21 June 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia

Dikontrak Kemendes dan Kemenpora
Berawal dari Waiters, Anak Buruh Cuci Ini Sukses Jadi Barista di Jakarta

...

  • CUT ISLAMANDA
  • 07 February 2019 11:30 WIB

Novita Riantika. Foto: istimewa
Novita Riantika. Foto: istimewa

LHOKSEUMAWE - Berawal dari niat membantu menopang perekonomian keluarga, dara berparas manis ini sempat menjadi waiters di salah satu warung kopi di Lhokseumawe. Ketertarikannya terhadap cara penyajian kopi saring secara tradisional, perlahan tapi pasti mengubah hidupnya menjadi lebih baik.

“Saya hanya lulusan SMA, tidak banyak yang bisa saya lakukan dengan itu. Karena tuntutan hidup, saya pun bekerja sebagai seorang waiters yang merangkap kasir di Abuwa Kupi, Lhokseumawe. Saat itu bukan rasa malu atau gengsi yang saya pikirkan, namun bagaimana caranya saya bekerja secara halal membantu perekonomian keluarga,” ujar Novita Riantika kepada portalsatu.com, Selasa, 5 Februari 2019, malam.

Melalui telepon seluler, Ika, demikian gadis ini disapa, mengisahkan, setelah orangtuanya berpisah (cerai), ia bersama abang (Hendra Firmansyah) dan adik (Riski Maulana) tinggal bersama ibunya (Marlaini).

“Sejak ayah dan ibu pisah, kami tinggal bersama ibu yang menghidupi kami dengan menjadi buruh cuci pakaian orang lain. Selain untuk mandiri, saya juga bekerja untuk membantu meringankan beban ibu. Jika suatu saat punya uang, saya ingin kuliah. Namun fokus saya saat ini, saya ingin adik saya yang melanjutkan pendidikan ke universitas. Abang saya sudah berkeluarga dan tinggal di Palembang, sementara adik saya baru lulus SMA (di Lhokseumawe),” ungkap Ika.

Ketika menjadi waiters pada tahun 2015, Ika sering melihat rekan kerjanya yang menyaring kopi Aceh secara tradisional. Karena rasa penasaran, Ika pun mencoba belajar menyaring kopi. 

“Saat saya menyaring kopi dan menariknya dari satu wadah ke wadah lainnya, owner Abuwa Kupi melihat, hingga diberilah kepercayaan untuk belajar nyaring kopi. Setiap harinya saya terus belajar dan berkeinginan menjadi seorang barista profesional. Selain memang doyan ngopi, saya juga ingin memperkenalkan kopi saring dan teh tarek Aceh lebih luas lagi. Saya tertantang menjadi barista, karena meracik kopi saring Aceh butuh keterampilan dan seni, hingga nantinya akan didapatkan cita rasa kopi yang khas,” ucap dara kelahiran Panggoi, Muara Dua, Lhokseumawe, 25 November 1996 silam itu.

Beranjak dari Abuwa Kupi, Ika sempat pindah kerja ke Corner Coffee Lhokseumawe hingga akhirnya mendapat tawaran kerja di kafe teh tarik di kawasan Jakarta Selatan. Melihat kesempatan baik hadir di depan mata, awal 2018 lalu Ika memilih hijrah ke Jakarta.

“Menjadi seorang penyaring kopi atau yang lebih dikenal barista tentunya ada suka dukanya. Cemoohan pasti ada, pro dan kontra, namun lebih banyak yang mendukung. Bagi yang merendahkan atau mencemooh, saya tidak terlalu ambil pusing, malah itu menjadi motivasi untuk Ika agar semakin baik lagi ke depannya,” kata Ika.

Setelah pindah ke Jakarta, Ika dikontrak oleh Kemendes yang bekerja sama dengan Kemenpora dalam acara ASIAN GAMES 2018 di Jakarta. Anak kedua dari tiga bersaudara itu juga dikontrak sebagai barista dalam event Sail Indonesia Moyo Tambora di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat pada 2018 lalu.

“Berbicara soal perbedaan (perubahan) pasti ada, tentunya ada perbandingan antara dulu dan sekarang. Kalau sekarang Insya Allah, semua kebutuhan tercukupi. Insya Allah, jika ada rezeki saya ingin pulang ke Aceh. Namun sampai sekarang masih terikat kerja sama dengan Kemendes, jika ada event dipanggil," ujar Ika.

Ika menyatakan, "Belajar dari pengalaman pribadi, kesuksesan itu tidak datang secara instan, semua butuh usaha, tekad dan doa. Jika kita yakin, kita pasti bisa menjadi apa yang kita inginkan. Hasil tak akan mengkhianati proses, Insya Allah". []

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.