26 June 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia

Opini
Zakat Fitrah: Mengukuhkan Solidaritas Sosial

...

  • portalsatu.com
  • 02 June 2019 23:59 WIB

Marhamah. Foto istimewa
Marhamah. Foto istimewa

Oleh: Dr. Marhamah, M.Kom.I*

Sabda Rasulullah Saw: “Zakat fitri merupakan pembersih bagi yang berpuasa dari hal-hal yang tidak bermanfaat dan kata-kata keji (yang dikerjakan waktu puasa), dan bantuan makanan untuk para fakir miskin.” (HR. Abu Daud).

Menjelang akhir Ramadhan umat Islam melaksanakan kewajiban mengeluarkan zakat al-nafs atau zakat fitrah. Zakat fitrah dalam syari’at Islam mengandung makna pengabdian manusia (ta’abbudi) kepada Allah Swt sekaligus memiliki nilai-nilai solidaritas sosial. Dalam zakat fitrah terkandung ibadah ritual sekaligus ibadah sosial. Dalam Islam, zakat menempati kedudukan tinggi dan mulia. Karena, dalam pelaksanaaannya, zakat mengandung tujuan-tujuan syar’i (maqâshid syari’at) yang agung yang mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat, baik bagi si kaya maupun si miskin.

Secara sosial, zakat fitrah menjadi sarana komunikasi antara manusia dengan manusia lain dalam sebuah tatanan kehidupan sosial dan menjadi investasi bagi pemberdayaan ekonomi umat. Tujuannya adalah melindungi dan memberikan kesejahteraan umat manusia, terutama bagi kaum yang kurang mampu. Argumen mengapa kaum yang kurang mampu lebih ditekankan dalam ajaran Islam, karena spirit ajaran Islam adalah menciptakan tatanan yang adil bagi harkat dan martabat kemanusiaan.

Zakat fitrah lebih ditujukan pada upaya penyucian (fitrah) jiwa. Sebagaimana firman Allah SWT, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. at-Taubah: 103). Sesuai dengan makna zakat itu sendiri, yang sering diartikan tumbuh, subur, suci, dan penuh kebaikan. Sejatinya zakat ini adalah salah satu bentuk dari diri seseorang yang berusaha untuk membersihkan benih-benih perbuatan buruk yang pernah dilakukan sebelumnya. 

Dan sesuai dengan waktu dalam melakukan zakat fitrah tersebut, yaitu hari raya Idul Fitri, hari yang suci dan penuh keberkahan untuk setiap orang, dan sering diartikan masyarakat Muslim sebagai hari saling bermaaf-maafan atas segala kesalahan yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Maka, pelaksanaan zakat fitrah harus diletakkan sebagai upaya penemuan esensi kemanusiaan yang suci. Sehingga di akhir Ramadhan orang-orang yang berpuasa benar-benar menjadi manusia yang bertakwa sebagai indikator dari kefitriannya.

Zakat fitrah menjadi urgen untuk melatih kepekaan sosial, mengingat budaya hedonis dan apatis semakin merebak. Hiruk pikuk kehidupan yang sangat penuh dengan ambisi membuat satu sama lain enggan peduli terhadap orang lain. Bahkan terjadi ketimpangan sosial yang semakin nyata, karena minimnya solidaritas terhadap sesama. Meruncingnya ketimpangan sosial sangat mungkin menimbulkan gesekan antarmasyarakat dan pada akhirnya akan menghancurkan persatuan. Maka, menyemai rasa solidaritas sosial dam persatuan melalui zakat fitrah memberikan pengaruh signifikan. Dan mestinya menjadikan zakat fitrah sebagai momentum untuk meningkatkan solidaritas sosial terus digaungkan, karena kebermanfaatannya tidak hanya sebatas penerimanya saja, tetapi juga sebagai dampak jangka panjang akan menumbuhkan persatuan.

Simbol Keadilan Sosial

Zakat fitrah seharusnya menjadi jalan untuk mencapai kebahagiaan hakiki, yaitu perdamaian untuk hidup berdampingan dan saling membantu sesama. Itu sebabnya dalam Islam tidak ada benturan antara yang kaya dengan yang miskin. Justru, bagaimana yang kaya dengan kelebihan hartanya itu memberikan kepada yang miskin. Implementasi keadilan sosial ini terlihat ketika ukhuwah Islamiyah (persaudaraan) diperkuat dengan ukhuwah basyariyah (solidaritas sosial), sehingga terjadi kohesivitas sosial. Dan pada akhirnya, muncul kesadaran bahwa yang kurang mampu harus dibantu serta yang lemah harus diangkat derajatnya.

Perintah menunaikan zakat ini dimaksudkan juga untuk mendidik dalam menjauhi sifat egois dan tamak, sehingga terwujud semangat berbagi dengan orang lain. Dari sudut pandangan itulah harus dilihat kewajiban membayar zakat fitrah pada bulan Ramadhan. Fitrah merupakan konsep kesucian asal pribadi manusia, yang memandang bahwa setiap individu dilahirkan dalam keadaan suci atau bersih. Karena itu, zakat fitrah merupakan kewajiban pribadi berdasarkan kesucian asalnya, namun memiliki konsekuensi sosial yang langsung dan jelas. Maka, orang yang enggan mengeluarkan zakat fitrah sama saja berlaku zalim kepada dirinya sendiri dan kapada saudaranya yang kurang mampu. Zalim kepada diri sendiri karena menutup upaya untuk menemukan jati diri yang fitri. Sementara zalim kepada orang yang kurang mampu, karena menguasai harta mereka.

Zakat fitrah seharusnya menjadi wadah untuk menampung aspirasi dalam membangun masyarakat yang berjiwa sosial, peduli sesama serta saling mengasihi dan mencintai. Hal inilah yang membawa manusia kepada kebahagiaan yang hakiki. Karena setiap kebencian tidak akan menemukan titik kebahagiaan, kecuali ia kembali pada jalan mencintai itu. Maka dengan zakat, seseorang akan memahami pentingnya menghargai dan mencintai sesama. Jika melihat sisi kebermanfaatan zakat tersebut, jika dilakukan dengan niat yang benar, maka akan mengukuhkan solidaritas sosial. Karena itu, penunaian zakat fitrah ini menjadi momen untuk terus menebar kepedulian kepada sesama. Semoga.

*Penulis adalah Dosen Komunikasi IAIN Lhokseumawe. Emailmarhamahrusdy@gmail.com

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.