26 June 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia

Opini
Saatnya Takbir Kemenangan

...

  • PORTALSATU
  • 05 June 2019 22:30 WIB

Ilustrasi. Foto: liputan6
Ilustrasi. Foto: liputan6

Oleh: Nursalmi, S.Ag (Da’iyah Kota Banda Aceh) 

Geudam geudum Tambo geupeh

Tanda jadeh Uroe raya

Aneuk meit cut cut

Sok bajee baro

Di tungku linto sok bajee kemeja

Itulah sya’ir yang biasa saya dengar saat menjelang lebaran di waktu kecil saya. Anak anak bergembira ria menyambut hari raya. Tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, sama sama merasakan hari kemenangan itu. Dulu anak anak tidak pernah mengetahui musim paceklik ataupun moneter. Yang penting hari raya tetap bergembira. 

Sekarang gema takbir mulai terdengar dimana mana, di mesjid mesjid, anak anak juga mengumandangkannya di lorong lorong dengan suka cita menyambut hari raya tiba. Ditambah lagi dengan gema takbir bersama iring iringan mobil yang telah dihias sedemikian rupa, sebagai wujud kegembiraan yang dirasakan untuk menyambut datangnya hari kemenangan. 

Kita telah berhasil melewati masa masa training, pelatihan baik jasmani maupun ruhani selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. Sekarang kita memasuki hari kemenangan. Hari raya iedul fitri yang kita rayakan setiap tahun sebagai pertanda berakhirnya puasa Ramadhan. Setiap selesai suatu ibadah dianjurkan untuk beristighfar, memohon ampunan terhadap kesalahan atau kekurangan saat beribadah. Seperti setelah selesai shalat, dan setelah memperoleh kemenangan dalam perjanjian hudaibiyah. 

Setelah selesai melaksanakan ibadah puasa, Allah menganjurkan kita untuk bertakbir mengagungkan asma-Nya yang telah memberikan kita banyak kebaikan dan keberkahan Ramadhan, mendapat petunjuk sehingga kita menjadi orang orang yang bersyukur terhadap nikmat-Nya, dan mampu melaksanakan ibadah puasa, menahan diri dari lapar dan dahaga, serta menahan diri dari hal hal yang dapat menghilangkan pahala puasa selama Ramadhan, untuk meraih gelar muttaqin. Allah SWT berfirman (yang artinya),

“Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”( QS. Al-Baqarah: 185). 

Allahu Akbar... Allahu Akbar.... Allahu Akbar.... 

La Ilaaha illallahu wallahu Akbar

Allahu Akbar Walillahilhamd

Perasaan gembira mendengar kalimat takbir bergema, rasanya dapat menjadi obat untuk menghilangkan perasaan sedih karena berpisah dengan Ramadhan. Begitulah bukti kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, menutupi kesedihan kita dengan memberikan kegembiraan. Menggantikan rasa lelah kita selama Ramadhan dengan hari raya kemenangan. 

Idul fitri artinya kembali kepada kesucian. Seperti bayi yang baru lahir dari rahim ibunya dalam keadaan fithrah (suci). Semoga Allah menerima amal ibadah kita selama Ramadhan, mengampuni dosa dosa kita, agar kita keluar dari Ramadhan sudah bersih dari dosa dan suci seperti bayi yang baru lahir dari rahim ibunya.  

Kemudian kita bermohon kepada Allah melalui doa doa yang kita panjatkan, perbanyaklah doa karena Allah itu dekat dengan hamba-Nya dan mengabulkan setiap permohonan hamba-Nya, dengan syarat kita harus memenuhi perintah-Nya. Laksanakan amal ibadah sesuai yang dicontohkan Rasul-Nya. Allah SWT berfirman (yang artinya), 

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran.”(QS.Al-Baqarah:186).

Agar doa dikabulkan, kita harus memenuhi perintah-Nya. Melaksanakan ibadah dengan benar sesuai dengan tuntunan. Belajar tata cara beribadah yang benar. Syarat shah shalat, rukun shalat, dan hal yang membatalkannya. Seperti orang yang tidak mengetahui tata cara shalat jumat atau shalat ied, dia berbicara pada saat khatib sedang berkhutbah karena dipikir itu ceramah biasa. Lebih parah lagi tanpa merasa bersalah dan tanpa malu dia telponan saat khatib sedang berkhutbah di atas mimbar. Barangkali diantara penyebab doa tidak terkabul dan pertolongan Allah masih ditunda, dikarenakan kita belum betul tata cara beribadah kepada-Nya. Ibadah hanya sekedar memenuhi kewajiban, dan ikut ikutan tanpa berilmu terlebih dahulu. Atau ibadah sekedar siap saja tanpa menghadirkan hati di dalamnya. Atau hati memang belum bersih dan suci. Ya Allah, terimalah amal ibadah kami, qabulkanlah doa kami, sempurnakanlah kekurangan kami, ingatkan kami jika kami lalai. 

“Ya Allah, Tuhan kami, terimalah amal ibadah kami, shalat kami, puasa kami, ruku’ kami, sujud kami, duduk kami, kerendahdirian kami, kekhusyu’an kami, pengabdian kami, dan sempurnakanlah apa yang kami lakukan selama kami menunaikan shalat ya Allah, ya Rabbal’alamin “. 

Allah memerintahkan kepada kita berpuasa agar kita menjadi orang bertaqwa. Sebulan penuh kita beribadah baik yang wajib maupun yang sunnah agar kita mencapai derajat muttaqin. Orang bertaqwa adalah orang yang memperoleh kemenangan di hari yang fitri. Orang bertaqwa adalah orang yang sudah bersih hatinya setelah dia lulus dari madrasah Ramadhan. Orang bertaqwa adalah orang senang melihat saudaranya sukses dan bahagia, bukan sebaliknya. 

Memasuki hari raya iedul fitri. Saling bersalaman ketika bersua, dengan kerabat, teman sejawat dan semua handai taulan. Bersalaman tidak hanya di tangan saja, namun saling memaafkan sampai ke lubuk hati yang paling dalam. Karena belum dikatakan memaafkan jika masih ada titik noda di hatinya, meskipun bersalaman sampai memcium pipi kanan dan pipi kiri. Di samping itu di hari raya dianjurkan saling berkunjung untuk bersilaturrahim antara saudara, teman dan handai taulan. Silaturrahim bukanlah  membalas kunjungan ataupun pemberian, tetapi silaturrahim adalah menyambung apa sudah terputus selama ini. Karena jika memutuskan silaturrahim dengan sesama saudaranya maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya. 

Oleh karena itu, di hari yang fitri, bersihkan hati, sucikan jiwa untuk saling memaafkan jika ada perselisihan dan sengketa. Jika itu belum bisa dilakukan maka training di madrasah Ramadhan gagal baginya, artinya tidak tuntas mengikuti tarbiyah (pendidikan) selama satu bulan. Jika di sekolah ada yang tidak tuntas ( lulus ) maka ia harus remedial (mengulang) pada tahun yang akan datang. Harus menunggu madrasah Ramadhan dibuka lagi. Menunggu Ramadhan datang lagi. Siapa yang bisa memastikan umur kita sampai ke Ramadhan tahun depan, mana tau esok atau lusa malaikat Izrail menjemput kita untuk kembali kepada Allah. 

Kemudian setelah kita lulus memproses diri untuk memperoleh nilai taqwa, maka kita harus memelihara istiqamah pasca Ramadhan. Karena sangat disayangkan bila taqwa ternodai pada hari yang fitri, dikarenakan masih ada dendam yang membara di dalam dada. Perbanyak istighfar, mohon ampun terhadap kesalahan dan dosa, semoga Ramadhan tetap hadir dalam jiwa kita ketika menjalankan kehidupan keseharian kita, meskipun dia sudah pergi jauh dari kita. 

Kepada semua kerabat, saudara dan handai taulan yang membaca tulisan ini, saya mengucapkan taqabbalallahu minna wa minkum, minna wa minkum taqabbal ya Kariim. Waj’alna minal ‘aidin wal faizin, kullu ‘amin wa antum bikhayrin, mohon maaf lahir dan bathin. 

Ghafarallahu lana wa lakum.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.