15 November 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Pak Cek, Dari Medan Tempur ke Pentas Demokrasi

...

  • PORTALSATU
  • 31 July 2016 14:30 WIB

@IST
@IST

Dia seorang teuntra Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ketika konflik bersenjata berkecamuk di Tanoh Nanggroe. Pernah pula dia menjadi mualem (pelatih) pasukan GAM.

“Saya belajar (latihan tempur) dari Abdullah Syafi’ie di Cubo, sekitar tahun 1998, kemudian menjadi mualem,” kenang Saifuddin Yahya alias Pak Cek dalam perbincangan dengan portalsatu.com lewat telpon selular, Ahad, 31 Juli 2016.

Abdullah Syafi’ie adalah Panglima Besar GAM yang kemudian berpulang ke rahmatullah dalam pertempuran sengit di pedalaman Cubo, Kecamatan Bandar Baru, Pidie (sekarang Pidie Jaya), 22 Januari 2002.

Pak Cek masih ingat betul pesan Abdullah Syafi’ie tatkala Panglima GAM itu masih hidup. “Perjuangan GAM adalah perjuangan untuk rakyat, untuk kepentingan bangsa Aceh”.

***

Lahir di Gampong Meureu, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, 12 April 1968, Pak Cek berasal dari keluarga petani. Sejak kecil, Pak Cek dididik oleh orang tuanya agar ia menjadi aneuk agam yang pantang menyerah, terus bekerja keras dalam mengarungi kehidupan, dan berguna bagi orang lain. Tak lupa, orang tuanya menasihati supaya dia belajar ilmu agama, mendengarkan petuah-petuah ulama, dan bertanya kepada para ahli/pakar di bidangnya.

Kala usianya 30 tahun, Pak Cek lantas bergabung dengan GAM. Mulanya, ia menjadi kombatan. Dalam perjalanan, Pak Cek mendapat kepercayaan dari pimpinan GAM saat itu untuk memanggul jabatan  Panglima Muda GAM Daerah 22 Wilayah Aceh Rayek. Pak Cek akhirnya diangkat sebagai Wakil Panglima GAM Wilayah Aceh Rayek.

Pascadamai Aceh, Pak Cek menjabat Wakil Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Aceh Rayek. Ia kemudian juga diberi amanah menjabat Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Aceh (DPW PA) Aceh Besar sampai saat ini.

Pak Cek mengatakan, PA yang lahir dari rahim rakyat, sejak awal berkomitmen untuk memperjuangkan kepentingan Aceh. Jika masa konflik GAM berjuang dengan senjata untuk memerdekakan Aceh, kata dia, pasca-MoU Helsinki para mantan kombatan yang berada di bawah payung PA melanjutkan perjuangan lewat jalur politik untuk menyejahterakan rakyat dan memajukan daerah.

“Perjuangan kita melalui Partai Aceh untuk kepentingan Aceh terus berlanjut sampai saat ini,” ujar Pak Cek.

***

Pak Cek kini berhadapan dengan tantangan baru. Ia diusung oleh PA—yang kemudian mendapat dukungan dari sejumlah partai politik nasional/partai koalisi—sebagai bakal calon Bupati Aceh Besar 2017-2022. Mantan petempur GAM ini menyatakan siap bertarung dalam kontes demokrasi dengan mengedepankan politik santun.

“Ini bukan keinginan pribadi saya (menjadi calon bupati). Akan tetapi, karena mendapat amanah yang mulia ini, Insya Allah, saya siap. Tentunya dengan dukungan semua pihak, semua elemen, yang berkomitmen membangun Aceh Besar agar lebih maju di masa depan,” kata Pak Cek.

Belum lama ini, PA memutuskan bakal calon Wakil Bupati Aceh Besar pendamping Pak Cek adalah Juanda Djamal. Juanda merupakan aktivis Aceh. Dan, hari terakhir di bulan Juli 2016, Pak Cek-Juanda Djamal dideklarasikan oleh tim pemenangannya di Lapangan Matador.

Pak Cek berkomitmen untuk lebih mengintensifkan diskusi guna mengetahui persoalan dihadapi masyarakat Aceh Besar. Pola tatap muka, pertemuan dengan masyarakat, sudah diterapkannya selama ini, dan akan terus dilanjutkan.

“Ke depan, jika terpilih (sebagai bupati), ini harus lebih saya tingkatkan lagi. Misalnya, soal penerapan syariat Islam, saya meminta masukan dari para ulama. Soal pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pembangunan daerah, saya akan lebih maksimal lagi berdiskusi dengan semua elemen masyarakat dan para ahli,” ujar Pak Cek yang meraih gelar sarjana ekonomi dari salah satu perguruan tinggi di Sumatera Utara.

Pastinya, Pak Cek melanjutkan, untuk membangun Aceh Besar yang luas, butuh dukungan semua elemen. Itu sebabnya, kata dia, PA Aceh Besar berkoalisi dengan sejumlah parpol lainnya, dan membuka pintu lebar untuk tokoh masyarakat yang berkomitmen membangun kabupaten ini.

Aceh Rayek cukop luah, hana mungken tapeugot sidroe teuh. Maka nyang paleng peunteng, u keu lheuh teupileh, beu leubeh komit lom daripada yang tapeudjak slama nyoe,” kata Pak Cek.[] (idg)

Editor: IRMANSYAH D GUCI

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.