29 June 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Benu Buloe: Memetik Hoki dari Hobi Makan

...

  • PORTALSATU
  • 23 December 2016 16:20 WIB

Benu Buloe @benubuloeasli.blogspot.co.id
Benu Buloe @benubuloeasli.blogspot.co.id

Patut dicatat, kata "buloe" berasal dari bahasa Aceh yang berarti 'sangat gemar makan'.

Jika ditanya seputar hobi, banyak yang memilih menyebutkan hobi yang terkesan "wah". Beda halnya dengan Benu Buloe sebagai host acara kuliner di televisi nasional tersebut, yang takkan sungkan menjawab, "Saya hobi makan!"

Itu juga hingga kemudian nama "Buloe" dilekatkan pada "Benu" yang menjadi panggilannya. Patut dicatat, kata "buloe" berasal dari bahasa Aceh yang berarti "sangat gemar makan".

Siapa nyana, dari hobinya itu dia mendapatkan berkah tersendiri. Dimulai dengan pekerjaan yang tak jauh-jauh dari aktivitas makan, hingga bisnis kuliner pun menambah tebal kantongnya.

Itulah cerita keseharian yang kini menjadi milik pria asal Aceh dan jebolan Universitas Syiah Kuala tersebut. Ia berseliweran di  berbagai stasiun televisi dan merambah berbagai tempat di Indonesia, tak pernah jauh-jauh dari liputan seputar kuliner alias berbagai masakan yang tak semua orang berkesempatan mencicipinya.

Baginya, dunia kuliner tak kalah menantang untuk ditelusuri dibandingkan hobi apa pun, dan juga tak kalah bergengsi. Terbukti, dia sendiri kerap menjadi referensi bagi para pemburu kuliner setiap kali ingin mengetahui atau menjajal masakan nusantara.

Berlatar belakang sebagai sarjana ekonomi dengan disiplin manajemen konsentrasi pemasaran, membuatnya lihai membangun brand dirinya sebagai "tukang icip-icip". Maka itu, berbagai stasiun TV secara bergantian menggunakan jasanya untuk  mengisi acara-acara bertopik kuliner.

Dipadukan dengan hobinya makan, di sanalah akhirnya membuka jalan karier baginya sehingga menjadi salah satu presenter kuliner  terkenal di Indonesia.

Di sanalah dia mematahkan pandangan yang kerap melekatkan program tivi berbau kuliner dengan perempuan cantik. Benu justru membuat acara-acara kuliner yang dikemas dengan jenaka, dan aksi-aksinya yang apa adanya.

Lewat profesinya itu, dia membawa dua hal sekaligus kepada para penikmati televisi dan acara kuliner; wawasan seputar dunia makanan nusantara yang sangat kaya, juga hiburan yang lahir dari kejenakaannya yang memang muncul secara alami saja.

Ada kebanggaan diperlihatkannya setiap kali membicarakan dunia makanan tersebut, terutama beraneka ragamnya makanan nusantara, yang tak dimiliki oleh banyak negara lainnya.

"Kuliner kita masuk dalam 50 kuliner terenak di dunia versi CNN 2011," katanya kepada tularin, baru-baru ini. "Itu merupakan prestasi sekaligus bukti bahwa kuliner kita Indonesia mampu bersaing dengan kuliner belahan dunia lainnya."

Dia mencontohkan dengan rendang dan nasi goreng, atau sate, yang menurut pengamatan pria bernama asli Ibnu Sakhdan tersebut selalu menjadi favorit di acara festival kuliner Indonesia, tak terkecuali di luar negeri.

"Buktinya ketika ada pasar malam di Belanda, saya juga hadir di sana, dan memang luar biasa antusiasme warga negara itu--menjajal masakan Indonesia," Benu menambahkan.

Pengetahuan luasnya seputar dunia kuliner memang tak lepas juga dari pengalamannya yang tinggi mengakrabi berbagai jenis makanan. Tak terkecuali makanan terbilang ekstrim pun pernah dicicipinya.

Dia berkisah saat berkunjung ke Yogyakarta, belalang goreng menjadi salah satu makanan yang dicoba olehnya. Sayangnya, karena dia sendiri menderita alergi, jadi sehabis mengudap makanan tersebut justru membuat badannya gatal-gatal.

Selain itu? "Pernah juga saya nyobain menu ulat sagu goreng di Prapat, Sumatra Utara," katanya lagi. "Tapi gak ketelan karena keburu muntah karena merasa geli sendiri."

Dia mengakui, meski akrab dengan dunia kuliner namun usaha kulinernya sendiri kerap kali jatuh bangun. Persoalannya, dia harus membagi waktunya di dunia broadcasting yang sangat menyita waktunya. Terlebih sejauh ini, dunia pertelevisian itu masih menjadi konsentrasinya sejauh ini, mengabarkan seputar makanan kepada dunia lewat udara.

"Ya, saat ini saya masih fokus di dunia broadcasting," dia berterus terang. "Sementara usaha kuliner masih jatuh bangun."

Tapi tak berarti dia melupakan bisnis kuliner yang telah dijalani sekitar empat tahun terakhir. Bersama teman-temannya, dia masih  terus berusaha menggarap bisnis tersebut di sisa waktunya.

Makanan khas Aceh menjadi pilihannya untuk usaha pribadinya itu lantaran menilai di Jakarta banyak masyarakat yang penasaran dengan makanan dari ujung Sumatra tersebut.

Walaupun dia juga mengakui, itupun dijalani dengan susah payah, terlebih dia harus bersaing dengan pebisnis besar di Jakarta.

Menurutnya, para kompetitor di ibu kota ini memang berat. "Ya, komplit banget karena banyak pemodal yang berani jor-joran dan yang tak mampu bersaing akan tersingkir. Tapi saya menyebut ini sebagai seleksi alam," dia menambahkan.

Benoe menilai, beratnya persaingan tak menjadi masalah, dan bahkan dia menganjurkan untuk tak pernah takut memulai karena ada banyak strategi yang bisa dilakukan walaupun itu membutuhkan kerja keras tersendiri.

"Sebab memang ada strategi untuk itu selain kita pun harus memiliki perhitungan yang matang," ujarnya lebih jauh. "Pemanfaatan  sosial media juga penting, karena hampir 80 juta penduduk kita menggunakan sosmed, dan 50 persen dari jumlah itu adalah pengguna aktif. Jadi itu akan lebih mudah untuk promosi."

Terutama makanan Aceh, katanya, tetap masih sangat menarik karena memiliki kekhasan tersendiri. "Dominan rempah, pedas, dan asam," ucapnya lagi. "Itu menjadi daya tarik tersendiri dan terbukti dari mulai banyaknya kuliner Aceh diterima di berbagai daerah."

Dia mencontohkan dengan mie Aceh. Menurutnya makanan tersendiri saat ini sudah ada di hampir seluruh Indonesia, tak terkecuali  juga kue-kue khas, selain kopi Aceh yang memiliki brand tersendiri di mata penikmat minuman identik dengan warna hitam itu.

Di luar itu, sosok yang oleh sebagian fan-nya memberi julukan "Raja Makan" kepadanya, juga berterus terang ingin mengangkat seputar kuliner daerah asalnya, Aceh. Dia melakukan itu lewat blognya, www.benubuloe.com dan instagram @benubuloe.

"Itu semua saya gunakan untuk dokumentasi dan promosi kuliner Aceh," kata lagi.

Selain itu, setiap hari Minggu pukul 10 pagi, dia selalu ada di acara bertajuk Food Story di KOMPAS.TV. Hal itu diyakininya akan turut membantu memuluskan salah satu impiannya, agar masakan daerah lebih terkenal.* | sumber : tularin.com

Editor: IHAN NURDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.