16 July 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Sekolah Mahal, antara Realita dan Dilema

...

  • portalsatu.com
  • 23 March 2019 13:00 WIB


Oleh Taufik Sentana

Praktisi Pendidikan Islam. Sangat interes terhadap kajian perubahan  sosial-budaya dan industri.

Masyarakat sudah terlanjur percaya untuk menjadikan sekolah sebagai tempat yang paling penting. Bukan semata karena secara formal dibutuhkan, tapi karena sedari awal sekolah (dalam sistem Eropa/Belanda) mencitrakan kelas sosial baru.

Mereka yang bersekolah akan memudahkan akses ke lembaga pemerintah, kemudahan dalam mendapatkan pekerjaan dan sebagai dasar yang baik untuk lanjut ke jenjang selanjutnya. Namun yang paling tampak gejalanya adalah, berpuncak pada hasrat industri, para lulusan itu "disiapkan" untuk secara tak langsung (dengan sistem kita yang rapuh, terutama karena dualisme sekolah agama dan sekolah umum) menjadi angkatan pekerja, menjadi pegawai atau karyawan.


Terjebak dalam Mesin Besar Industri

Maka tak jarang kita mendengar istilah "mencetak",  "in put dan out put", "kebutuhan pasar", dan tentu saja menyongsong "era 4.0". Kesemua kata itu mengarah pada orientasi sekolah yang terjebak (karena banyak yang tak menyadari) pada industri semata, seakan siswa dan seluruh sistem sekolah merupakan bagian dari "mesin besar industri".

Inilah yang menurut penulis sebagai realita, yang kita akan terseret ke dalamnya dan kemudian menerbitkan dilema. Karena di satu sisi sekolah sangat berat kita nafikan dan memberikan ruang dalam mengisi perkembangan diri anak. Di sisi lain, sekolah seakan menyiasati "harga" atas setiap energi dalam membangun dan mengembangkan sekolah tadi. Misal dengan fungsi sekolah swasta (konon diyakini lebih baik" dari sekolah negeri yang murah : coba lihat sekolah negeri mana yang serius mengelola program Tahfiz yang booming sekarang?), sehingga pihak sekolah bisa "bersinergi" dengan orang tua dalam menjalankan roda kehidupan sekolah (pendidikan siswa).

Maka menjamurlah beragam sekolah mahal, sejak awal masuk hingga biaya rutin bulanan/tahunan dan biaya insidentil lain seputar program sekolah. Dikatakan mahal, karena kisaran biayanya melebihi sekolah sejenis/setingkat. Tergantung "kelas sosialnya", dari kisaran 4 hingga 7 juta atau 8 hingga 20-an juta untuk biaya masuk saja.

Tentu kita perlu berbaik sangka, dengan berpersepsi bahwa penyelenggara sekolah telah dengan cermat menghitung anggaran mereka (bukan semata profit: nilai industrinya), sehingga segenap biaya tersebut sepadan dengan layanan program. Dan pihak sekolah juga menyediakan ruang kemudahan bagi mereka yang membutuhkan, baik dengan biaya subsudi, bantuan pemerintah, atau aplikasi lainnya: Agar sekolah mahal tadi terhindar dari dilema, antara melayani atau mengedepankan profit dan mengabaikan misi murni pendidikan (apalagi yang memakai embel sekolah Islam/Dayah).[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.