15 October 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Cut Meutia, Perempuan di Panggung Aceh

...

  • PORTALSATU
  • 07 April 2019 12:00 WIB

Cut Meutia. Foto: dok./istimewa
Cut Meutia. Foto: dok./istimewa

Sejarah mencatat dengan tinta emas kegemilangan kaum perempuan Aceh di masa lalu. Bukan hanya sebagai pemimpin kerajaan karena warisan, tapi sejumlah perempuan Aceh juga memimpin perang. Ini tentu tidak sekadar diwariskan. Talenta diri dan kesadaran adalah syarat mutlak terjun ke gelanggang perang.

Namun dalam sejarah modern Aceh, tampaknya sulit menemukan srikandi-srikandi itu. Bahkan, kini sedikit sekali kaum perempuan untuk menjadi petarung. Terutama di gelanggang politik. Para aktivis perempuan di masa konflik, misalnya. Pascadamai mereka redup di telan rutinitas. Panggung-panggung protes kini tak lagi bergema.

Walau kini dengan UU Pemilu yang baru, muncul banyak perempuan menjadi politikus dadakan, mereka terkesan cuma untuk pemenuhan kuota. Bilapun ada yang terpilih, hanya sedikit yang muncul setangkas Pahlawan Cut Nyak Dhien, Malahayati atau Cut Meutia. Para perempuan masa kini lebih banyak menjadi pelengkap di lembaga-lembaganya.

Bila dulu gelanggangnya adalah palagan perang senjata. atau arena demonstrasi, palagan politik kini adalah wacana. Dan media sosial ajang paling update saat ini.

Aceh memimpikan suatu saat lahir politikus perempuan yang mendominasi panggung. Jika ada hasil riset penulis media sosial, mungkin salah satu perempuan harapan itu adalah Cut Meutia, aktivis politik Partai Aceh kelahiran Aceh Utara.

Menilik medsosnya terutama Facebook, tampak bagaimana "nyinyirnya” mahasiswa Pascasarjana Hukum Unsyiah ini. Di dinding Facebooknya, kritik sosial bertebaran. Hampir seluruh statusnya adalah berbicara soal sosial kemasyarakatan.

Mantan aktivis SMUR ini hampir tak punya urat takut. Kritiknya frontal dan logis. Dan menariknya, ia bahkan mengkritik rumah politiknya. PA dan para petingginya kerap kena “nyinyiran pedas” bila menurutnya salah.

Wanita ini mencalonkan diri untuk kedua kalinya sebagai calon anggota DPRA dari PA Dapil Aceh Utara-Lhokseumawe. Tahun 2014 lalu, Cut Meutia gagal merebut kursi, tapi dia pantang menyerah sehingga kini kembali maju. Dan Aceh butuh perempuan pemberani.

Barangkali ini yang membedakan dirinya dengan wanita aktivis lain. Semua fonomena sosial acap menjadi kritiknya. Hampir tak peduli siapa orang itu.

Seharusnya untuk Aceh saat ini membutuhkan wanita bernyali seperti ini. Pasalnya, Aceh hari ini dengan politik transaksional. Maka korupsi pun menjadi jamak.

Fonomena lain yang menarik adalah matinya suara kritis dari gedung parlemen. "Kawan-kawan (anggota dewan) seperti kehilangan daya kritis begitu terpilih. Terkesan garang kalau kepentingan terganggu," kata Cut Meutia, beberapa waktu lalu.

Bila terpilih, ibu sepasang anak ini mengaku akan tetap kritis. "Buat saya politik itu jalan, dan daya kritis adalah treatment-nya. Kalau Tuhan berkehendak saya terpilih, maka saya tetap seperti sekarang. Saya menolak menjadi pembisu, karena politisi itu senjata utamanya adalah suaranya," ujar mantan Juru Runding Perdamaian Aceh ini.

"Perempuan Aceh harus menjadi berpengaruh dalam kebijakan publik. Jadi tidak cukup dikasihani dengan aturan pro perempuan, tapi perempuan sendiri yang harus tampil dan merebut panggung," jelas Cut Meutia.

Dan seperti namanya, Cut Meutia, banyak yang berharap dia memilih “jalan sunyi”. Jalan yang ditinggal wanita Aceh kini. Menjadi pemimpin yang mumpuni. "Semua perempuan Aceh hebat di masa lalu idola saya. Dengan jalan berbeda, saya ingin mengembalikan eksistensi mereka" tegasnya.[](*)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.