15 November 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Secuil Kisah Muharuddin; Teungku Dayah yang Terlibat di Pendidikan Militer GAM

...

  • portalsatu.com
  • 07 December 2015 18:04 WIB

Ketua DPR Aceh Teungku Muharuddin
Ketua DPR Aceh Teungku Muharuddin

Di Misbahul Ulum inilah darah Teungku Muhar sebagai putra Aceh bergejolak.

NAMANYA Muharuddin. Dia kerap disapa Teungku Muhar. Gelar Teungku di depan namanya tersebut bukanlah sebutan umum untuk pria berdarah Melayu. Namun, teungku yang disandangnya berasal dari latarbelakangnya sebagai pengajar di dayah.

Pria yang kini menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) ini lahir di Matang Panyang, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara. Almanak saat itu berada pada 18 Juni 1978 berdasarkan perhitungan Masehi. Dia adalah putra kelima dari delapan bersaudara buah cinta pasangan Teungku H. M. Harun dan Hj Ramlah.

Muharuddin menghabiskan waktu mudanya di pesantren, di tanah kelahirannya. Pesantren adalah dunianya semasa kecil, mulai dari mengecap pendidikan hingga menjadi pengajar.

 “Sejak lulus SMP Alue Ie Puteh di Kecamatan Baktiya, Aceh Utara, saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke dayah. Awalnya saya sempat masuk Dayah Salafiah Darul Falah Jeunieb selama dua tahun, kemudian saya lanjutkan lagi ke dayah modern Misbahul Ulum di Paloh,” ujarnya kepada portalsatu.com medio November 2015 lalu.

Di Misbahul Ulum inilah darah Teungku Muhar sebagai putra Aceh bergejolak. Dia sempat mendekam di penjara lantaran didakwa melakukan tindak pidana makar.

“Karena saat itu saya dituduh sebagai GAM. Saya disergap TNI ketika masih menimba ilmu di Pondok Pesantren Moderen Misbahul Ulum, Paloh,” ujarnya.

Pesantren yang menjadi tempat menuntut ilmu Teungku Muhar ini sebenarnya bersebelahan dengan Kompleks PT Arun, perusahaan gas alam terbesar di Lhokseumawe pada masa itu.

“Disinilah mula-mula ideologi ini muncul di hati saya. Seolah-olah saya terpanggil untuk menuntut sebuah keadilan dari pemerintah. Di sana-sini kita lihat banyak sekali perbedaan antara pekerja PT. Arun dengan masyarakat sekitar, dimana ketimpangan ekonomi yang begitu jauh berbeda,” ujarnya.

Dia mulai gemar mengikuti ceramah-ceramah yang di dalamnya berisi tentang ideologi Gerakan Aceh Merdeka. Hingga akhirnya, pria yang cakap berbahasa Inggris, Arab dan Thai ini ikut serta dalam pendidikan militer di Camp Langkawi Matang Sijeuek, Aceh Utara. Saat itu, camp ini dikomandoi oleh Teungku Said Adnan, Gubernur GAM Wilayah Pasee pada 1998.

Muharuddin yang beranjak remaja kemudian tertarik melanjutkan study ke Al Azhar, Cairo pada tahun 2000. Namun faktor ekonomi membuat cita-citanya itu harus dikubur dalam-dalam. Meskipun begitu, Teungku Muhar tetap ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

“Saat itu saya sempat ikut tes di Kemenag dengan modal hafalan Alquran 3 juz. Tapi tetap saja saya tidak lolos meski syarat yang dimintanya hanya 1 juz,” ujarnya sambil tersenyum.

Meski demikian, suami dari Syarifah Rahmah ini tidak putus asa. Semangatnya untuk mendapatkan pendidikan layak membuatnya melanglang buana ke berbagai negara. Malaysia, Thailand, Kamboja dan Timor Leste adalah negara-negara yang sempat ia kunjungi masa itu. 

Selain itu, satu-satunya penunjang agar Muhar remaja mendapat gelar sarjana adalah melalui jalur suaka politik.

“Saat itulah saya sering mencari berbagai informasi dari kawan-kawan saya yang berasal dari Aceh, yang sudah berhasil memperoleh suaka politik. Sewaktu masih di Timor Leste, saya pernah berniat mencari suaka politik ke Australia karena saya dengar prosesnya lebih mudah. Tapi ternyata sangat sulit sekali,” ujarnya lagi.

Selanjutnya, niatnya untuk memperoleh suaka politik ke luar negeri hampir terwujud saat berada di Malaysia dan Thailand. Dia mengaku saat berada di negeri jiran tersebut, ada sahabatnya yang ingin mengajaknya ke Kanada dan Norwegia melalui proses administratif di kantor UNHCR, badan PBB yang menangani masalah pengungsian.

“Tapi ketika diadakan perundingan damai (Cessation of Hostilities Agreement) tahun 2002, saya memutuskan pulang ke kampung halaman karena kangen berkumpul lagi bersama keluarga di Aceh. Tapi sayang, baru sebentar damai, Aceh kembali diterapkan Darurat Militer,” kata Muhar.

Sempat menetap di Thailand, Teungku Muhar akhirnya kembali ke Aceh. Dia kemudian mengabdikan diri sebagai ustad di Ponpes Moderen Misbahul Ulum. Menurut pria yang hobi takraw ini, aktivitas mengajar tidak lepas lepas dari kesehariannya. Sehingga warga menyebutnya “Guree Dayah”.

Selain mengajar, Muharuddin juga menyempatkan diri menjadi guide bagi jurnalis asing yang ingin meliput situasi Aceh saat darurat militer. Dia mengaku pernah mengajak wartawan asing meliput pasukan Inong Balee di wilayah Batee Iliek hingga bertemu Panglima GAM, almarhum Tgk Abdullah Syafi’ie.

“Saat itulah aparat keamanan mulai mencurigai serta menangkap saya di pesantren karena saya dituduh pro-GAM,” ujarnya.

Setelah didakwa terlibat makar, Muharuddin dijebloskan ke penjara di Aceh Utara. Selama di penjara dia turut mengajari ilmu agama untuk rekan-rekan satu sel.

“Alhamdulillah, saat itu pusat kegiatan Islam seperti pengajian dan salat Jumat kian aktif sehingga mendapat tiket haji gratis dari Pemko Aceh Utara,” ujarnya.

Setelah perjanjian damai MoU Helsinki, Tgk Muhar kembali mengabdi di pesantren serta ditunjuk sebagai Kepala Biro Penerangan KPA Wilayah Pasee. Pada 2005 lalu, Teungku Muhar mendaftarkan diri maju sebagai calon legislatif wilayah pemilihan Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe.

“Alhamdulillah hasilnya saya terpilih dengan jumlah suara ketiga terbanyak. Begitu juga saat mencalonkan diri pada Pilkada 2014 kemarin, alhamdulillah mendapat suara terbanyak di peringkat pertama,” ujarnya lagi.[] (bna)

Laporan: Taufik Ar Riffai

Editor: BOY NASHRUDDIN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.