25 November 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Surat Terbuka untuk Rektor Unsyiah Terkait Usulan Nama Jalan Soekarno

...

  • portalsatu.com
  • 02 November 2017 14:00 WIB

BANDA ACEH - Usulan Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M. Eng, terkait penamaan salah satu jalan di Kota Banda Aceh dengan nama Ir. Soekarno, mendapat reaksi negatif dari masyarakat Aceh. Apalagi Soekarno diketahui sebagai salah satu presiden yang pernah menyakiti hati masyarakat Aceh semasa memimpin. 

Reaksi negatif ini ramai diperbincangkan di dunia maya oleh para aktivis Aceh dan netizens secara umum. Mereka menilai Rektor Unsyiah Samsul Rizal telah melupakan sejarah kelam daerah Aceh dengan usulan tersebut. Apalagi, Aceh telah memiliki jalan yang melakap nama Ir Soekarno dan Muhammad Hatta, yang ruas jalan tersebut menjadi sarana transportasi dari dan ke Bandara Sultan Iskandar Muda.

Salah satu reaksi negatif masyarakat Aceh terhadap usulan Samsul Rizal tersebut datang dari penulis buku, Haekal Afifa. Pemuda berkacamata ini menyebutkan usulan pemberian nama Soekarno untuk ruas jalan yang membentang dari Simpang Tugu Persatuan Tentara Pelajar Aceh (PTPA) sampai ke Simpang Tungkop Aceh Besar merupakan bentuk ketidaktahuan Samsul Rizal untuk mengenal tokoh-tokoh Aceh yang memiliki peran lebih besar terhadap pembangunan pendidikan di Aceh. Berikut surat terbuka Haekal Afifa yang diunggahnya di laman facebook untuk menjawab usulan Rektor Unsyiah tersebut:

Surat Terbuka Untuk Rektor Unsyiah Terkait Usulan Nama Jalan Ir. Soekarno 

Salam Pak Rektor. Semoga selalu sehat, senang dan bahagia.

* Membaca surat bapak untuk Walikota Banda Aceh terkait penghargaan kepada Ir. Soekarno dalam bentuk penabalan namanya pada salah satu jalan utama di kota Banda Aceh membuat saya menulis surat terbuka ini. Karena ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada bapak terkait hal tersebut, khususnya pertimbangan-pertimbangan historis yang bapak sebutkan dan dimuat oleh salah satu media online Aceh. Dan, anggap saja ini surat "cinta" yang tak perlu ditanggapi secara serius.

* Seharusnya, bapak selaku Guru Besar sekaligus Rektor di Universitas yang dibanggakan oleh Rakyat Aceh paham bagaimana sejarah pendidikan yang telah melahirkan peradaban besar bagi generasi di Aceh, dan tentunya paham bagaimana dan untuk siapa layaknya penghargaan itu diberikan. Bukan menafikan peran Ir. Soekarno, tapi peran para ulama Aceh jauh lebih besar dan lebih mulia dibandingkan apa yang diberikan oleh Ir. Soekarno untuk Aceh.

* Bahkan, saya mengamati sosok yang membebaskan tanah dengan susah payah untuk proyek pembangunan dua Universitas hebat itu (UIN dan Unsyiah) tidak dihargai layaknya pejuang pendidikan. Ya, Tuwanku Muhammad yang menjabat sebagai Camat Darussalam kala itu adalah tokoh yang berjuang untuk pembebasan lahan Universitas yang bapak tempati sekarang justru luput dari pandangan sejarah, bahkan dari pandangan bapak sendiri yang bergelar Guru Besar.

* Tidak hanya itu, lebih sakit lagi tidak ada satupun namanya tertera dalam buku-buku sejarah terkait dua Universitas tersebut, khususnya apa yang ditulis oleh yang mulia A. Hasjmy. Apalagi berharap namanya tertera sebagai salah satu gedung megah di kampus sebagai bentuk terimakasih kita. Padahal di belakang "Panglima" hebat ada prajurit yang telah mengantarnya di kursi kehebatan.

* Guru Besar Yang Terhormat. Mungkin bapak lupa, atau memang tidak tahu bahwa jalan terpanjang di perbatasan Aceh Besar-Banda Aceh (Dari Simpang Keutapang-Bandara Sultan Iskandar Muda) telah ditorehkan nama Ir. Soekarno-Hatta sebagai bentuk penghargaan yang tinggi dari rakyat Aceh, walaupun sebenarnya ia telah membuat air mata orang Aceh mengalir deras dengan kekuasaannya.

* Bahkan, beberapa tahun sebelumnya kami dari Institut Peradaban Aceh telah mengusulkan nama Dr. Tengku Hasan Muhammad di Tiro untuk ditabalkan sebagai nama jalan dari simpang Lambaro ke Simpang Keutapang, dengan tetap menghargai Ir. Soekarno-Hatta (dari simpang Lambaro ke Bandara). Setidaknya, walaupun Republik Indonesia sedikit alergi dengan nama itu tapi harus dimaklumi bahwa beliau adalah tokoh besar Aceh yang telah membuka mata kita.

* Terlepas, mungkin bapak tidak sependapat dengan saya untuk berterimakasih kepada beliau, tapi selayaknya bapak tau kepada siapa semestinya kita berterimakasih. Karena Aceh, memiliki banyak tokoh hebat jauh sebelum Indonesia ini ada. Bahkan Dua pendahulu bapak yang saya kagumi keilmuannya (Prof. Safwan dan Prof. Dayan) yang dihabisi oleh biék bangsat merupakan sosok yang sulit dicari tandingannya.

* Guru Besar Yang Mulia. Saya bisa memaklumi, bapak bukanlah Guru Besar dalam bidang sejarah. Sehingga bapak luput untuk mengenal tokoh-tokoh Aceh baik para Ulamanya, Intelektualnya, Senimannya atau yang lain sebagainya.

* Tapi satu hal yang harus bapak ingat, bahwa saran bapak kepada Walikota Banda Aceh terkait hal tersebut telah membuka tabir kepada saya hingga sampai kepada kesimpulan; Bahwa kita (mungkin) adalah bangsa yang kehilangan identitas. Jika seorang Guru Besar seperti bapak saja kurang paham sejarah, jangan berharap kami yang 'sikrek balôk' bisa lebih paham. Apalagi berharap, sejarah Aceh yang besar ini memiliki Fakultas Sejarah di UIN atau Unsyiah. Karena mungkin kita lebih tertarik dengan "American Corner" atau Indonesia Idol. Jujur, saya tidak paham, apa kita lupa cara berterimakasih atau kita tidak tau kepada siapa seharusnya berterimakasih!

* Demikian, mohon maaf jika kurang berkenan. Tapi yakinlah, ini hanya sekedar curhatan saya kepada bapak selaku Guru Besar yang dulu pernah saya cita-citakan. Terimakasih jika bapak berkenan membaca dengan hati yang terbuka, se-terbuka surat ini.

Peluk hangat saya,
Haekal Afifa | Ketua Institut Peradaban Aceh.

Editor: BOY NASHRUDDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.