggi. Bahkan, pihak perusahaan menganggap iklan tersebut sebagai bentuk edukasi. Padahal, edukasi yang bermakna mendidik sangat jauh dari fungsi iklan.

Dalam praktiknya, simpati yang kita ulas di sini, muncul dari proses yang panjang. Sikap itu muncul berdasarkan pengalaman interaksi antarindividu. Dari mengenal, saling memahami, silaturahim, kepercayaan dan partisipasi.

Menilik ke ranah politik

Bila kita tilik ke ruang politik, simpati dan usaha untuk memperolehnya muncul dengan ragam bentuk dan metode. Dari skala nasional ataupun lokal. Dari yang spontan hingga simpati yang terkondisi, entah oleh sentimen atau kepentingan.

Masih dari sudut kebiasaan kita secara politis, simpati yang paling banyak diperebutkan adalah simpati kaum Hawa, ataupun kaum emak-emak, kaum muda dan milenial, serta masyarakat "kelas bawah". Bagaimana dengan simpati dari kaum profesional, pengusaha dan kelas "elite?" Simpati mereka berdasarkan motif-motif yang lebih khusus, semisal hubungan pribadi dan keuntungan timbal-balik.

Kita sebagai masyarakat awam (umum), lebih menginginkan simpati yang terbit secara alami, naluriah yang murni. Simpati yang terbit karena kepercayaan dan dukungan kebenaran. Bukan simpati musiman, penuh rekayasa dan dibuat-buat.[]

*Taufik Sentana
Guru dan bergiat di literasi pendidikan, sosial dan budaya.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.