01 October 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Uniknya Dakwah di PAUD dan PIUL

...

  • portalsatu.com
  • 09 August 2020 12:09 WIB

Nursalmi bertukar buku dengan kepala PAUD Inklusi [Foto: IST]
Nursalmi bertukar buku dengan kepala PAUD Inklusi [Foto: IST]

Anak-anak usia dini tidak suka pelajaran yang disampaikan secara monoton, tetapi harus ada variasi metode dalam setiap beberapa menit agar tidak membosankan. Ibu-ibu usia lanjut juga demikian. Ceramah atau kajian tidak boleh monoton, harus diiringi dengan shalawat dan syair nasehat agar tidak mengantuk.

Oleh : Nursalmi S.Ag*

Alhamdulillah wa syukurillah, saya diberi kesempatan oleh Allah untuk berkunjung ke PAUD Inklusi yang muridnya kebanyakan anak berkebutuhan khusus (ABK). Hal yang sudah lama saya inginkan. Namun saya berkunjung bukan pada waktu yang tepat, anak-anak sedang libur karena pandemi coronavirus disease 2019 (Covid-19), hanya ada beberapa anak ABK saja yang sedang menjalani terapi.

Saat saya berbincang-bincang dengan kepala sekolahnya, tiba-tiba seorang anak memanggil umi yaitu ibu kepala sekolahnya. Melihat beliau dengan tenang dan tampak menggunakan teknik khusus dalam melayaninya dengan penuh kasih sayang, saya juga berkeinginan ngobrol dengan anak tersebut karena anaknya sangat ramah.

Saya mencoba mendekatinya dan mengajaknya bicara. Dia sangat ramah dan mau menanggapi pembicaraan saya, sampai saya mengajaknya bernyanyi. Sekilas inti nyanyian saya adalah “kecil-kecil pandai menyanyi, jangan lupa pergi mengaji”.

Subhanallah saya merasa sangat sedih dengan keterbatasan saya yang tidak mampu memahami sedikitpun bahasanya karena anaknya mengalami hambatan atau kesulitan berbicara yang tidak sesuai dengan usianya. Ibu kepala sekolah menjelaskan kepada saya apa yang dibicarakan anak tersebut. Masya Allah saya terharu melihat kehebatan guru PAUD yang mampu memahami bahasa anak kesulitan dalam berbicara. Padahal beliau juga lulusan Fakultas Dakwah.

Setelah saya bicara panjang lebar dengan ibu kepala sekolah, saya melihat banyak kesamaan antara Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dengan Pendidikan Ibu Usia Lanjut (PIUL). Sama-sama mendakwahkan Islam. Bedanya PIUL tidak punya sekolah khusus seperti PAUD. PIUL ini hanya ungkapan saya saja, sangat tidak etis jika saya menyebutnya Pendidikan Anak Usia Lanjut (PAUL).

Waktu kami kuliah di fakultas dakwah, tidak ada mata kuliah khusus tentang strategi dakwah untuk anak usia dini atau untuk ibu usia lanjut serta untuk orang-orang berkebutuhan khusus. Namun ketika terjun ke lapangan kita menemukan problema ini yang sudah pasti menjadi kendala dalam penyampaian dakwah. Maka kita harus belajar ekstra untuk mencari metode yang sesuai dengan kondisi tersebut.

Memang unik ketika kita berhadapan dengan orang-orang berkebutuhan khusus, bukan hanya anak-anak, tetapi orang tua juga mengalaminya. Yang penting adalah kesabaran seorang guru atau dai dalam melayani mereka. Serta harus memiliki bahasa tubuh sehingga menjiwai dan menyatu dengan jiwa mereka. Kadang kita harus bersikap seperti mereka, berbicara seperti anak-anak, menampakkan ekspresi serius ketika mendengar ocehan atau curahan hati (curhat) mereka.

Kesamaan keunikan anak usia dini dan ibu usia lanjut di antaranya adalah; saat mengajar, kadang guru mengajar sendiri, sementara anak-anak sering kurang konsentrasi dan asyik dengan kesibukannya seperti bermain, berlarian dan sebagainya, mungkin akibat dari faktor bosan. Saat ustazah mengisi kajian, kadang ustazah juga ceramah sendiri, sementara jemaah yang sudah berusia lanjut sering ketiduran dalam majelis, mungkin akibat dari naiknya gula darah dan kolesterol.

Guru sering mengalami kendala saat mengajarkan huruf hijaiyah kepada anak-anak, karena masih susah diucapkan berhubung lidahnya belum fasih, mungkin karena baru mulai belajar atau karena giginya yang belum sempurna.  Ustazah juga mengalami kendala dalam mengajarkan makharijal huruf kepada ibu-ibu, karena lidahnya sudah tidak fasih lagi, mungkin akibat baru belajar (tidak belajar masa kecil) atau karena giginya juga sudah tidak sempurna lagi.

Guru dan ustazah mengajarkan “mathla’il farj“, anak usia dini dan ibu usia lanjut membaca “math’alil fajr”. Guru dan ustazah mengajarkan “yafqahu qauly”, mereka membaca “yaqfahu qauly”. Guru dan ustazah geleng-geleng kepala mecari metode yang tepat untuk mengajarkannya. Sabar sambil sama-sama tertawa agar mereka tidak takut dan kecewa yang membuat mereka enggan untuk belajar.

Anak-anak suka mengadu kepada gurunya terhadap sikap teman-temannya yang suka usil mengganggu kenyamanannya. Ibu-ibu suka curhat kepada ustazahnya tentang berbagai persoalan hidup yang sedang dihadapinya. Guru siap menampung semua ocehan muridnya, ustazah siap menampung semua isu hati jemaahnya. Kemudian sama-sama mencari solusi yang tepat untuk menyelesaikannya.

Anak-anak kadang suka menangis ketika masalah yang dihadapi belum terselesaikan yang membuat mereka menjadi enggan masuk sekolah. Ibu-ibu suka baper, mudah tersinggung dan sedih juga ketika problem yang dihadapi susah diselesaikan, sehingga membuat mereka enggan menghadiri majelis taklim.

Anak-anak paling suka pelajaran disampaikan lewat syair yang dilagukan gurunya, metode ini biasanya lebih cepat dipahami. Ibu-ibu juga paling suka dengan shalawat dan syair-syair nasihat. Kadang pelajaran mudah diingat jika disampaikan dengan syair. Zaman dulu syair tentang akidah, akhlak, fikih dan nasihat-nasihat diperlombakan di Aceh dalam bentuk “meurukon” agar pelajarannya bisa melekat di otak dan tidak mudah dilupakan.

Anak-anak usia dini tidak suka pelajaran yang disampaikan secara monoton, tetapi harus ada variasi metode dalam setiap beberapa menit agar tidak membosankan. Ibu-ibu usia lanjut juga demikian. Ceramah atau kajian tidak boleh monoton, harus diiringi dengan shalawat dan syair nasehat agar tidak mengantuk. Lebih senang dengan kajian yang ringan-ringan saja seperti tazkiatun nufs. Tidak suka dengan kajian yang butuh pemikiran berat, apalagi kajian siyasah Islamiyah yang membuat mereka pusing karena tidak paham.

Guru sering menerima telepon di luar jadwal tugasnya dari wali murid untuk mencari solusi terhadap masalah yang terjadi pada anaknya. Ustazah juga sering menerima telepon di luar jadwal dakwahnya dari ibu-ibu jemaahnya, bahkan sampai menjelang tengah malam untuk sekadar mendengarkan perasaannya dan mencari solusi terhadap berbagai persoalan hidup yang sedang dihadapinya. 

Melihat kondisi ini, kita teringat firman Allah SWT “Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadian(nya). Maka mengapa mereka tidak mengerti”. (QS. Yasin: 68). Allah memberikan hamba-Nya umur panjang, namun dikembalikan seperti masa kecilnya, karena sudah lemah fisik dan akalnya

Dalam hal ini, guru PAUD dan ustazah PIUL harus mempunyai kesabaran dan telaten dalam menghadapi mereka. Meyakini bahwa ini adalah amanah Allah yang diberikan kepadanya. Bersyukur karena Allah telah memilihnya untuk amanah ini karena Allah maha mengetahui kepada siapa amanah tersebut diberikan. Allah pasti memilih orang-orang super yang mampu melaksanakannya dan jika ikhlas Allah pasti membimbingnya dalam melaksanakan tugas tersebut, sehingga mampu menjiwai tugasnya dan tidak merasakan bahwa amanah ini adalah suatu beban yang berat.

Butuh banyak belajar tentang Islam secara kafah. Di antaranya tentang pendidikan Islam, mulai dari pendidikan anak usia dini sampai pendidikan ibu usia lanjut. Untuk itu kami saling tukar buku berbagi ilmu. Saya merasa sangat kurang ilmu mendidik anak usia dini, dan saya dapatkan dalam buku “Strategi Kayang di PAUD Inklusi”, hadiah langsung dari pengarangnya, ibu Saprina Siregar sekaligus kepala sekolah PAUD Inklusi.

Bersyukur kepada Allah atas segala nikmat. Semoga lelahnya para guru PAUD dan ustazah PIUL menjadi amal jariah, dan semoga Allah membalas dengan ajran ‘azhima (pahala yang besar) dan surga jannatun na’im (surga yang penuh kenikmatan ).[]

*Da'iyah

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.