21 October 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Ustaz Somad, antara Budaya Pop dan Bahasa Kultural

...

  • portalsatu.com
  • 28 December 2017 17:00 WIB

Ustaz Abdul Somad, Lc, MA (kanan memakai ridak-selendang-hijau) saat berada di Banda Aceh, 26 Desember 2017. @Ist
Ustaz Abdul Somad, Lc, MA (kanan memakai ridak-selendang-hijau) saat berada di Banda Aceh, 26 Desember 2017. @Ist

SECARA tak langsung penulis mengikuti lawatan safari dakwah Ust. Somad (Ustadz Abdul Somad) di Banda Aceh pada Selasa, 26 Des yang lalu. Saya sebut tak langsung karena saya mengikutinya dari jauh, lewat media yang diupdate langsung dari orang terdekat beliau, terutama fadhil rahmi, yang menjadi penghubung saat ia sedang kosong” beberapa jam setelah kasus deportasi yang tanpa pembelaan khusus dari (pejabat) negeri ini (mungkin para petinggi negeri seakan berucap, ‘apalah arti seorang somad dalam riuh-gempita kenegaraan kita?’); bahkan, negara kita juga (pernah) mendeportasi lebih dari puluhan orang warga asing dalam setahun, ungkap pejabat imigrasi Indonesia,; suatu bentuk kontruksi berpikir yang sangat rendah.

Jadi, kasus deportasi tersebut menjadi bagian dari kebaikan (berkah) sekaligus keberpihakan  ribuan warga Aceh yang menanti tausiyah Ust. Somad secara langsung. Sebagaimana diketahui sebelumnya bahwa beliau tidak dijadwalkan untuk hadir, apalagi sampai mengisi serangkaian acara ceramah & sillaturrahim (termasuk dengan IKAT dan IKAPDA) di beberapa tempat di jeda waktu yang sangat sempit (semoga Allah memelihara beliau dan memberinya kekuatan). Sehingga kehadiran beliau, sebagaimana kehadirannya di tempat lain, menjadikan suasana massa yang sangat ramai dan pecaaaaaah…begitu istilah yutuber.  

Hal itu tampak dari antusiasme masyarakat saat penyambutan beliau dan seremoni adat Aceh yang ditabalkan ke Ust. Somad, "Begini rupanya cara warga Aceh menyambut tamunya, sampai-sampai sayapun disuapin, (sudah lama saya tak disuapin) hingga semangat saya muncul lagi setelah ditolak pihak Hongkong,” begitu candanya selepas sesi peuseujuk (tampung tawar) di Dayah Islah.

Begitu juga dengan padatnya jama’ah saat mengikuti tausiyah beliau setelah qiyamullail menjelang subuh di mesjid Baiturrahman Banda Aceh: “Orang-orang sepertinya akan mengira bahwa jama’ah yang hadir ini adalah jama’ah shalat Juma’t atau shalat ‘id”, kata Ust. Somad diikuti tawa kecil para jama’ah. Walaupun, sebagaimana yang sering ia sampaikan, jumlah massa yang mengikuti ceramahnya tidak akan ada artinya bila tanpa ada gerakan sesudahnya. Beliau sering menekankan pentingnya investasi (gerakan) pendidikan Islam yang menyeluruh (syamil), penyadaran politik islam atau pentingnya gerakan pemuda dengan beragam minat/aktivitas; dan pesan ini ia sampaikan juga di depan ribuan jama’ah di Taman Ratu Syafiatuddin.

Dari paragrap singkat di atas, sedikitnya ada tiga pemantik analisa (baca opini) ringan yang ingin penulis sampaikan. Pertama, daya tahan. Yaitu, seberapa jauh sang ust kita dapat bertahan di tengah gempuran stigma negatifitas Islam dalam hegemoni global, ataupun banjir intoleransi yang dilabelkan kepada Islam (terkhusus pasca kasus Ahok di Jakarta), ditambah lagi dengan semakin seringnya beliau menekankan pentingnya kepemimpinan islam.

Dalam hal ini, pengalaman Ust. Somad selaku da’i dan latar belakangnya sebagai pelajar muslim yang gigih (terutama saat-saat kuliah di mana beliau tidak pernah menerima sepeserpun uang dari ibunya, hingga ibunya menyangka bahwa anaknya banyak berhutang di negeri orang) akan teruji seiring waktu, sebagaimana karang yang tak akan lepas dari hantaman ombak. Di sinilah referensi, sikap kritis dan argumentasi (terutama dalam menyiasati toleransi antarmazhab) serta ketajaman ruhiyah Ust. Somad akan ditempa.

Kedua, ranah psikologi massa. Dalam literasi massa di era informasi (terutama digital), sangat memungkinkan semua persepsi yang terbentuk dalam benak dan bawah sadar masyarakat hanyalah bagian dari menjamurnya budaya pop yang tampil lewat corong beragam media; suatu kecenderungan berbasis industrialisasi, konsumerisme dan, tentu saja kekosongan jiwa, yang disebabkan kelelahan psikis (ataupun fisikis) dalam mengikuti laju perkembangan zaman dan problematika yang semakin rumit.

Dalam tausiyahnya Ust. Somad sering ia mengingatkan, bahwa dari ‘zaman dahulu selalu ada perseteruan Baik dan Buruk, para nabi telah diutus, orang-orang shaleh dan para pejuang kebaikan  telah meninggal, tapi Baik dan Buruk akan tetap ada sebagai bagian dari ujian kita, di posisi mana kita ingin berdiri hingga akhir hayat’.

Sehingga kehadiran sosok Ust. Somad seakan menjawab dan meringankan lelah jiwa masyarakat kita serta menunjukkan betapa dahaganya kita akan hal-hal yang spiritual. Dalam ranah ini, pihak manajemen Ust. Somad (bila ada, atau sebut saja begitu), tampaknya telah berupaya sebisa mungkin untuk tidak terjebak dalam arus budaya pop, dengan meminimalisir benturan kepentingan (di mana di dalamnya ada unsur pencitraan, iklan dan/kesemuan semata yang tak sejalan dengan misi dakwah rahmatan lil’alamin) serta menerapkan pola manajemen yang sesimpel mungkin (namun tetap mempertimbangkan keamanan, kesehatan dan sebagainya). Meskipun secara materiil, nilai tayangan Ust. Somad sangat potensial di sisi eko-digital, sekaligus menjadi tantangan untuk menolak materialisme yang menjadi urat nadi budaya pop.

Ketiga, kita meniliknya dari segi bahasa kultural. Penulis mengartikan bahasa kultural sebagai media ungkap yang tidak hanya berupa kata, tapi semua unsur yang dapat membantu tecapainya kepentingan/target dahwah Ust Somad. Mengenai hal ini, di tengah renggangnya kesadaran ummat (Islam) akan kesatuan dan keunggulannya, beliau telah dianggap mampu menjadi perekat ummat (penulis lebih menyukai kalimat ini, daripada moderat, yang lacur digunakan seakan mesti sejalan dengan barat saja), dalam bahasa Alquran disebut sebagai ummatan wasyathan dan Syuhada’ ‘alannas(saksi kebenaran ajaran Islam).

Kemampuan Ust Somad dalam menggunakan bahasa kultural ini dan kerendahan hatinya untuk tidak menjadi hakim” (kecuali atas perkara yang telah tetap hukumnya) akan sangat menyejukkan bagi masyarakat. Dalam hemat penulis, metodologi dan varian dakwah beliau serta kemurnian retorikanya akan menjadikannya berhasil seperti sebutan Alquran, qaulan baalighan.

Secara praktis, sikap beliau akan unsur ini, dapat kita simak dari beberapa kajian dan ceramahnya, betapa ia sangat mengenal idiom jama’ahnya (latar belakang sosio-historis masyarakat) dan sering menggunakan fantasi audiens dalam rangka menanamkan nilai-nilai.

"Suatu hari nanti, saat anak-anak kecil yang sekarang ini hadir, telah berusia 30 tahun, mereka tentu akan masih mengingat abdul somad dan akan menelepon saya untuk bisa berceramah di mesjidnya, sembari memastikan ‘apakah saya masih hidup??!”," katanya pada suatu kesempatan.

"Atau 'potong pendek video ini, dan sampaikan ke Donald duck (trump maksudnya), bila saya harus mati, karena ada intel CIA, tidaklah saya takut karena akan dido’akan oleh orang sebanyak ini',” ungkapnya kemarin malam saat mengisi tabligh akbar di Banda Aceh, sedang saya hanya mengikutinya secara streaming.

Demikianlah, Ust Somad akan menjadi warna tersendiri bagi kemajemukan dan peliknyan tantangan dakwah Islam di Indonesia dan bahkan dunia. Semoga catatan kecil ini bermanfaat dan menjadi bagian dari upaya menghidupkan dakwah yang relevan dengan kebutuhan ummat Islam secara umum.[]

Meulaboh, 27 Desember 2017.

Penulis: Taufik Sentana, Staf Ikatan Da’i Indonesia, Aceh Barat. Peminat Kajian Sosial dan Budaya. Email: Taufiksentana@gmail.com

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.