29 September 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Keren! Rifqi Kuliah Sambil Jadi 'Muge' Buku di Bireuen

...

  • PORTALSATU
  • 01 November 2016 12:40 WIB

Rifqi Maulana @istimewa
Rifqi Maulana @istimewa

BIREUEN - Mendengar kata mugee, pastinya tak asing lagi di telinga masyarakat Aceh. Kita langsung membayangkan mugee ungkot (penjual ikan keliling menggunakan sepeda motor dengan dua keranjang rotan di sisi kiri dan kanan jok belakang). Kali ini kita akan kenalan dengan seorang mahasiswa hebat yang menyambi menjadi 'mugee' buku. Motivasi terbesarnya ingin mewujudkan generasi cerdas dengan membaca.

Namanya Rifqi Maulana, asal Juli Paseh, Kabupaten Bireuen. Saat ini pemuda kelahiran 24 September 1994 silam itu tercatat sebagai mahasiswa STIE Kebangsaan Bireuen di Jurusan Ekonomi Manajemen. Secara tidak langsung ia membuktikan, tidak selamanya anak dari keluarga broken home salah pergaulan karena semua tergantung didikan orang tua.

"Orang tua sudah berpisah sejak saya duduk di bangku SMP. Saat ini saya tinggal bersama ayah dan dua adik saya. Sebagai anak sulung, saya terkadang juga menggantikan peran ibu. Mulai dari memasak, membersikan rumah, mencuci pakaian, dan lainnya," kata Rifqi Maulana kepada portalsatu.com via pesan Blackberry Messenger (BBM), Senin, 31 Oktober 2016 malam.

Selain itu, lanjutnya, ia juga ikut membantu menjaga dan merawat Kebun sawit milik ayahnya. Selama ini dari kebun itulah biaya makan dan biaya pendidikan keluarganya terpenuhi.

Selain aktif sebagai mahasiswa, Rifqi juga menjabat sebagai Ketua Balai Baca yang didirikan bersama dua temannya pada 1 Agustus 2015 lalu. Ia juga menjabat sebagai Sekretaris Asosiasi Pekerja Profesional Informasi Sekolah Indonesia (Apisi) Aceh.

Dijelaskan, Balai Baca memiliki tiga program inti, yakni Balai Baca, yaitu taman bacaan masyarakat yang juga menyediakan kursus gratis kepada anak-anak pedesaan yang kurang mampu. Kedua Mugee Buku, berupa pustaka keliling milik Balai Baca dengan impian ingin mewujudkan reading society atau masyarakat membaca. Membawa buku menggunakan keranjang, "kami menyasar pusat-pusat keramaian dan pedesaan."

Terakhir Ransel Baca yaitu  Travel for share. "Semangat yang ingin kami tanamkan adalah sambil jalan-jalan, kita juga bisa bermanfaat bagi tempat yang kita kunjungi. Ide itu muncul dari hobi travelling yang kami lakukan sambil membawa buku. Dalam beberapa momen terkadang lebih menyenangkan berbagi dengan anak-anak, dari pada sekadar jalan-jalan."

"Motivasi terbesar di Balai Baca, saya ingin adik-adik ini mendapatkan yang lebih dari apa yang saya dapat dalam hal pendidikan. Saya tidak ingin mereka terkungkung di dalam desa. Memang tidak ada yang salah dengan desa tempat tinggal mereka, hanya saja dengan sering membaca buku pikiran mereka bisa lebih bebas dan tentunya wawasan pun bertambah," kata Rifki.[]

Laporan Cut Islamanda

Editor: IHAN NURDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.