13 November 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Jamal Khashoggi, dari Pewawancara Osama hingga Jadi 'Musuh' Saudi

...

  • PORTALSATU
  • 17 October 2018 17:30 WIB

Jamal Khashoggi. @BBC
Jamal Khashoggi. @BBC

RIYADH - Jamal Khashoggi, wartawan Arab Saudi yang terkenal, masuk ke konsulat negaranya di Istanbul pada 2 Oktober 2018 untuk mendapatkan dokumen pernikahan. Menurut polisi Turki, dia tidak pernah keluar lagi sejak itu.

Pihak berwenang di Istanbul percaya dia dibunuh di dalam gedung konsulat, tetapi pemerintah Saudi bersikeras dia sudah meninggalkan kantor misi diplomatik tersebut pada hari yang sama saat dia masuk.

Dia bukan wartawan sembarangan. Dia pernah tercatat sebagai penasihat keluarga Kerajaan Saudi. Namun, dalam setahun terkahir dia berubah jadi "musuh" pemerintah Saudi dengan menyuarakan kritik keras atas kebijakan rezim kerajaan, termasuk blokade Qatar dan perang di Yaman. Perubahan sikapnya membuatnya pergi ke pengasingan di Amerika Serikat (AS) sejak tahun lalu.

Khashoggi lahir di Madinah pada tahun 1958. Dia belajar administrasi bisnis di AS di Indiana State University.

Dia kemudian kembali ke Arab Saudi dan memulai kariernya sebagai wartawan pada 1980-an sebagai reporter untuk surat kabar regional yang meliput invasi Soviet ke Afghanistan.

Dari pekerjaannya itu, dia mengikuti dengan saksama kebangkitan Osama bin Laden, pendiri kelompok al-Qaeda. Khashoggi sudah beberapa kali mewawancarai Osama selama tahun 1980-an dan 1990-an.

Dia juga pernah meliput peristiwa besar lainnya di kawasan Timur Tengah, termasuk Perang Teluk pertama di Kuwait.

Pada tahun 1990-an, Khashoggi bekerja full time di Arab Saudi dan pada tahun 1999 menjadi wakil editor surat kabar Arab berbahasa Inggris.

Pada tahun 2003 dia menjadi editor surat kabar Al Watan, tetapi dipecat hanya dua bulan setelah masa jabatannya karena menerbitkan kisah-kisah yang kritis terhadap pembentukan ulama Saudi.

Setelah dipecat, dia pindah ke London dan kemudian ke Washington menjadi penasihat pers untuk Duta Besar Pangeran Turki bin-Faisal. Pangeran Turki pernah menjabat sebagai Kepala Intelijen Arab Saudi.

Pada tahun 2007, dia kembali ke bekerja untuk surat kabar Al Watan. Tapi, tiga tahun kemudian Khashoggi hengkang setelah kontroversinya berlanjut.

Menyusul pemberontakan Arab Spring pada tahun 2011, dia menyatakan dukungan untuk kelompok-kelompok Islam yang telah memperoleh kekuasaan di beberapa negara.

Pada tahun 2012 dia dipilih untuk memimpin saluran berita Al-Arab yang didukung Saudi. Media itu disebut-sebut sebagai saingan Al Jazeera yang didanai Qatar.

Tetapi Al-Arab yang bermarkas di Bahrain berhenti siaran kurang dari 24 jam setelah peluncurannya pada 2015. Musababnya, media itu mengundang tokoh oposisi terkemuka Bahrain untuk berbicara.

Dianggap sebagai suara otoritatif untuk urusan Saudi, Khashoggi juga telah menjadi kontributor reguler di outlet berita internasional.

Dalam kolom debutnya di bulan September untuk surat kabar Washington Post, dia mengatakan bahwa dia dan beberapa orang lainnya telah pergi ke pengasingan karena mereka takut ditangkap.

Dia mengatakan puluhan orang telah ditahan dalam tindakan keras terhadap para pembangkang di bawah kepemimpinan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, yang telah merintis program reformasi ekonomi dan sosial yang ambisius di negara itu.

Dia juga menuduh pemerintah Saudi telah menekan penerbit surat kabar Arab, Al-Hayat, untuk membatalkan kolomnya. Dia pernah mengaku diminta menghentikan tweet-nya untuk 1,8 juta follower-nya setelah dia memperingatkan "pelukan terlalu antusias" Saudi dengan Presiden AS terpilih tahun 2016, Donald John Trump.

"Saya telah meninggalkan rumah saya, keluarga saya dan pekerjaan saya, dan saya meninggikan suara saya. Untuk melakukan yang sebaliknya akan mengkhianati mereka yang merana di penjara. Saya dapat berbicara ketika begitu banyak yang tidak bisa. Saya ingin Anda tahu bahwa Arab Saudi tidak selalu seperti sekarang. Kami orang Saudi pantas lebih baik," tulis Khashoggi di awal-awal tinggal di pengasingan.

Dalam tulisannya dia menuduh pemerintah Saudi mengabaikan ekstremis nyata dan dia membandingkan putra mahkota dengan pemimpin Rusia, Vladimir Putin.

Karya terbaru Khashoggi diterbitkan pada 11 September 2018, dan Washington Post menerbitkan kolom kosong pada hari Jumat untuk menandai kepergiannya yang hingga kini belum kembali. Dalam kolom terakhirnya, dia mengkritik keterlibatan Saudi dalam konflik Yaman.

Kekasih Khashoggi yang akan dinikahi, Hatice Cengiz (ada yang menyebutnya Khadijah) mengatakan dia menunggu di luar Konsulat Saudi di Istanbul selama 11 jam pada 2 Oktober. Namun, kekasihnya itu tidak keluar.

Khashoggi pergi ke konsulat di Istanbul untuk mendapatkan dokumen perceraian dengan mantan istri sebagai syarat untuk menikahi kekasihnya, Hatice, perempuan asal Turki.

Hatice mengatakan kekasihnya harus menyerahkan ponsel saat memasuki konsulat, dan telah menyuruhnya untuk menghubungi seorang penasihat untuk Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan jika dia tidak kembali.

Otoritas Turki mengatakan mereka percaya Khashoggi terbunuh di dalam konsulat dan telah meminta akses masuk untuk investigasi. Namun, para pejabat Saudi mengatakan tuduhan itu tidak berdasar.

Beberapa hari sebelum kepergiannya, program Newshour BBC mewawancara Khashoggi secara tidak langsung. Dalam cuplikan audio yang dirilis, dia mengatakan bahwa dirinya tidak berpikir akan bisa kembali ke negara asalnya.

"Orang-orang yang ditangkap bahkan bukan (karena) menjadi pembangkang, mereka hanya memiliki pikiran yang independen," katanya.

"Saya tidak menyebut diri saya oposisi; saya selalu mengatakan saya hanya seorang penulis, saya ingin lingkungan yang bebas untuk menulis dan menyampaikan pikiran saya dan itulah yang saya lakukan di Washington Post."

"Mereka (Washington Post) memberi saya sebuah platform untuk menulis dengan bebas dan saya berharap saya memiliki platform itu di rumah saya," ujarnya.

Penulis: Muhaimin.[]Sumber: sindonews.com

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.