15 November 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


'Serangan Udara' sedang Berlangsung

...

  • PORTALSATU
  • 29 October 2018 11:40 WIB

Ilustrasi - alat peraga kampanye. @ist/net
Ilustrasi - alat peraga kampanye. @ist/net

Oleh Taufik Sentana*

Setidaknya hingga jelang April 2019 masyarakat Indonesia akan terus menyaksikan beragam alat peraga partai dan personal (untuk DPD) yang bertebaran di mana-mana. Selebihnya akan menghiasi media online, media sosial dan media konservatif. Umumnya alat peraga tersebut berisikan ajakan untuk memilih dan sebagian kecil berisi rencana program dan visi kerakyatan. Beberapa peraga ada yang mendeskripsikan sebait program kepemudaan dan kewirausahaan.

Model kampanye seperti ini memang sangat mencolok dan lumrah, karena dianggap paling mudah, minimal untuk mengenalkan diri ke publik. Belum ada penelitian yang penulis telusuri perihal penggunaan alat peraga ini di tempat-tempat terbuka.

Beberapa analisa menyebutkan bahwa yang menjadi faktor keterpilihan dalam pemilu masih didominasi oleh ketokohan, peran sosial dan citra yang dibangun untuk maksud tersebut. Sedangkan untuk sebutan dominasi politik uang akan tetap mengemuka agaknya, sebab kenyataan itu menggambarkan bahwa politik transaksional dapat mengisi ruang kebutuhan "instan" si pemilih. Di sini, penulis menggarisbawahi tentang potensi politik uang tadi, di mana  (dengan model transaksional ini) masyarakat hanyalah sebagai objek untuk maksud pilitik, hingga hendaknya pihak partai dan individu si calonlah yang mulai mengenalkan ke publik budaya politik tinggi (etis) yang tidak melanggengkan "suara berbayar".

Sekadar mengisi ruang pandang

Jadi, ramainya alat peraga yang berkaitan dengan Pemilu 2019, yang bertebaran dan menempel di mana saja hanya mengisi ruang pandang publik dan tidak berkaitan secara langsung dengan tingkat keterpilihan.

Serangan udara semacam itu, termasuk di dunia siber, memang diakui dapat memengaruhi persepsi si pemilih. Akan tetapi, faktor personal si pemilih, latar belakang dan orientasinya tak akan dapat disentuh hanya dengan serangan udara dari alat peraga tersebut. Faktor kaum, komunitas suku, misalnya dan sentimen tertentu masih akan menjadi latar pertimbangan.

Selebihnya, partai dengan pendidikan politik (baca: orientasi nilai yang baik dan asli) akan tampil sebagai perebut hati pemilih. Baik itu dengan program yang sudah dikenal luas, komitmen kader dan platformnya. Dalam hal ini, tingkat suara yang signifikan tajam akan memudahkan dalam mengusung capres sendiri pada tahun 2024.[]

*Taufik Sentana
Peminat kajian sosial budaya.
Sangat intres terhadap isu pergeseran nilai, pendidikan dan kepemimpinan.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.