29 June 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Tambo dalam Reaktualisasi Pilkada Aceh

...

  • Helmi Abu Bakar El-Langkawi
  • 10 January 2017 23:40 WIB

Tambo. Ilustrasi. @medanbisnisdaily.com
Tambo. Ilustrasi. @medanbisnisdaily.com

ZAMAN terus berputar di era globalisasi dan informasi ini. Terkadang nilai dan warisan endatu terlupakan dan tergilas masa dan waktu. Salah satu di antaranya tambo. Tambo merupakan salah alat musik tradisional Aceh. Membuat sebuah alat yang bernama tambo bukanlah mudah terlebih di era saat ini.

Bahan baku pembuatan tambu memang ada di sekitar kita. Melihat dari fisiknya tambo itu terbuat dari batang pohon iboh, kulit sapi yang sudah dikeringkan di terik matahari. Kulit sapi ini media utama dalam melahirkan bunyi. Terkadang ada juga kulit binatang lain yang digunakan seperti kambing atau biri-biri.
Sedangkan rotan digunakan sebagai sebagai alat peregang kulit. Bentuknya sejenis tambur dan dimainkan dengan cara dipukul. 

Pada zaman duhulu, tambo berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menandakan datangnya waktu salat dan untuk mengumpulkan warga ke meunasah guna membicarakan masalah-masalah-masalah yang ada dalam suatu kampung. Ketika ada orang meninggal, masuk waktu berbuka puasa dan acara hari besar Islam juga digunakan tambo untuk hal demikian.

Seiring zamab berganti, budaya endatu tersebut tersingkirkan dan masyarakat tidak lagi menggunakannya bahkan generasi sekarang mengenalpun tidak bagaimana sosok tambo itu. Sunnguh sangat di sayangkan. Hilangnya budaya dan identitas warisan endatu.

Pengganti tambo sekarang ini sudah jarang digunakan karena adanya teknologi modern berupa mikrofon.

Filosifi dan Maskot Tambo
Menjelang dilaksakan pesta demokrasi rakyat pada bulan Februari mendatang. Pemerintah Aceh melalui Komisi Independen Pemilihan (KIP) mencoba menggunakan tambo sebagai maskot dalam pilkada tahun 2017 ini.

Hal ini di samping sebagai menggali kembali nilai budaya Aceh yang telah di tinggalkan masyarakat dan generasi Aceh sendiri juga untuk mewarnai nilai kebersamaan dan penting masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya dalam pilkada mendatang.

Nilai kebersamaan itu dalam nuansa pilkada mendatang hendakanya dapat menumbuhkan solidariras dan ikatan kebersamaan walaupun sesama masyarakat berbeda dalam "mazhab" politiknya. Boleh berbeda pilihan dan "mazhab" politik, tetapi kita ini bersaudara dalam satu ikatan berbangsa dan sama-sama khalifah di muka bumi ini.

Tidak ada yang perlu dipedebatkan, kalah dan menang poltitik Aceh itu bukan akhir sebuah perjuangan tetap satu perahu di bawah negara berbendera sang saka merah putih. Namun yang perlu dipertanyakan apa kontribusi kita untuk pembangunan Aceh untuk saat ini dan masa depan kelak demi kelangsungan generasi penerus bangsa dan agama ini. Hendak dibawa ke mana negeri ini andai generasi penerus tidak di hiraukan?

Terlebih masa depan hakiki di yaumil mahsyar nanti. Semua akan sirna, baik jabatan, harta, kekuasan dan lainnya hanya amal salehlah yang menjadi oleh-oleh dan tabungan akhirat nantinya.

Sekali lagi Aceh yang telah lama konflik dan musibah hendaknya pilkada ini tidak menggiring Aceh lahirnya konflik baru. Siapapun yang bermain untuk mengeruk keuntungan, tetap korban masyarakat. Harapan kita semua hasil dan pra serta pasca pilkada lahirnya pemimpin yang mampu membawa Aceh yang lebih maju dan bermartabat bebas dari segala "konflik" dan KKN menuju kehidupan negeri yang bermahkotakan baldatun tayyibayun warabbul ghafur.[]

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.