17 December 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Cerita Jamaluddin Mantan Kombatan yang Kini Magister Manajemen, 'Pendidikan Itu Penting'

...

  • PORTALSATU
  • 12 November 2018 21:00 WIB

Jamaluddin bin Syarifuddin mantan kombatan yang berhasil meraih Magister Manajemen. Foto: Istimewa
Jamaluddin bin Syarifuddin mantan kombatan yang berhasil meraih Magister Manajemen. Foto: Istimewa

Jamaluddin bin Syarifuddin mengikuti pendidikan militer GAM saat ia masih tercatat sebagai siswa SMA. Bahkan, ia sempat mengikuti ujian Ebtanas ketika Aceh berstatus Darurat Militer. Pascakonflik, mantan kombatan itu melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah, S1 hingga S2. Hasilnya, Jamaluddin, diwisuda sebagai Magister Manajemen, 12 November 2018.

Pria kelahiran 3 Juni 1982 itu berasal dari keluarga sederhana di Gampong Gunci, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara. Setelah tamat Sekolah Dasar tahun 1995, Jamaluddin melanjutkan Sekolah Menengah Pertama Negeri 1  Sawang hingga lulus 1999. Ia kemudian masuk Sekolah Menengah Atas PGRI Krueng Geukueh, Aceh Utara. Saat itulah, Jamal bersentuhan dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Tahun 2000, Jamal mengikuti pendidikan militer GAM. Kala itu, ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Pelatihan militer GAM diikuti Jamal dibimbing Panglima Sagoe Tgk. Di Lhokdrien Daerah I di Kecamatan Sawang.

Akhir 2002, Jamal hijrah ke Aceh Besar, bergabung dengan para kombatan di Daerah IV Aceh Rayek, di bawah komando Tgk. Muharram. Namum, setiap ujian naik kelas, ia tetap mengikuti ujian sekolah di tengah berkecamuknya perang antara aparat keamanan kontra kombatan GAM.

"Dalam situasi Darurat Militer, saya mengambil cuti untuk mengikuti Ebtanas (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional/ujian akhir sekolah), karena saya menganggap pendidikan itu penting untuk kehidupan," ujar Jamal.

Usai Ebtanas, Jamal meninggalkan pendidikan formalnya, dan memantapkan pilihan bergabung dengan GAM.

Pascakonflik

Berakhirnya konflik Aceh setelah penandatanganan kesepakatan damai atau Memorandum of Understanding (MoU) di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005, membuat Jamal turun gunung, meninggalkan atribut militer GAM dan senjata yang selama ini lekat dengannya. Ia berbaur kembali dengan masyarakat.

Jamal kemudian ditugaskan oleh Komite Peralihan Aceh (KPA) atau wadah tempat bernaung para mantan kombatan GAM, untuk memfasilitasi pengobatan ekskombatan dan masyarakat yang cacat dan yang masih terluka akibat perang. Tugas ini dijalankannya sampai 2009. Ia juga terlibat aktif dalam menyusun kebijakan program Jaminan Kesehatan Aceh atau JKA sebagai Anggota Tim Asistensi Pemerintah Aceh Bidang Kesehatan (2008 -2009). Jamal lalu diangkat sebagai Anggota Tim Anti-Korupsi Pemerintah Aceh (2009-2011).
 
Pendidikan tak dilupakannya. Jamal melanjutkan studi sarjananya di Universitas Setia Budi Mandiri, Medan, memilih Fakultas Ekonomi. Kendala demi kendala dialaminya karena lamanya meninggalkan pendidikan formal. Tekad kuat dengan dukungan kawan-kawan civil society, membuatnya terus belajar lebih baik dan berhasil menamatkan pendidikan di bangku kuliah tahun 2014. Jamal pun menyandang gelar Sarjana Ekonomi.  
 
Tahun 2015, Jamal mengambil keputusan untuk melanjutkan pendidikan pascasarjana atau magister di Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen Universitas Syiah Kuala. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan S2 dan meraih IPK 3.44, dengan judul tesis Manajemen Resolusi Konflik.

Dalam tesisnya itu, Jamal mengungkapkan 3K untuk mengimplementasikan strategi perdamain yang telah disepakati. Yakni, pertama, Komitmen/tekad yang bulat untuk mengimplementasikan hasil kesepakatan, sehingga semua kendala akan mudah diselesaikan bersama. Kedua, Kompetensi/implementasi strategi, membutuhkan kecakapan untuk melaksanakan semua kesepakatan damai tersebut. Ketiga, Koordinasi/dengan koordinasi semua potensi bisa disinergikan dengan baik. Dengan koordinasi yang matang maka potensi-potensi konflik bisa dihilangkan.

Menurut Jamal, dalam resolusi konflik, pemusnahan ala-alat perang hanya jeda dalam sebuah perang. "Jika 3K tersebut tidak digunakan dalam sebuah perdamaian, kita sadar atau tidak, gerakan idiologi lebih besar potensi untuk bangkit kembali daripada gerakan non-idiologi," katanya.

Dan, kini Jamaluddin, S.E., M.M., terlibat dalam kegiatan usaha peternakan ayam broiler.[](*)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.