06 August 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Sultan Aceh Ingin Membebaskan Nusantara dari Cengkraman Belanda

...

  • portalsatu.com
  • 14 July 2020 09:15 WIB

Surat raja Aceh Sultan Alaidin Mansyursyah kepada Sultan Abdul Majid Khan [IST]
Surat raja Aceh Sultan Alaidin Mansyursyah kepada Sultan Abdul Majid Khan [IST]

Surat raja Aceh Sultan Alaidin Mansyursyah pada tahun 1848 kepada Sultan Abdul Majid Khan menerangkan posisi kerajaan Aceh yang ingin membebaskan Nusantara dari cengkraman kolonialis Belanda. Ia meminta 12 kapal perang lengkap dengan laskarnya dari Turki.

Oleh: Tuanku Warul Walidin*

Menarik menelaah dan mengkaji secarik surat yang tersimpan rapi di Topkapi Palace Museum, Turki. Itulah surat Sultan Alaidin Mansyursyah yang dipublikasi kembali oleh seorang kurator Malay and Indonesian manuscripts dalam karya Dr Annabel Gallop dan kawan-kawan. Terima kasih yang tak terhingga kepada Dr Annabel yang telah mempublikasi naskah surat ini dalam tulisan: “Islam, Trade and Politics Across The Indian Ocean”.

Dalam surat yang tertulis dalam tulisan huruf Arab-Jawi khas tulisan yang menjadi standar surat menyurat bangsa-bangsa di Kerajaan Islam Asia Tenggara jelas menerangkan beberapa poin yang sangat tertutup rapat saat ini dan belum diketahui oleh khalayak ramai. Surat ini mengungkap beberapa aspek sudut pandang Aceh dalam percaturan hubungan international dan hubungan kerajaan Aceh dengan kerajaan-kerajaan dan wilayah lainnya di Nusantara.

Tentunya sebagai sebuah negeri yang terletak secara geografis paling dekat daratannya dengan pusat peradaban imperium dunia yaitu Rum/Turki/Konstantinopel, yang berada di arah Barat dibanding kerajaan dan wilayah lain di Nusantara, maka kesultanan Aceh memiliki pengaruh besar dalam peta percaturan international sejak 1200 Masehi. Dalam kondisi yang diuntungkan inilah seyogyanya Aceh memiliki peranan besar menjadi penggerak peradaban nusantara dari era kesultanan dahulu hingga hari ini. 

Diantara hal menarik yang dapat kita telaah dalam surat ini adalah bahwasanya kerajaan Aceh melalui Sultan Alaidin Mansyursyah sangat sedih melihat kondisi negeri-negeri di Kepulauan nusantara dengan menyebut pada baris ke-12 -13 Surat tersebut dengan petikan surat sebagai berikut :

12 - ke bawah Duli dikarena tatkala dahulu negeri Jawi sekaliannya orang muslimin dan kuatlah dengan berbuat ibadah dan tetaplah agama Islam dan sambunglah kehidupan segala orang faqir dan miskin dan lainnya dan

13 - dan sekarang sudah binasa negeri karena sudah masuk orang kafir Belanda pada satu Pulau Jawa dan serta dengan Pulau Bugis dan Pulau Bali serta dengan Pulau Borneo dan serta dengan Pulau Aceh yang setengah

Jelas dalam dua baris isi surat diatas menunjukkan Kegelisahan Sultan Mansyursyah  terhadapa kondisi negeri-negeri di nusantara yang telah diduduki oleh bangsa kolonial Belanda dengan awalnya hanya menguasai perdagangan hingga berujung pada penguasaan tatanan hukum dan pemerintahan yang diatur dengan sangat paripurna hingga menyentuh tatatan yang sangat sensitif yaitu agama.

Dengan menginjilkan beberapa wilayah terutama di kawasan timur hingga pulau Jawa dengan memasukkan misi dakwah mereka (missionaries) dengan istilah Gospel maka dapat dikatakan mulai lenyaplah keyakinan sebagian masyarakat yang ada di kawasan pendudukan Belanda tersebut menjadi separuh muslim dan separuh kristen.

Pada baris 14 adalah hal menarik lainnya, dimana Sultan Alaidin Mansyursyah mendapati bahwa pada masa itu Sultan Minangkabau telah ditangkap oleh Pemerintah Hindia-Belanda dan Sultan Mansyurysah  dimintakan bantuannya oleh para tokoh-tokoh Minangkabau untuk melawan pendudukan Belanda tersebut. Jelas dapat dipahami bahwa pada masa 1848 tersebut beberapa wilayah yang dahulunya merupakan wilayah yang tunduk di bawah Kerajaan Aceh yang mencakup hampir seluruh daratan Sumatera dan Semenanjung Malaka telah mulai lepas dan dikuasai Belanda.

Pada Baris ke 32 yang berbunyi :

32-  sebab Negeri Jawa dan Negeri Bugis dan Negeri Bali dan Negeri Borneo dan Negeri Palembang dan Negeri Minangkabau sudahlah dihukumkan oleh orang Belanda, dan sangatlah susah segala orang yang Muslim.

Dalam baris ini diterangkan oleh Sultan Mansyursyah bahwa beberapa negeri di dalam kawasan Nusantara telah dihukumkan oleh orang Belanda. Makna dihukumkan disini dapat dipahamai memiliki dua pemahaman, pertama bermakna bahwa negeri tersebut telah dipaksa menggunakan hukum Belanda dalam seluruh aspek kehidupan dan kegiatan sehari-harinya. Baik itu urusan adminsitrasi pemerintahannya maupun aturan-aturan yang berhubungan dengannya. Yang kedua bisa bermakna bahwa negeri-negeri tersebut itu telah dihukum oleh Belanda akibat telah melakukan sebuah kesalahan dan pantas mendapatkan hukuman.

Namun penulis cenderung kepada pemahaman pertama, dikarenakan bahwa sejak awal pertama memasuki dan menguasai pulau Jawa dan sekitarnya pihak Belanda telah berhasil mengambil hati dan meyakinkan para raja-raja di Jawa untuk menjalin kerjasama dengan mereka tanpa ada perlawanan dan pertentangan yang berarti. Hingga Sultan Mansyursyah melihat ada beberapa kelompok terutama para ulama di Jawa yang melihat kondisi ini sebagai ancaman bagi umat.

Pada Baris ke 38 hingga 41 merupakan puncak dari isi surat yang menerangkan maksud dan tujuan utama dari Sultan Alaidin Mansyursyah dalam hal permohonan bantuan Sultan Abdul Majid, berikut isi suratnya :

38-  menanti titah dan wasithah daripada Duli Hadarat yang di negeri Rum. Ampun Tuanku beribu kali ampun, kurnia sedekah Duli Hadarat kepada patik ke Negeri Aceh kapal perang alkadar dua belas serta laskar dalamnya barang

39-   berapa yang memadai dalam kapal itu dan tentangan belanja laskar dan belanja kapal sekaliannya di atas tanggungan patik. Jika sudah sampai ke Negeri Aceh adalah dengan ikhtiar patik semuhanya itu, dan hendaklah dengan izin

40-  Duli Hadarat kepada patik dan lainnya hendak memerang kafir Belanda itu pada tiap-tiap negeri dan tiap-tiap bandar. Dan hendaklah sedekah Duli Hadarat surat tanda alamah Duli Hadarat kepada kami semuhanya yang di dalam Negeri Jawi

41-  ilaihim Ajma’in supaya suka kami mati syahid. Itulah ihwalnya dan yang lain tiadalah patik sebutkan dalam waraqah ini melainkan Duli Hadarat periksa pada orang yang membawak surat ini karena dianya hulubalang

Jelaslah diterangkan pada baris ke 38 tujuan dari pada permohonan bantuan yang diharapkan oleh Sultan Alaidin Mansyursyah adalah bantuan 12 (dua belas) buah kapal perang komplit serta dengan isinya dan pasukan-pasukannya dari Kesultanan Turki Utsmani. Dan Sultan menerangkan bahwa belanja segala kebutuhan pasukan dan lainnya akan menjadi tanggungan Sultan Mansyurysah.

Dan puncak dari pada harapan 12 kapal perang tersebut beserta laskar dan segala isinya adalah Sultan Mansyurysah  ingin memerangi kafir Belanda di tiap-tiap negeri dan kota-kota atau pelabuhan-pelabuhan yang telah diduduki oleh Belanda dengan sempurna, seperti di Jawa, Bugis, bali, Borneo dan Palembang.

Jelas cita-cita Sultan Mansyurysah di sini sebenarnya adalah ingin membebaskan seluruh wilayah yang hari ini telah menjadi bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia yang pada 1848 tersebut berada dalam cengkraman hukum Belanda untuk dapat dibebaskan secara utuh agar kembali tegaknya agama Islam sebagai agama utama rakyatnya.

Sehingga momentum dikumandangkannya Azan kembali di Hagia Sophia/Aya Sofia setelah menanti 86 tahun lamanya sebagai Mesjid kembali menjadi titik balik kebangkitan Turki Utsmani dengan semangat bayang-bayang negeri vasalnya Aceh Darussalam dan seluruh anak negeri tanah Jawi/ Nusantara menjadikan spirit tersendiri bagi seluruh umat Islam di Nusantara walkhususan Aceh Darussalam.

Sebagaimana mengutip kata Erdogan Bey “Di mana azan berkumandang di situ tanah airku”. Demikian lah kira-kira suara hati yang sama dari Sulan Alaidin Mansyursyah Dzilullahufil’alam yang ingin membebaskan Batavia dari Pendudukan Belanda.[]

*Tuanku Warul Walidin merupakan Pang Ulee Komandan Al Asyi

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.